Menyentuh Hati! ODGJ di Panti Aura Welas Asih Sukabumi Peringati HUT Ke-81 RI: Antara Upacara Khidmat dan Tawa Lepas di Lomba 17-AN
SUKABUMI, 18 Agustus 2026 –
Gelora semangat Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 tidak hanya terasa di gedung-gedung pemerintahan atau jalanan utama kota. Di sudut Sukabumi, tepatnya di Panti Sosial Aura Welas Asih, makna kemerdekaan dirayakan dengan cara yang jauh lebih dalam dan menyentuh jiwa.
Bagi 170 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang tinggal di sana, kemerdekaan bukan sekadar kata, melainkan hak untuk dirawat, dihormati, dan hidup layak sebagai manusia.
Puncak perayaan diisi dengan Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih yang berlangsung khidmat, dilanjutkan dengan pesta rakyat melalui lomba-lomba tradisional yang penuh keceriaan.
Upacara yang Melampaui Keterbatasan
Kegiatan upacara bendera pada Senin pagi ini menjadi momen yang luar biasa. Di tengah keterbatasan kondisi mental, para penghuni panti menunjukkan fokus dan disiplin yang membanggakan. Upacara ini dipimpin langsung oleh Ketua Panti Sosial, Leni Normayunita, dengan Inspektur Upacara Edi Kusnadi.
Salah satu sorotan utama adalah formasi petugas upacara. Berbulan-bulan sebelumnya, Agam Rahman Suparman, selaku pelatih petugas upacara, telah bekerja keras dengan kesabaran ekstra melatih para ODGJ yang telah lolos seleksi kedisiplinan.
“Kemerdekaan adalah milik seluruh rakyat Indonesia, tanpa terkecuali. Termasuk saudara-saudara kita yang berada di Yayasan Panti Aura Welas Asih. Mereka memiliki hak mutlak untuk mendapatkan kasih sayang, perhatian, dan penghormatan,” ujar Leni Normayunita dalam amanatnya.
Leni menegaskan bahwa semangat kemerdekaan tidak mengenal batas kondisi fisik maupun mental.
“Kemerdekaan sejatinya adalah tentang penghormatan terhadap hak dan martabat setiap manusia. Hari ini, mereka membuktikan bahwa meski dalam pemulihan, jiwa nasionalisme mereka tetap menyala,” tambahnya.
Dedikasi Seumur Hidup: Dari Pelepasan Pasung Hingga Rumah Penyembuhan
Perayaan ini tidak lepas dari sejarah panjang perjuangan pendiri panti, Denny Solang (56). Sejak tahun 2006, Denny telah mendedikasikan hidup sebagai pejuang kemanusiaan, berkeliling untuk merawat jiwa-jiwa terlantar. Puncak dari perjuangannya adalah berdirinya Panti Sosial Aura Welas Asih pada tahun 2014, yang khusus fokus pada rehabilitasi ODGJ.
Visi Denny sangat jelas: membebaskan. Panti ini dikenal sebagai tempat di mana puluhan ODGJ dilepaskan dari pasungan, diobati, dan dikembalikan martabatnya. Melalui kerja sama strategis dengan RSJ Marzoeki Mahdi Bogor, Dinas Sosial Sukabumi, Kemensos RI, hingga aparat desa dan kepolisian, proses rehabilitasi dilakukan secara medis dan spiritual (terapi ruqiyah dan konseling).
Kini, perjuangan tersebut menjadi gerakan keluarga dan kolektif. Puput, putri Denny Solang yang merupakan alumni Sekolah Tinggi Kesehatan Masyarakat Bandung, turut terjun langsung mengurusi aspek kesehatan dan perawatan, melengkapi perawatan yang dilakukan oleh Winarti, Mayang, dan 20 orang pengurus lainnya.
Kehidupan yang Manusiawi dan Produktif
Berbeda dengan stereotip panti penampungan, Panti Aura Welas Asih menawarkan konsep “Rumah Pemulihan”. Dengan 11 ruangan yang tertata bersih, penghuni dibagi secara terpisah antara laki-laki dan perempuan (50 orang perempuan di ruang khusus).
Penghuni baru akan melalui masa karantina dan observasi. Namun, bagi mereka yang kondisinya membaik, diterapkan terapi okupasi atau kegiatan produktif. Mereka dilibatkan dalam pekerjaan rumah tangga, memasak, mencuci, hingga beternak itik dan ayam.
Uniknya, kepedulian sosial juga ditanamkan. Setiap pekan, sebagian penghuni yang sudah stabil diajak oleh Denny Solang dan pengurus untuk membersihkan sampah di pinggir Pantai Cipatuguran, Pelabuhan Ratu. Ini adalah bentuk bahwa mereka pun ingin memberi manfaat bagi lingkungan.
Pesta Rakyat: Tawa di Tengah Keterbatasan
Seminggu sebelum hari H, suasana panti sudah ramai. Sejak 10 Agustus 2026, lomba-lomba 17 Agustus telah dimulai. Meski dengan anggaran yang minim dan terbatas, antusiasme para penghuni dan pengurus begitu membara.
Jenis lomba yang digelar pun unik dan disesuaikan dengan kemampuan serta keselamatan penghuni, namun tetap mengundang tawa:
Balap Karung Berhelm Sambil Jongkok: Melatih keseimbangan dengan aman.
Memancing Kerupuk: Melatih fokus dan kesabaran.
Tarik Tambang: Membangun kekompakan dan solidaritas.
Baris Berbaris Mata Tertutup: Melatih kepercayaan dan orientasi ruang.
Melihat wajah-wajah sumringah para ODGJ saat mengikuti lomba menjadi bukti bahwa kebahagiaan adalah hak asasi yang harus dirayakan oleh semua orang, dalam kondisi apapun.
Harapan dan Doa
Panti Sosial Aura Welas Asih hingga kini masih survive berkat gotong royong para donatur dan keikhlasan para pengurus. Namun, dengan jumlah penghuni yang mencapai 170 orang dari berbagai pulau (Jawa, Sumatera, dll), dukungan logistik, obat-obatan, dan biaya operasional tetap sangat dibutuhkan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada para donatur yang telah membuat saudara-saudara kita bisa tersenyum di hari kemerdekaan ini. Semoga Tuhan membalas kebaikan Anda semua,” tutup Leni.
Bagi masyarakat yang ingin menyalurkan bantuan atau kepedulian, dapat menghubungi pengurus Panti Sosial Aura Welas Asih di Sukabumi.
Tentang Panti Sosial Aura Welas Asih:
Panti rehabilitasi bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang berfokus pada pendekatan humanis, medis, dan spiritual. Berlokasi di Sukabumi, panti ini melayani perawatan, pelepasan pasung, dan pemulihan fungsi sosial bagi ratusan pasien dari berbagai daerah di Indonesia.
(Lili Judiarti)


















