Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BERITA

Gagasan Andin Banjar Tentang Swarnadwipa hingga Javadwipa Bergema di Forum MAI

Avatar photo
219
×

Gagasan Andin Banjar Tentang Swarnadwipa hingga Javadwipa Bergema di Forum MAI

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Foto : istimewa 

METROPOLITAN POST— Forum Komunikasi Majelis Adat Indonesia (MAI) yang dihadiri para Raja, Sultan, Datuk, Ratu, serta tokoh pemangku adat se-Nusantara kembali menjadi ruang strategis refleksi kebangsaan yang sarat nilai historis dan kultural.

Example 300x600

Dalam forum tersebut, Yang Mulia Iftiqar S.A. Ponto menyampaikan paparan penting yang merupakan pengayaan sekaligus penerusan dari karya pemikiran Andin Banjar berjudul “Jejak Keemasan Nusantara: Swarnadwipa, Ratnadwipa, dan Javadwipa dalam Perspektif Sejarah dan Peradaban.”

 

Paparan tersebut menegaskan bahwa identitas Nusantara sejak masa lampau telah dikenal dunia sebagai kawasan yang kaya sumber daya, unggul dalam peradaban, serta memiliki posisi strategis dalam jaringan global.

 

Swarnadwipa: Pulau Emas yang Mendunia

Dalam pemikiran Andin Banjar yang disampaikan kembali oleh Ponto, Pulau Sumatera sejak dahulu dikenal sebagai Swarnadwipa atau “Pulau Emas”. Penamaan ini bukan sekadar legenda, melainkan diperkuat oleh berbagai catatan sejarah dari India, Tiongkok, hingga Eropa.

 

Keberadaan Sumatera sebagai pusat perdagangan emas dan komoditas bernilai tinggi juga diperkuat melalui Prasasti Nalanda (860 M) yang menyebut Raja Balaputra Dewa sebagai penguasa Swarnadwipa, menandakan peran penting kawasan ini dalam peradaban dunia.

Ratnadwipa: Pulau Permata Penuh Potensi

Lebih lanjut, Pulau Kalimantan dikenal sebagai Ratnadwipa atau “Pulau Permata”. Dalam narasi tersebut, disebutkan kisah kedatangan tokoh dari India, Mitrongga dan Atwangga dari Wangsa Sungga, yang menetap di Bakulapura (Tanjungpuri)

 

Wilayah ini diyakini menjadi salah satu pusat awal pertumbuhan peradaban dan kerajaan di Nusantara, seperti Kutai hingga Sriwijaya. Hingga saat ini, Kalimantan Selatan khususnya Martapura tetap dikenal sebagai penghasil intan dan permata bernilai tinggi.

 

Javadwipa: Lumbung Padi Sejak Masa Kuno

Sementara itu, Pulau Jawa dikenal sebagai Javadwipa atau “Pulau Padi”, sebagaimana tercatat dalam Prasasti Canggal peninggalan Mataram Kuno. Dalam prasasti tersebut, Jawa digambarkan sebagai pulau yang subur, makmur, dan menjadi pusat kehidupan agraris.

 

Hingga kini, Jawa tetap memegang peran vital sebagai tulang punggung ketahanan pangan nasional, mencerminkan kesinambungan peran historisnya dalam peradaban Nusantara.

 

Dalam penutup penyampaiannya, Yang Mulia Iftiqar S.A. Ponto menegaskan bahwa gagasan yang dirintis oleh Andin Banjar tersebut bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan fondasi kesadaran kolektif bangsa.

“Pemahaman atas jejak keemasan Nusantara adalah kekuatan moral untuk membangun masa depan. Kita bukan bangsa yang lahir tanpa akar, melainkan bangsa besar dengan peradaban yang telah diakui dunia,” tegas beliau di hadapan forum adat Nusantara.

