Foto : Istimewa
METROPOLITAN POST— Kerajaan atau Kedatuan Siau merupakan salah satu kerajaan tua yang memiliki peran penting dalam sejarah Kepulauan Siau, Tagulandang, dan Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara.
Raja Siau Nicholaas Ponto;
Raja Bolangitang Daud Ponto.
Selanjutnya,
Raja Bolangitang Daud Ponto bersama permaisurinya, Boki Nanggio Ponto, menurunkan beberapa keturunan penting, di antaranya:
•Raja Bolangitang Israel Ponto;
•Raja Siau Jacob Ponto, yang memerintah pada periode 1851–1889.
•Raja Jacob Ponto dan •Pengasingan oleh Belanda
Dalam perjalanan sejarahnya, Raja Siau Jacob Ponto mengalami konflik dengan pemerintah kolonial Belanda. Pada tahun 1889, beliau ditangkap dan diasingkan oleh pemerintah kolonial.
Jacob Ponto ditawan di atas kapal sebelum kemudian dibuang ke wilayah Karesidenan Cirebon, Jawa Barat. Dalam masa pengasingan tersebut, beliau wafat pada 3 Mei 1890, meninggalkan jejak perjuangan yang dikenang dalam sejarah Kerajaan Siau.
Raja Salmon Muda Ponto dan Kebangkitan Bolangitang
Selain Lokombanua II sebagai pendiri Kedatuan Siau, sejarah Dinasti Ponto-Pontoh juga mencatat peran besar Raja Salmon Muda Ponto.
Salmon Muda Ponto dikenal sebagai Raja Bolangitang pertama setelah Kerajaan Bolangitang mengalami pembekuan oleh VOC pada tahun 1677, ketika kerajaan tersebut dipimpin oleh ratu bernama Linkakoa.
Menurut catatan sejarah, pengangkatan resmi Raja Salmon Muda Ponto terjadi pada masa pemerintahan kolonial Inggris di Sulawesi Utara sekitar tahun 1811.
Kepemimpinannya menjadi tonggak penting dalam kebangkitan kembali pemerintahan Bolangitang dan kelanjutan Dinasti Ponto-Pontoh.
Dua Tokoh Pendiri Dinasti Ponto-Pontoh
Berdasarkan berbagai catatan tradisi, silsilah keluarga, dan sejarah kerajaan yang berkembang di Sulawesi Utara, dapat disimpulkan bahwa Dinasti Ponto-Pontoh memiliki dua tokoh sentral yang menjadi fondasi utama keberadaannya, yaitu:
Lokombanua II (Pontoulune/Raja Ponto) sebagai pendiri Kedatuan Siau pada tahun 1510.
Raja Salmon Muda Ponto sebagai pelopor kebangkitan kembali Kerajaan Bolangitang dan penerus utama Dinasti Ponto-Pontoh.
Kedua tokoh tersebut memiliki peran historis yang sangat penting dalam membangun dan mempertahankan eksistensi kerajaan-kerajaan yang menjadi bagian dari warisan sejarah dan budaya masyarakat Sulawesi Utara hingga saat ini.(Red/Bar.S)


















