Teks Gambar: Tampak saat sesi Potret bersama Gus Din (kanan) bersama Ketum PAN, Dzulfikli Hasan, (istimewa)
METROPOLITAN POST– Nama Syafrudin Budiman, S.IP atau yang akrab disapa Gus Din, dikenal luas dalam berbagai lintas aktivitas publik, mulai dari gerakan mahasiswa, jurnalistik, komunikasi politik, pemberdayaan UMKM, hingga dunia korporasi dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Perjalanan panjang tersebut menjadikan Gus Din sebagai salah satu figur yang memiliki pengalaman beragam dalam bidang organisasi, politik, media, ekonomi kerakyatan, dan tata kelola perusahaan.
Lahir dari keluarga yang memiliki tradisi kuat dalam dakwah, pendidikan, dan pergerakan sosial, Gus Din merupakan putra bungsu dari pasangan Almarhum Ustadz Ach. Zainuddin HR dan Almarhumah Mardhiyah. Ia juga merupakan cucu Almarhum Ustadz/KH Abdul Kadir Muhammad (AKM/HAKAM), tokoh dakwah dan pendidikan Muhammadiyah yang berpengaruh di Sumenep dan Pulau Kangean, Madura.
Warisan Dakwah dan Pendidikan
Lingkungan keluarga menjadi fondasi awal pembentukan karakter Gus Din. Ayahnya dikenal aktif dalam dakwah dan organisasi Muhammadiyah, sementara sang ibu memiliki kiprah dalam gerakan perempuan Muhammadiyah melalui Nasyiatul Aisyiyah dan Aisyiyah Kabupaten Sumenep.
Sementara itu, kakeknya, KH Abdul Kadir Muhammad, dikenal sebagai tokoh pendidikan dan dakwah yang berperan dalam pengembangan Muhammadiyah di Madura. Melalui pengabdiannya di Pulau Kangean, beliau turut menjadi penggerak utama berdirinya Yayasan Pondok Pesantren Modern Islamiyah (YPPMI) Arjasa Kangean yang hingga kini menjadi salah satu pusat pendidikan Islam di wilayah tersebut.
Warisan nilai dakwah, pendidikan, organisasi, dan pengabdian masyarakat inilah yang kemudian menjadi pijakan Gus Din dalam menapaki berbagai ruang pengabdian publik.
Tempaan Pergerakan Mahasiswa dan IMM
Saat menempuh pendidikan Ilmu Politik di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), Gus Din aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan. Ia pernah menjabat di Senat Mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), hingga Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik.
Perjalanan organisasinya semakin menguat melalui Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Di organisasi kader Muhammadiyah tersebut, Gus Din menjalani proses kaderisasi dari tingkat komisariat hingga nasional.
Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Komisariat IMM Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Ketua Bidang Hikmah DPD IMM Jawa Timur, hingga Ketua Bidang Sosial-Ekonomi Pimpinan Pusat IMM.
Kemampuannya dalam memimpin forum-forum strategis membuatnya dikenal dengan julukan “Macan Sidang”, terutama setelah dipercaya menjadi Ketua Presidium Sidang Muktamar IMM XII di Ambon tahun 2006 dan Ketua Presidium Sidang Tanwir IMM menjelang Muktamar XIII di Bandar Lampung tahun 2008.
Meniti Karier Jurnalistik dan Komunikasi Politik
Selepas aktif di dunia mahasiswa, Gus Din memasuki dunia jurnalistik dengan menjadi wartawan Surabaya Post. Pengalaman sebagai jurnalis memperkaya kemampuannya dalam membaca isu sosial-politik, membangun jaringan, serta memahami dinamika opini publik.
Pengalaman tersebut kemudian berkembang menjadi profesi sebagai konsultan media dan komunikasi politik yang banyak berkecimpung dalam bidang komunikasi publik, strategi media, riset politik, pemetaan isu, hingga manajemen opini publik.
Perpaduan antara pengalaman organisasi, jurnalistik, dan pendidikan politik menjadikan Gus Din dikenal sebagai praktisi komunikasi politik yang aktif memberikan gagasan terkait demokrasi, kepemimpinan, kebijakan publik, serta pembangunan nasional.
Konsisten Mengusung Ekonomi Kerakyatan
Selain aktif dalam politik dan komunikasi publik, Gus Din juga dikenal sebagai penggerak ekonomi kerakyatan.
Ia mendirikan Partai UKM Indonesia yang membawa agenda pemberdayaan UMKM, koperasi, kewirausahaan, dan ekonomi rakyat. Pada tahun 2022, Partai UKM Indonesia kemudian mengambil langkah politik dengan bergabung ke Partai Amanat Nasional (PAN).
Dalam berbagai aktivitasnya, Gus Din konsisten memperjuangkan penguatan UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Saat ini ia juga tercatat sebagai Ketua Umum Perhimpunan UKM Indonesia.
Menurutnya, pembangunan ekonomi nasional harus dimulai dari penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah yang selama ini menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia.
Kiprah Politik dan Relawan Nasional
Dalam perjalanan politiknya, Gus Din pernah menjadi pendukung pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa pada Pilpres 2014 serta aktif dalam berbagai kegiatan politik nasional melalui PAN.
Pada Pilpres 2019, ia bergabung dalam Aliansi Relawan Jokowi (ARJ) yang mendukung pasangan Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin.
Sementara pada Pilpres 2024, Gus Din kembali aktif dalam gerakan relawan nasional sebagai Koordinator Nasional Aliansi Relawan Prabowo-Gibran (ARPG) serta Ketua Umum Presidium Pusat Barisan Pembaharuan 08 (PP-BP 08).
Perannya dalam berbagai gerakan relawan memperlihatkan kapasitasnya dalam membangun komunikasi politik, konsolidasi organisasi, dan jejaring nasional.
Mengemban Amanah di Lingkungan BUMN
Babak baru perjalanan pengabdian Gus Din dimulai ketika dipercaya mengemban amanah sebagai Komisaris PT Jasa Marga Related Business (JMRB), anak usaha BUMN yang bergerak dalam pengembangan bisnis pendukung jalan tol.
Penugasan tersebut menjadi titik temu antara pengalaman panjangnya di dunia organisasi, komunikasi, ekonomi kerakyatan, dan kepemimpinan dengan tuntutan profesionalisme serta tata kelola korporasi modern.
Bagi Gus Din, jabatan di lingkungan BUMN bukan sekadar posisi struktural, melainkan bagian dari kontribusi untuk mendukung pembangunan nasional melalui tata kelola perusahaan yang baik, inovatif, dan berorientasi pada pelayanan publik.
Transformasi Pengabdian
Perjalanan hidup Syafrudin Budiman menunjukkan transformasi yang panjang dan berkesinambungan, dari tradisi keluarga pergerakan, aktivisme mahasiswa, dunia jurnalistik, komunikasi politik, pemberdayaan ekonomi rakyat, politik nasional, hingga profesionalisme di lingkungan BUMN.
Jejak pengabdiannya menjadi gambaran bahwa pengalaman organisasi, pendidikan, dan kepedulian sosial dapat menjadi modal penting dalam membangun kontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
“Dari tradisi dakwah dan pergerakan keluarga, tumbuh menjadi aktivis mahasiswa, berkembang sebagai jurnalis dan intelektual politik, bergerak dalam ekonomi kerakyatan dan politik nasional, hingga mengambil peran dalam pengabdian profesional di lingkungan BUMN,” demikian perjalanan panjang yang menggambarkan kiprah Syafrudin Budiman atau Gus Din.


















