Teks foto: Iftiqar S.A. Ponto menunjukkan dokumen/arsip sejarah dalam kegiatan kajian sejarah. (Istimewa)
METROPOLITAN POST— Arsip peninggalan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dinilai memiliki nilai penting dalam mengungkap sejarah berbagai wilayah di Nusantara. Dokumen yang berasal dari periode awal 1600-an hingga berakhirnya VOC pada 1799 itu memuat beragam catatan mengenai perdagangan, pemerintahan, kehidupan sosial, wilayah, hingga hubungan dengan masyarakat dan kerajaan setempat.
Pemerhati sejarah Sulawesi Utara, Iftiqar S.A. Ponto, mengatakan arsip VOC merupakan salah satu sumber primer yang penting untuk ditelusuri secara lebih mendalam, khususnya dalam mengungkap sejarah daerah-daerah di Nusantara. Menurutnya, berbagai informasi yang tersimpan dalam arsip tersebut dapat membantu memberikan gambaran lebih objektif mengenai perjalanan sejarah suatu wilayah.
“Penting untuk menggali dan mendalami arsip-arsip VOC karena di dalamnya terdapat informasi penting mengenai suatu daerah atau wilayah di Nusantara. Ada catatan mengenai pertambangan di suatu daerah yang pernah dilakukan pada masa VOC, termasuk catatan mengenai silsilah keluarga kerajaan,” kata Iftiqar.
Menurut Iftiqar, catatan VOC juga memiliki arti penting karena sejumlah dokumen dilengkapi dengan penanggalan yang dapat membantu peneliti menelusuri awal perkembangan suatu daerah. Dengan demikian, keberadaan arsip tersebut dapat menjadi salah satu rujukan dalam menentukan periode atau usia historis suatu wilayah berdasarkan data primer yang terdokumentasi.
Arsip VOC sendiri tersebar di sejumlah negara, antara lain Belanda, Indonesia, Sri Lanka, India, dan Afrika Selatan. Kelima negara tersebut memiliki keterkaitan dengan aktivitas VOC sebagai pusat perdagangan, pemerintahan, pos dagang maupun pertahanan pada abad ke-17 hingga ke-18.
Pentingnya arsip VOC juga tercermin dari pengakuan UNESCO yang memasukkan arsip VOC ke dalam Memory of the World (Daftar Memori Dunia) pada 9 Maret 2004. Arsip tersebut dinilai memiliki nilai sejarah yang sangat besar karena mencatat berbagai aspek kehidupan dan hubungan antarwilayah pada masa awal sejarah modern, termasuk jaringan perdagangan dan dinamika politik di Asia dan Afrika.
Iftiqar mengatakan, perhatian terhadap arsip VOC saat ini juga dilakukan melalui diskusi dan kajian bersama sejumlah pemerhati sejarah. “Hampir setiap hari saya berdiskusi secara daring dengan rekan saya, Giovanni Rivianto Babay, untuk membahas arsip VOC, khususnya yang berkaitan dengan wilayah Sulawesi Utara,” VOC dari awal berkuasa di wilayah nusantara juga berupaya menjadikan bahasa Belanda menjadi bahasa persatuan dengan mewajibkan korespondensi dengan bahasa Belanda utamanya surat-surat yang berasal dari VOC kepada penguasa di wilayah Nusantara . ujarnya.
Ia berharap ke depan arsip dan catatan sejarah dapat semakin ditempatkan sebagai rujukan penting bagi pemerintah dalam menetapkan berbagai keputusan yang berkaitan dengan sejarah daerah. Salah satunya dalam menentukan hari jadi suatu daerah yang semestinya memiliki dasar historis dan sumber dokumentasi yang kuat.
“Sejarah harus memiliki landasan atau dasar yang kuat. Karena itu, arsip dan catatan sejarah sebagai data primer perlu terus digali, dikaji dan dijadikan pedoman agar penetapan sejarah suatu daerah tidak hanya berdasarkan cerita turun-temurun, tetapi juga memiliki bukti dokumenter yang dapat dipertanggungjawabkan,” pungkas Iftiqar. (Red)











