Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Nasional

Menyentuh Hati! ODGJ di Panti Aura Welas Asih Sukabumi Peringati HUT Ke-81 RI: Antara Upacara Khidmat dan Tawa Lepas di Lomba 17-AN

Avatar photo
4956
×

Menyentuh Hati! ODGJ di Panti Aura Welas Asih Sukabumi Peringati HUT Ke-81 RI: Antara Upacara Khidmat dan Tawa Lepas di Lomba 17-AN

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Menyentuh Hati! ODGJ di Panti Aura Welas Asih Sukabumi Peringati HUT Ke-81 RI: Antara Upacara Khidmat dan Tawa Lepas di Lomba 17-AN

SUKABUMI, 18 Agustus 2026 –

Example 300x600

 

Gelora semangat Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 tidak hanya terasa di gedung-gedung pemerintahan atau jalanan utama kota. Di sudut Sukabumi, tepatnya di Panti Sosial Aura Welas Asih, makna kemerdekaan dirayakan dengan cara yang jauh lebih dalam dan menyentuh jiwa.

 

Bagi 170 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang tinggal di sana, kemerdekaan bukan sekadar kata, melainkan hak untuk dirawat, dihormati, dan hidup layak sebagai manusia.

Puncak perayaan diisi dengan Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih yang berlangsung khidmat, dilanjutkan dengan pesta rakyat melalui lomba-lomba tradisional yang penuh keceriaan.

Upacara yang Melampaui Keterbatasan

Kegiatan upacara bendera pada Senin pagi ini menjadi momen yang luar biasa. Di tengah keterbatasan kondisi mental, para penghuni panti menunjukkan fokus dan disiplin yang membanggakan. Upacara ini dipimpin langsung oleh Ketua Panti Sosial, Leni Normayunita, dengan Inspektur Upacara Edi Kusnadi.

Salah satu sorotan utama adalah formasi petugas upacara. Berbulan-bulan sebelumnya, Agam Rahman Suparman, selaku pelatih petugas upacara, telah bekerja keras dengan kesabaran ekstra melatih para ODGJ yang telah lolos seleksi kedisiplinan.

“Kemerdekaan adalah milik seluruh rakyat Indonesia, tanpa terkecuali. Termasuk saudara-saudara kita yang berada di Yayasan Panti Aura Welas Asih. Mereka memiliki hak mutlak untuk mendapatkan kasih sayang, perhatian, dan penghormatan,” ujar Leni Normayunita dalam amanatnya.

Leni menegaskan bahwa semangat kemerdekaan tidak mengenal batas kondisi fisik maupun mental.

“Kemerdekaan sejatinya adalah tentang penghormatan terhadap hak dan martabat setiap manusia. Hari ini, mereka membuktikan bahwa meski dalam pemulihan, jiwa nasionalisme mereka tetap menyala,” tambahnya.

Dedikasi Seumur Hidup: Dari Pelepasan Pasung Hingga Rumah Penyembuhan

Perayaan ini tidak lepas dari sejarah panjang perjuangan pendiri panti, Denny Solang (56). Sejak tahun 2006, Denny telah mendedikasikan hidup sebagai pejuang kemanusiaan, berkeliling untuk merawat jiwa-jiwa terlantar. Puncak dari perjuangannya adalah berdirinya Panti Sosial Aura Welas Asih pada tahun 2014, yang khusus fokus pada rehabilitasi ODGJ.

Visi Denny sangat jelas: membebaskan. Panti ini dikenal sebagai tempat di mana puluhan ODGJ dilepaskan dari pasungan, diobati, dan dikembalikan martabatnya. Melalui kerja sama strategis dengan RSJ Marzoeki Mahdi Bogor, Dinas Sosial Sukabumi, Kemensos RI, hingga aparat desa dan kepolisian, proses rehabilitasi dilakukan secara medis dan spiritual (terapi ruqiyah dan konseling).

Kini, perjuangan tersebut menjadi gerakan keluarga dan kolektif. Puput, putri Denny Solang yang merupakan alumni Sekolah Tinggi Kesehatan Masyarakat Bandung, turut terjun langsung mengurusi aspek kesehatan dan perawatan, melengkapi perawatan yang dilakukan oleh Winarti, Mayang, dan 20 orang pengurus lainnya.
Kehidupan yang Manusiawi dan Produktif

Berbeda dengan stereotip panti penampungan, Panti Aura Welas Asih menawarkan konsep “Rumah Pemulihan”. Dengan 11 ruangan yang tertata bersih, penghuni dibagi secara terpisah antara laki-laki dan perempuan (50 orang perempuan di ruang khusus).

Penghuni baru akan melalui masa karantina dan observasi. Namun, bagi mereka yang kondisinya membaik, diterapkan terapi okupasi atau kegiatan produktif. Mereka dilibatkan dalam pekerjaan rumah tangga, memasak, mencuci, hingga beternak itik dan ayam.

Uniknya, kepedulian sosial juga ditanamkan. Setiap pekan, sebagian penghuni yang sudah stabil diajak oleh Denny Solang dan pengurus untuk membersihkan sampah di pinggir Pantai Cipatuguran, Pelabuhan Ratu. Ini adalah bentuk bahwa mereka pun ingin memberi manfaat bagi lingkungan.

Pesta Rakyat: Tawa di Tengah Keterbatasan

Seminggu sebelum hari H, suasana panti sudah ramai. Sejak 10 Agustus 2026, lomba-lomba 17 Agustus telah dimulai. Meski dengan anggaran yang minim dan terbatas, antusiasme para penghuni dan pengurus begitu membara.
Jenis lomba yang digelar pun unik dan disesuaikan dengan kemampuan serta keselamatan penghuni, namun tetap mengundang tawa:

Balap Karung Berhelm Sambil Jongkok: Melatih keseimbangan dengan aman.

Memancing Kerupuk: Melatih fokus dan kesabaran.

Tarik Tambang: Membangun kekompakan dan solidaritas.
Baris Berbaris Mata Tertutup: Melatih kepercayaan dan orientasi ruang.

Melihat wajah-wajah sumringah para ODGJ saat mengikuti lomba menjadi bukti bahwa kebahagiaan adalah hak asasi yang harus dirayakan oleh semua orang, dalam kondisi apapun.

Harapan dan Doa

Panti Sosial Aura Welas Asih hingga kini masih survive berkat gotong royong para donatur dan keikhlasan para pengurus. Namun, dengan jumlah penghuni yang mencapai 170 orang dari berbagai pulau (Jawa, Sumatera, dll), dukungan logistik, obat-obatan, dan biaya operasional tetap sangat dibutuhkan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada para donatur yang telah membuat saudara-saudara kita bisa tersenyum di hari kemerdekaan ini. Semoga Tuhan membalas kebaikan Anda semua,” tutup Leni.

Bagi masyarakat yang ingin menyalurkan bantuan atau kepedulian, dapat menghubungi pengurus Panti Sosial Aura Welas Asih di Sukabumi.

Tentang Panti Sosial Aura Welas Asih:

Panti rehabilitasi bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang berfokus pada pendekatan humanis, medis, dan spiritual. Berlokasi di Sukabumi, panti ini melayani perawatan, pelepasan pasung, dan pemulihan fungsi sosial bagi ratusan pasien dari berbagai daerah di Indonesia.

