Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H menjadi momentum bagi Syarikat Islam untuk mengajak umat Islam meneladani Rasulullah SAW tidak hanya dalam kehidupan spiritual, tetapi juga melalui kepedulian sosial, penguatan persaudaraan, dan perjuangan membangun kemandirian umat.
Peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan Syarikat Islam tahun ini mengangkat tema “Meneladani Rasulullah SAW, Memperkuat Persaudaraan, Mengisi Kemerdekaan dengan Kepedulian kepada Umat.” Tema tersebut menjadi relevan karena peringatan Maulid berlangsung dalam momentum bulan kemerdekaan Republik Indonesia.
Presiden Laznah Tanfidziah Syarikat Islam Hamdan Zoelva mengatakan, sejak awal berdirinya, gerakan Syarikat Islam memiliki keterkaitan erat dengan perjuangan membangun kemerdekaan Indonesia.
“Bagi Syarikat Islam, ada tiga dasar yang selalu berkelindan, yaitu Islam, nasionalisme dan keindonesiaan. Itu merupakan satu kesatuan,” ujar Hamdan dalam keterangan tertulis, Rabu (26/8/2026).
Hamdan menjelaskan perjuangan Syarikat Islam pada masa awal tidak dapat dilepaskan dari persoalan ekonomi. Ketertinggalan ekonomi masyarakat menjadi salah satu faktor yang berdampak pada berbagai bidang kehidupan, mulai dari pendidikan hingga kesehatan.
Karena itu, Hamdan menegaskan pentingnya menghidupkan kembali semangat dasar Syarikat Islam melalui gerakan ekonomi umat. Menurutnya, kemajuan umat Islam dan kemajuan Indonesia merupakan dua hal yang saling berkaitan.
“Majunya umat Islam adalah majunya Indonesia, majunya Indonesia adalah majunya umat Islam. Meningkatnya harkat dan martabat ekonomi umat, sudah pasti meningkat juga harkat dan martabat ekonomi bangsa Indonesia,” jelasnya.
Hamdan menambahkan, keteladanan Rasulullah SAW harus dipahami sebagai spirit membangun peradaban yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga mampu menghadirkan kehidupan sosial dan ekonomi yang lebih baik.
“Cita-cita Syarikat Islam mengenai kemerdekaan sejati, yang antara lain diwujudkan melalui kemandirian politik, kemandirian ekonomi, serta kemampuan menjaga kepribadian luhur bangsa,” ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Agama Romo H. R. Muhammad Syafii menilai sejarah Indonesia tidak dapat dipisahkan dari kontribusi Syarikat Islam. Ia memberikan apresiasi terhadap upaya Syarikat Islam untuk kembali memperkuat khitah perjuangan organisasi, khususnya dalam bidang ekonomi.
Menurutnya, kepedulian terhadap anak yatim yang menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi juga memiliki makna strategis karena menyangkut masa depan bangsa.
“Kalau ingin melihat masa depan Indonesia, maka bagaimana kita memperlakukan anak-anak masa kini,” ujar Romo Muhammad Syafii.
Ia menilai santunan dan perhatian kepada anak-anak yatim bukan sekadar kegiatan sosial, tetapi juga bagian dari upaya mempersiapkan generasi masa depan Indonesia sekaligus mengenalkan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
Dari perspektif sejarah perjuangan bangsa, Wakil Menteri Haji dan Umrah Danhil Anzar Simanjuntak menekankan pentingnya kembali memahami pemikiran para tokoh pergerakan Islam, termasuk H.O.S. Tjokroaminoto.
“H.O.S. Tjokroaminoto merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah pemikiran bangsa Indonesia. Salah satu gagasan yang dikenal dari pemikirannya adalah sosialisme Islam, yang menunjukkan bagaimana nilai-nilai keislaman dapat diterjemahkan dalam gagasan sosial untuk kehidupan masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Utusan Khusus Presiden Bidang Ketahanan Pangan Muhammad Mardiono menilai Indonesia memiliki modal spiritual yang besar sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Modal tersebut perlu diterjemahkan menjadi kekuatan untuk membangun kedaulatan bangsa.
Mardiono juga mengapresiasi Syarikat Islam yang kembali menguatkan gerakan untuk menghimpun dan memberdayakan umat.
“Kemandirian harus dibangun dengan mendorong umat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga memiliki akses terhadap kegiatan produksi,” ujar Mardiono.
Di dalam rangkaian acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, penampilan dari Sulis Cinta Rasul yang membawakan lagu-lagu sholawat merupakan hal yang sangat menarik di acara Syarikat Islam. Tausiah yang disampaikan oleh KH. Fikri Haikal MZ menjadi penutup rangkaian acara tersebut. Kehadiran keduanya menjadi daya tarik bagi masyarakat umum untuk tergabung di dalam kaum Syarikat Islam itu sendiri.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H yang diselenggarakan oleh Syarikat Islam tersebut juga diisi dengan santunan bagi anak yatim dan piatu. Kegiatan ini menjadi simbol kepedulian sosial sekaligus upaya menerjemahkan keteladanan Rasulullah SAW ke dalam tindakan nyata.
Bagi Syarikat Islam, momentum Maulid Nabi dan bulan kemerdekaan menjadi pengingat bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW perlu diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama, penguatan persaudaraan, pemberdayaan ekonomi umat, serta kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia.
Dengan demikian, peringatan Maulid Nabi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat kembali semangat perjuangan umat: membangun masyarakat yang berakhlak, peduli, mandiri secara ekonomi, dan turut mengambil bagian dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia yang sejati.


















