BERITA

PT Leyand International Tbk (LAPD)  Menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) & Public Expose Tahun 2026

Avatar photo
241
×

PT Leyand International Tbk (LAPD)  Menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) & Public Expose Tahun 2026

Sebarkan artikel ini
PT Leyand International Tbk (LAPD)  Menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) & Public Expose Tahun 2026
PT Leyand International Tbk (LAPD)  menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Kamis, 29 Oktober 2026, untuk membahas rencana penambahan modal (rights issue II) maksimal 2 miliar saham baru serta akuisisi PT Bersaudara Sinergi Sejahtera (BSS)
Detail Aksi Korporasi & Berita Terbaru

  • Rencana Rights Issue (PMHMETD II): LAPD berencana menerbitkan hingga 2 miliar saham baru Seri B dengan nilai nominal Rp25 per saham dan harga pelaksanaan indikatif Rp30 per saham untuk menghimpun dana hingga Rp60 miliar

  • Akuisisi PT Bersaudara Sinergi Sejahtera (BSS): Sekitar 64,75% atau Rp38,8 miliar dari dana rights issue akan digunakan untuk mengambil alih 87,5% saham BSS milik pengendali perseroan, PT JSI Sinergi Mas (JSI), melalui skema inbreng (penyetoran modal non-tunai)

  • Tujuan Restrukturisasi: Aksi ini bertujuan memperbaiki kondisi keuangan perusahaan yang sebelumnya mencatat ekuitas negatif sebesar Rp2,65 miliar serta modal kerja bersih negatif Rp26,45 miliar per 30 Juni 2026

  • Dampak Kinerja: Pendapatan proforma LAPD diperkirakan meningkat dari Rp1,91 miliar menjadi Rp22,50 miliar setelah konsolidasi dengan BSS (yang bergerak di bidang jasa kontraktor pertambangan)

Direktur Utama PT Leyand International Tbk, Jamal Abdul Nasir Bamadhaj, dalam paparannya menyampaikan bahwa tahun 2026 menjadi periode penting bagi perseroan dalam mempersiapkan arah dan strategi bisnis baru. Transformasi tersebut dilakukan dengan tetap memperhatikan kondisi keuangan, tata kelola perusahaan, ketentuan pasar modal, serta kepentingan seluruh pemegang saham.

Menurut Jamal, paparan publik kali ini mencakup sembilan agenda utama, mulai dari profil perseroan, perkembangan dan transformasi usaha, struktur pemegang saham, kegiatan usaha, kinerja keuangan, strategi dan rencana pengembangan, tata kelola dan kepatuhan, hingga tantangan serta fokus manajemen ke depan.

PT Leyand International Tbk merupakan perusahaan yang didirikan pada 7 Juni 1990 dan telah tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 17 Juli 2001. Saat ini, perseroan menjalankan fungsi sebagai perusahaan induk investasi dan konsultasi manajemen, sementara kegiatan distribusi produk konsumen dilakukan melalui anak usaha PT Rusindo Eka Raya dengan kepemilikan saham sebesar 51 persen.

Jamal menjelaskan, perjalanan usaha perseroan mengalami sejumlah perubahan strategis dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, perseroan melakukan akuisisi dan memasuki bisnis distribusi. Selanjutnya pada 2024, perseroan melakukan investasi pada dua anak usaha di bidang pembangkit listrik. Kemudian pada 2025, perseroan menjadi pengendali dengan kepemilikan saham sebesar 51 persen.

Memasuki 2026, manajemen mulai mempersiapkan pengembangan PT Bersaudara Sinergi Sejahtera (BSS) sebagai bagian dari rencana transformasi menuju sektor jasa pertambangan dan energi.

“Perseroan sedang mempersiapkan transformasi menuju sektor jasa pertambangan. Namun, seluruh rencana pengembangan tersebut akan dilaksanakan dengan memperhatikan proses dan ketentuan yang berlaku, kondisi perseroan, serta kepentingan seluruh pemegang saham,” ujar Jamal.

Dari sisi struktur kepemilikan saham, berdasarkan materi paparan, PT Gamis dengan 5 tercatat memiliki sebanyak 2.022.838.500 saham atau sekitar 51 persen. Sementara masyarakat memiliki 1.943.511.639 saham atau sekitar 49 persen, dengan total kepemilikan sekitar 3,97 miliar saham.

Kinerja Keuangan Menjadi Perhatian Manajemen

Sementara itu, Direktur PT Leyand International Tbk, Ahmad Rifki, dalam pemaparan kinerja keuangan menjelaskan bahwa perseroan masih menghadapi tekanan bisnis yang cukup signifikan.

Berdasarkan data perbandingan hingga Juni 2026, penjualan perseroan mengalami penurunan dari Rp138,51 miliar pada Juni 2025 menjadi Rp1,91 miliar pada Juni 2026. Total aset juga mengalami penurunan dari Rp213,56 miliar menjadi Rp99,47 miliar.

Dari sisi profitabilitas, perseroan mencatatkan margin bruto negatif sebesar 54,9 persen, berbanding terbalik dengan margin bruto positif sebesar 3,14 persen pada periode Juni 2025. Perseroan juga membukukan rugi bruto sekitar Rp1,05 miliar akibat beban pokok penjualan yang melampaui pendapatan.