(Lili Judiarti)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I Made Sandika Dwiantara, Perwakilan Asosiasi Pabrikan Modul Surya Indonesia (APAMSI): Kualitas dan Keandalan Panel Surya Buatan Produsen Lokal Tidak Kalah dari Produk Impor, termasuk Produk Asal Tiongkok yang selama ini Mendominasi Pasar Global. JAKARTA, 12 Agustus 2026 — Industri manufaktur Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dalam negeri menyatakan kesiapan penuh untuk mendukung dan mengeksekusi target transisi energi nasional hingga kapasitas terpasang 100 Gigawatt (GW). Namun demikian, efektivitas penyerapan produk lokal dalam proyek-proyek strategis nasional sangat bergantung pada komitmen pemerintah dalam menyelaraskan kerangka kebijakan, mengunci regulasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), serta melakukan harmonisasi regulasi lintas kementerian secara konsisten dan berkelanjutan. Demikian pokok-pokok pemikiran yang mengemuka dalam seminar bertema pengembangan industri energi terbarukan yang merupakan bagian dari rangkaian acara Indonesia Technology & Innovation (INTI) – Indo Machinery Investment & Trade Show 2026 di JI-Expo Kemayoran, Jakarta, Rabu (12/8/2026). Forum ini menjadi wadah strategis bagi pelaku industri, asosiasi, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya untuk membahas kesiapan industri nasional dalam menyongsong era transisi energi serta mengidentifikasi langkah-langkah konkret yang diperlukan untuk mempercepat implementasi PLTS berbasis produksi dalam negeri. Kesiapan Industri Lokal: Kualitas Setara, Layanan Lebih Unggul Dalam pemaparannya, I Made Sandika Dwiantara, perwakilan Asosiasi Pabrikan Modul Surya Indonesia (APAMSI), menegaskan bahwa dari segi kualitas dan keandalan produk, panel surya buatan produsen lokal tidak kalah dari produk impor, termasuk produk asal Tiongkok yang selama ini mendominasi pasar global. Ia menekankan bahwa industri panel surya nasional telah melewati proses panjang pengembangan teknologi, peningkatan kapasitas produksi, serta sertifikasi standar internasional yang memastikan produk lokal memenuhi kriteria teknis dan keselamatan yang dipersyaratkan. Selain aspek kualitas, Made menggarisbawahi bahwa keunggulan utama industri dalam negeri terletak pada kesiapan layanan purna jual (after-sales service) yang responsif dan mudah dijangkau, serta kepastian pengiriman (delivery reliability) yang bebas dari hambatan larangan dan pembatasan (lartas) impor. Dalam konteks proyek-proyek PLTS berskala besar yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, ketersediaan layanan purna jual yang cepat dan andal menjadi faktor krusial untuk menjamin keberlangsungan operasional pembangkit selama masa pakai 25 hingga 30 tahun. “Secara kualitas, antara produk lokal dan impor tidak jauh berbeda. Produk kami telah melalui serangkaian pengujian dan sertifikasi yang sama ketatnya. Keunggulan kita ada pada keandalan rantai pasok, kecepatan respons layanan purna jual, dan kepastian pengiriman tanpa terkendala masalah lartas impor. Kami tetap konsisten berproduksi untuk memberikan keyakinan kepada pemerintah bahwa industri lokal siap mendukung peningkatan implementasi PLTS secara masif dan berkelanjutan,” ujar Made di hadapan para peserta seminar. Ia menambahkan bahwa kapasitas produksi terpasang pabrikan panel surya nasional saat ini telah mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Dengan dukungan investasi baru dan ekspansi lini produksi, industri lokal optimistis mampu memenuhi kebutuhan modul surya untuk proyek-proyek berskala utilitas (utility-scale) maupun proyek atap (rooftop) yang tersebar di seluruh Indonesia. “Kami tidak hanya bicara soal kapasitas hari