 

Forum MAI pun diharapkan terus menjadi ruang pemersatu nilai-nilai adat dan kebangsaan, sekaligus menjaga kesinambungan warisan pemikiran para tokoh bangsa dalam memperkuat jati diri Indonesia  dinamika global. (MAI)— Forum Komunikasi Majelis Adat Indonesia (MAI) yang dihadiri para Raja, Sultan, Datuk, Ratu, serta tokoh pemangku adat se-Nusantara kembali menjadi ruang strategis refleksi kebangsaan yang sarat nilai historis dan kultural.

Dalam forum tersebut, Yang Mulia Iftiqar S.A. Ponto menyampaikan paparan penting yang merupakan pengayaan sekaligus penerusan dari karya pemikiran Andin Banjar berjudul “Jejak Keemasan Nusantara: Swarnadwipa, Ratnadwipa, dan Javadwipa dalam Perspektif Sejarah dan Peradaban.”

Paparan tersebut menegaskan bahwa identitas Nusantara sejak masa lampau telah dikenal dunia sebagai kawasan yang kaya sumber daya, unggul dalam peradaban, serta memiliki posisi strategis dalam jaringan global.

Swarnadwipa: Pulau Emas yang Mendunia
Dalam pemikiran Andin Banjar yang disampaikan kembali oleh Ponto, Pulau Sumatera sejak dahulu dikenal sebagai Swarnadwipa atau “Pulau Emas”. Penamaan ini bukan sekadar legenda, melainkan diperkuat oleh berbagai catatan sejarah dari India, Tiongkok, hingga Eropa.

Keberadaan Sumatera sebagai pusat perdagangan emas dan komoditas bernilai tinggi juga diperkuat melalui Prasasti Nalanda (860 M) yang menyebut Raja Balaputra Dewa sebagai penguasa Swarnadwipa, menandakan peran penting kawasan ini dalam peradaban dunia.
Ratnadwipa: Pulau Permata Penuh Potensi
Lebih lanjut, Pulau Kalimantan dikenal sebagai Ratnadwipa atau “Pulau Permata”. Dalam narasi tersebut, disebutkan kisah kedatangan tokoh dari India, Mitrongga dan Atwangga dari Wangsa Sungga, yang menetap di Bakulapura (Tanjungpuri)

Wilayah ini diyakini menjadi salah satu pusat awal pertumbuhan peradaban dan kerajaan di Nusantara, seperti Kutai hingga Sriwijaya. Hingga saat ini, Kalimantan Selatan khususnya Martapura tetap dikenal sebagai penghasil intan dan permata bernilai tinggi.

Javadwipa: Lumbung Padi Sejak Masa Kuno
Sementara itu, Pulau Jawa dikenal sebagai Javadwipa atau “Pulau Padi”, sebagaimana tercatat dalam Prasasti Canggal peninggalan Mataram Kuno. Dalam prasasti tersebut, Jawa digambarkan sebagai pulau yang subur, makmur, dan menjadi pusat kehidupan agraris.

Hingga kini, Jawa tetap memegang peran vital sebagai tulang punggung ketahanan pangan nasional, mencerminkan kesinambungan peran historisnya dalam peradaban Nusantara.

Dalam penutup penyampaiannya, Yang Mulia Iftiqar S.A. Ponto menegaskan bahwa gagasan yang dirintis oleh Andin Banjar tersebut bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan fondasi kesadaran kolektif bangsa.
“Pemahaman atas jejak keemasan Nusantara adalah kekuatan moral untuk membangun masa depan. Kita bukan bangsa yang lahir tanpa akar, melainkan bangsa besar dengan peradaban yang telah diakui dunia,” tegas beliau di hadapan forum adat Nusantara.

Forum MAI pun diharapkan terus menjadi ruang pemersatu nilai-nilai adat dan kebangsaan, sekaligus menjaga kesinambungan warisan pemikiran para tokoh bangsa dalam memperkuat jati diri Indonesia di tengah dinamika global. (MAI)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *