Dari Usia 40-an Menuju Kedewasaan Qur’ani: Ihsan Kepada Orang Tua dan Syukur yang Berbuah
METROPOLITAN POST– Ayat-ayat Al-Qur’an tidak hanya dibaca, melainkan juga membaca diri manusia. Hal ini tercermin dalam QS. Al-Aḥqāf (46): 15 yang menjadi cermin kedewasaan, khususnya dalam menghadapi dua pertanyaan mendasar tentang bagaimana mengubah kesadaran akan akhirat menjadi kekuatan serta menjadikan syukur sebagai amal yang diridhai Allah. Pernyataan dan pemaparan terkait tadabbur ayat ini disampaikan oleh Yangmulia (YM) Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab dalam forum komunikasi Majelis Adat Indonesia (MAI), sebagai bagian dari pembahasan tentang nilai-nilai moral dan spiritual yang menjadi landasan kehidupan bermasyarakat.
Fase usia 40-an yang disebut sebagai “dewasa penuh” (asyuddah) dalam ayat menjadi gerbang muhasabah di mana tenaga masih ada, pengalaman telah banyak, dan bayangan akhir mulai terasa dekat. Kesadaran ini bukan untuk membuat takut, melainkan menjadi pijakan untuk lebih dalam melakukan ihsan kepada orang tua. Ihsan di sini bukan sekadar bersikap baik, melainkan kualitas moral yang meliputi adab lembut, perhatian konsisten, dan kesediaan melayani tanpa menuntut balasan.
Seperti yang ditegaskan Nabi ﷺ dalam hadis sahih, berbakti kepada orang tua termasuk amal paling utama, dengan ibu mendapatkan prioritas tiga kali lipat sebelum ayah. Kesadaran akan akhirat juga mengingatkan bahwa relasi awal dengan orang tua adalah sekolah etika pertama. Bila relasi ini rusak, kerusakan mudah merembes ke relasi lain. Oleh karena itu, bayangan akhir menjadi kekuatan untuk menyempurnakan adab mulai dari hal konkret seperti telepon yang lembut, kunjungan yang hadir secara penuh, bantuan yang tidak membuat mereka merasa beban, hingga permintaan maaf yang tulus.
Ayat ini menegaskan bahwa syukur bukan sekadar ucapan, melainkan perubahan sudut pandang di mana nikmat dilihat sebagai amanah, bukan piala ego.
Untuk menjadikan syukur benar-benar terwujud sebagai amal yang diridhai, ada langkah-langkah konkret yang bisa dilakukan: niatkan syukur jadi ibadah dengan menyadari bahwa setiap nikmat berasal dari Allah dan digunakan untuk taat-Nya (QS 14:7; QS 16:114); perbanyak mengucapkan alhamdulillāh dan berdoa untuk kesejahteraan orang tua sebagai bentuk syukur lisan (QS 17:24); lakukan ihsan kepada orang tua dengan sikap lembut, tidak membentak (QS 17:23), memenuhi kebutuhan mereka, dan mendampingi saat sakit sebagai wujud syukur amal; laksanakan ibadah seperti shalat tepat waktu dan jauhkan diri dari maksiat agar nikmat tidak digunakan untuk melawan Pemberi Nikmat (QS 2:172); berbagi dan bersedekah dari rezeki yang diberikan sebagai bentuk syukur sosial (QS 2:261), sesuai sabda Nabi ﷺ: “Siapa tidak berterima kasih kepada manusia, ia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR. Abu Dawud, sahih); serta lakukan amal kecil namun rutin karena “Amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus walau sedikit.” (HR. Bukhari–Muslim). Selain itu, syukur yang matang juga melahirkan kesalehan yang bukan hanya proyek privat, melainkan warisan moral seperti yang tercermin dalam doa ayat untuk memperbaiki keturunanku. Sementara itu, taubat sebagai mekanisme pembaruan menjadi bagian penting dari kedewasaan Qur’ani: bukan merasa paling benar, melainkan semakin lembut, bersyukur, dan cepat kembali kepada Allah.
Ringkasan:
Pemahaman tentang QS. Al-Aḥqāf (46): 15 yang disampaikan oleh YM Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab menekankan bahwa kedewasaan bukan tentang kemenangan diri, melainkan tentang kesadaran untuk kembali kepada nilai-nilai dasar yaitu ihsan, syukur, dan taubat yang matang.
Kesadaran akan akhirat menjadi kekuatan untuk memperbaiki hubungan dengan orang tua dan lingkungan sekitar, sementara syukur diwujudkan bukan hanya melalui ucapan tetapi juga tindakan konkret yang selaras dengan ridha Allah dan nilai-nilai kemanusiaan.
(Red)
Laporan : Bar.S


