ini. Kami bicara soal kesiapan untuk melakukan scaling up sesuai dengan kebutuhan pasar. Ketika pemerintah memberikan kepastian regulasi dan jaminan penyerapan produk, industri siap melakukan investasi tambahan untuk meningkatkan kapasitas produksi,” tegasnya. Dampak Ekonomi Berganda: Melampaui Selisih Harga 15 Persen Menanggapi isu perbedaan harga produk yang selama ini menjadi salah satu pertimbangan utama dalam pengadaan proyek PLTS, Made mengungkapkan bahwa selisih harga antara produk lokal dan produk impor saat ini telah mengalami penurunan yang sangat signifikan. Jika sebelumnya margin perbedaan harga berada di kisaran 30 persen, kini selisih tersebut telah menyusut menjadi sekitar 15 persen seiring dengan peningkatan efisiensi produksi, optimalisasi rantai pasok, dan pencapaian skala ekonomi (economies of scale) oleh pabrikan dalam negeri. Namun demikian, Made mengimbau agar pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan tidak melihat selisih harga tersebut secara sektoral atau parsial semata. Ia mengajak semua pihak untuk memperhitungkan dampak ekonomi berganda (multiplier effect) bagi perekonomian nasional secara keseluruhan yang dihasilkan dari penggunaan produk dalam negeri. “Penggunaan komponen dalam negeri menggerakkan seluruh rantai pasok lokal—mulai dari produksi sel surya, frame aluminium, kaca khusus (solar glass), junction box, kabel, backsheet, hingga kemasan dan logistik. Dampak ekonomi ke belakang (backward linkage) yang dihasilkan jauh lebih besar dari selisih harga 15 persen itu. Jika dihitung secara komprehensif, termasuk penciptaan lapangan kerja, penerimaan pajak, pengurangan devisa impor, dan penguatan industri pendukung, penggunaan produk lokal justru menghasilkan surplus bagi negara,” jelasnya secara rinci. Made merinci bahwa setiap satu GW kapasitas PLTS yang menggunakan produk dalam negeri berpotensi menggerakkan ratusan hingga ribuan pelaku usaha di sepanjang rantai pasok, menciptakan ribuan lapangan kerja langsung maupun tidak langsung, serta menghasilkan perputaran ekonomi yang signifikan di berbagai daerah. Efek pengganda ini, menurutnya, tidak akan terjadi apabila proyek PLTS sepenuhnya menggunakan produk impor. “Kalau kita hanya menghitung harga per watt-peak tanpa melihat dampak ekonomi menyeluruh, kita akan kehilangan gambaran besar. Industri panel surya lokal bukan hanya soal satu produk, tetapi soal menghidupkan seluruh ekosistem industri di belakangnya,” imbuhnya. TKDN Difokuskan pada Sel Surya: Strategi Membangun Ekosistem dari Inti Guna mempercepat penetrasi industri nasional dan membangun fondasi manufaktur yang kokoh, APAMSI mendorong agar perhitungan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk modul surya difokuskan pada komponen inti, yaitu sel surya (solar cell). Langkah ini dinilai strategis karena sel surya merupakan komponen dengan nilai tambah teknologi tertinggi dan menjadi penentu utama kinerja serta efisiensi modul. Menurut Made, dengan memfokuskan TKDN pada sel surya, pemerintah secara efektif mendorong pertumbuhan ekosistem industri pendukung di dalam negeri. Investasi akan mengalir ke segmen-segmen kritis seperti produksi ingot dan wafer silikon, fabrikasi sel surya, serta pengembangan material pendukung lainnya. Ekosistem ini, pada gilirannya, akan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global industri fotovoltaik. “TKDN yang difokuskan pada sel surya akan memaksa tumbuhnya industri hulu di dalam negeri. Kita tidak bisa terus-menerus mengimpor sel dan hanya melakukan perakitan modul di sini. Nilai tambah terbesar ada di sel surya, dan di situlah kita harus membangun kemampuan,” papar Made. Ia menambahkan bahwa strategi ini juga merupakan langkah persiapan sebelum Indonesia membidik pasar ekspor. Dengan membangun basis produksi sel surya yang kompetitif di dalam negeri, industri nasional akan memiliki fondasi yang kuat untuk bersaing di pasar regional ASEAN maupun global. “Kita bangun dulu ekosistem di dalam negeri, kuasai teknologi intinya, baru kemudian kita bicara ekspor. Urutannya harus seperti itu agar industri kita benar-benar kuat dan tidak rapuh,” tegasnya. Inklusif dan Terbuka: Kolaborasi dengan Investor dan Produsen Asing Di sisi lain, Made menegaskan bahwa industri panel surya lokal bersikap inklusif dan terbuka terhadap kemitraan strategis dengan investor maupun produsen asing. APAMSI tidak menutup diri dari kolaborasi internasional, melainkan justru mendorong masuknya investasi asing yang membawa transfer teknologi dan penguatan kapasitas manufaktur dalam negeri. “Kami tidak eksklusif. Kami mengajak mitra luar, seperti dari Tiongkok, Korea Selatan, maupun negara-negara lain yang memiliki keunggulan teknologi di bidang fotovoltaik, untuk datang dan berkolaborasi dengan industri lokal. Tujuannya jelas, yaitu akuisisi dan transfer of technology agar transisi teknologi kita berjalan cepat tanpa harus mulai dari nol,” tambah Made. Menurutnya, pola kolaborasi yang ideal adalah kemitraan yang saling menguntungkan (mutually beneficial partnership), di mana investor asing membawa teknologi, keahlian, dan sebagian modal, sementara industri lokal menyediakan akses pasar, tenaga kerja, dan pemahaman terhadap regulasi serta kondisi lokal. Dengan pola ini, transfer teknologi dapat berlangsung secara organik dan berkelanjutan. “Kita tidak anti-investasi asing. Justru kita membutuhkannya untuk mempercepat penguasaan teknologi. Yang kita minta adalah agar kolaborasi tersebut benar-benar menghasilkan transfer pengetahuan dan kemampuan, bukan sekadar memanfaatkan pasar Indonesia sebagai tempat penjualan produk jadi,” ujarnya menegaskan. Made juga menyebut bahwa beberapa pabrikan anggota APAMSI telah menjalin kerja sama dengan mitra internasional dalam bentuk joint venture, lisensi teknologi, dan program pelatihan tenaga kerja. Kerja sama ini diharapkan dapat mempercepat peningkatan kualitas produk lokal sekaligus memperluas kapasitas produksi nasional. Apresiasi Regulasi dan Harapan Pengawalan Lintas Kementerian Di akhir pemaparannya, Made menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap terobosan dan langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Kementerian Perindustrian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), serta PT PLN (Persero) dalam membenahi regulasi dan menciptakan iklim yang lebih kondusif bagi pengembangan industri PLTS dalam negeri. Ia menyebut bahwa berbagai kebijakan yang telah diterbitkan, termasuk pengaturan TKDN, skema pengadaan, serta rencana umum penyediaan tenaga listrik (RUPTL) yang mengakomodasi porsi besar energi terbarukan, merupakan sinyal positif bagi industri. Namun demikian, Made menekankan bahwa konsistensi implementasi dan pengawalan lintas kementerian menjadi kunci keberhasilan. “Kami mengapresiasi langkah-langkah yang telah diambil pemerintah. Namun yang kami butuhkan sekarang adalah pengawalan ketat lintas kementerian untuk memastikan regulasi tersebut benar-benar diimplementasikan di lapangan. Jangan sampai regulasi sudah bagus di atas kertas, tetapi dalam praktiknya masih ada celah untuk impor yang tidak perlu,” kata Made. Ia secara khusus berharap adanya pembatasan impor modul dan sel surya secara bertahap (phased import restriction) yang disertai dengan peta jalan (roadmap) yang jelas dan terukur. Pembatasan ini bukan bertujuan menutup pasar, melainkan memberikan ruang dan waktu bagi industri dalam negeri untuk meningkatkan kapasitas, kualitas, dan daya saing secara progresif. “Kami tidak meminta proteksi tanpa batas. Kami meminta level playing field dan waktu yang cukup untuk membangun kapasitas. Dengan pembatasan impor bertahap yang disertai roadmap jelas, industri lokal punya kepastian untuk berinvestasi dan berkembang,” pungkasnya. Konteks Strategis: Transisi Energi dan Kemandirian Industri Nasional Target pengembangan PLTS hingga 100 GW merupakan bagian dari komitmen Indonesia dalam transisi energi menuju Net Zero Emission serta pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) dan berbagai dokumen perencanaan energi, PLTS diproyeksikan menjadi salah satu tulang punggung bauran energi nasional dalam beberapa dekade mendatang. Untuk mencapai target ambisius tersebut, dibutuhkan tidak hanya investasi dalam pembangunan pembangkit, tetapi juga penguatan basis industri manufaktur dalam negeri yang mampu menyediakan komponen-komponen utama secara mandiri. Tanpa kemandirian industri, target kapasitas terpasang 100 GW justru berpotensi meningkatkan ketergantungan impor dan menguras devisa negara. Dalam konteks ini, penguatan regulasi TKDN, kepastian penyerapan produk lokal, serta dukungan terhadap pengembangan ekosistem industri panel surya menjadi prasyarat mutlak. Industri manufaktur PLTS dalam negeri tidak hanya berfungsi sebagai penyedia produk, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi, pencipta lapangan kerja, dan penjaga kedaulatan energi nasional. Selain aspek ekonomi, kemandirian industri panel surya juga memiliki dimensi strategis dari sisi ketahanan energi. Dalam situasi geopolitik global yang dinamis dan potensi gangguan rantai pasok internasional, kemampuan memproduksi komponen energi secara mandiri menjadi jaminan keberlanjutan pasokan listrik nasional. Peran APAMSI dalam Mendorong Ekosistem Industri PLTS Nasional Asosiasi Pabrikan Modul Surya Indonesia (APAMSI) merupakan wadah yang menghimpun para produsen modul dan komponen PLTS di Indonesia. Asosiasi ini berperan aktif dalam mengadvokasi kepentingan industri, memfasilitasi dialog dengan pemerintah, serta mendorong standardisasi dan peningkatan kualitas produk nasional. APAMSI secara konsisten mendorong terciptanya ekosistem industri PLTS yang terintegrasi, mulai dari produksi material baku, fabrikasi sel dan modul, hingga instalasi dan pemeliharaan. Asosiasi juga aktif dalam kegiatan riset dan pengembangan, pelatihan tenaga kerja, serta promosi produk dalam negeri di berbagai forum nasional maupun internasional. Melalui partisipasi dalam ajang INTI – Indo Machinery 2026, APAMSI berharap dapat memperluas jejaring kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk investor, lembaga keuangan, kontraktor EPC (Engineering, Procurement, and Construction), serta pemerintah daerah yang memiliki potensi pengembangan PLTS di wilayah masing-masing. Tentang INTI – Indo Machinery Investment & Trade Show 2026 Indonesia Technology & Innovation (INTI) – Indo Machinery Investment & Trade Show 2026 merupakan pameran dan forum industri terkemuka yang menghadirkan berbagai pemangku kepentingan di sektor mesin perkakas, manufaktur, energi, dan teknologi industri. Acara yang berlangsung di JI-Expo Kemayoran, Jakarta, ini menjadi platform strategis untuk mempromosikan investasi, transfer teknologi, penguatan rantai pasok industri nasional, serta percepatan transisi energi. Rangkaian acara mencakup pameran produk dan teknologi, seminar dan diskusi panel, business matching, presentasi peluang investasi, serta forum kebijakan yang melibatkan pemerintah dan pelaku industri.
Nasional

I Made Sandika Dwiantara, Perwakilan Asosiasi Pabrikan Modul…