Selain itu, saldo kas dan bank mengalami penurunan dari Rp6,81 miliar menjadi sekitar Rp474,8 juta. Rasio liabilitas terhadap aset meningkat menjadi 102,66 persen, sementara ekuitas tercatat negatif Rp2,65 miliar. Akumulasi rugi perseroan berdasarkan paparan manajemen mencapai sekitar Rp463,91 miliar.

Ahmad Rifki menegaskan bahwa kondisi tersebut menjadi tantangan serius yang harus ditangani melalui evaluasi kegiatan operasional, pengelolaan likuiditas secara hati-hati, serta pelaksanaan restrukturisasi secara bertahap.

Manajemen menyadari bahwa langkah restrukturisasi tidak serta-merta menyelesaikan seluruh persoalan keuangan. Namun, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperbaiki kondisi usaha dan mempersiapkan sumber pendapatan baru yang lebih berkelanjutan.

Salah satu strategi utama yang menjadi perhatian perseroan adalah rencana pengembangan usaha melalui PT Bersaudara Sinergi Sejahtera (BSS).

Berdasarkan materi paparan, BSS bergerak sebagai kontraktor jasa pertambangan dengan konsep full-service mining contractor, yang memiliki wilayah operasional di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Nilai transaksi yang tercantum dalam materi mencapai Rp38,85 miliar dengan target kepemilikan perseroan sebesar 87,5 persen.

Manajemen menilai sektor jasa pertambangan memiliki potensi untuk menjadi sumber pendapatan baru melalui kontrak pekerjaan yang berkelanjutan. Meski demikian, kontribusi BSS terhadap kinerja konsolidasi perseroan masih bergantung pada penyelesaian transaksi, kesiapan operasional, serta keberhasilan memperoleh dan menjalankan kontrak usaha.

Selain pengembangan BSS, strategi perseroan juga mencakup optimalisasi sektor energi bersama grup JSI, restrukturisasi kegiatan usaha secara bertahap, serta evaluasi rencana investasi pada RR yang dinilai tidak lagi berjalan sesuai posisi dan kebutuhan perseroan.

Manajemen menargetkan proses restrukturisasi berlangsung secara bertahap hingga 2027, dengan arah pengembangan bisnis yang diharapkan dapat menghasilkan pendapatan berbasis kontrak berulang atau recurring contract.

Untuk mendukung rencana pengembangan usaha, PT Leyand International Tbk juga memaparkan rencana Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) II atau rights issue.

Berdasarkan materi yang disampaikan, perseroan merencanakan penerbitan maksimal 2 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp250 per saham dan harga pelaksanaan Rp30 per saham.

Melalui aksi korporasi tersebut, perseroan menargetkan perolehan dana maksimal sekitar Rp60 miliar.

Dari jumlah tersebut, sekitar Rp30,59 miliar direncanakan berasal dari transaksi penyertaan saham BSS oleh JSI, sedangkan sisanya direncanakan berasal dari setoran tunai pihak-pihak yang berpartisipasi dalam aksi korporasi tersebut.

Dana yang dihimpun direncanakan untuk mendukung kebutuhan modal kerja dan pengembangan usaha perseroan. Pelaksanaan PMHMETD II tetap akan mengikuti ketentuan yang berlaku, termasuk penyampaian informasi final melalui mekanisme keterbukaan informasi kepada publik.

Jamal Abdul Nasir Bamadhaj menambahkan, pihaknya berkomitmen menjalankan setiap rencana aksi korporasi dengan mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik atau Good Corporate Governance (GCG).

Menurutnya, perseroan menjalankan fungsi pengawasan melalui Direksi dan Dewan Komisaris serta didukung organ penunjang, termasuk komite audit, sekretaris perusahaan, dan audit internal.

Perseroan juga berkomitmen memenuhi kewajiban berdasarkan peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), ketentuan Bursa Efek Indonesia, serta aturan keterbukaan informasi kepada publik.

Dalam paparannya, manajemen juga mengakui adanya sejumlah tantangan yang harus dihadapi, mulai dari melemahnya daya beli masyarakat, volatilitas harga saham, keterbatasan likuiditas, hingga risiko kelangsungan usaha dan perkara hukum yang berkaitan dengan perseroan.

Menghadapi kondisi tersebut, manajemen menetapkan sejumlah fokus strategis, antara lain mempersiapkan transaksi dan pengembangan BSS, mengoptimalkan sektor energi bersama grup JSI, melaksanakan restrukturisasi secara bertahap hingga 2027, serta mengevaluasi kembali rencana investasi RR.

Jamal menegaskan bahwa seluruh strategi tersebut akan terus dievaluasi berdasarkan perkembangan kondisi usaha, kemampuan pendanaan, risiko yang dihadapi, dan ketentuan peraturan yang berlaku.

Sebagai penutup, manajemen menegaskan bahwa transformasi menuju sektor jasa pertambangan merupakan salah satu langkah strategis PT Leyand International Tbk dalam membangun kembali fondasi bisnis dan memperkuat prospek pendapatan ke depan.

Namun, perseroan juga tidak menutup mata terhadap kondisi keuangan dan tantangan operasional yang masih dihadapi. Karena itu, setiap keputusan bisnis dan aksi korporasi akan dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kesiapan operasional, kondisi pendanaan, kepatuhan terhadap regulasi, serta perlindungan kepentingan seluruh pemegang saham.

Melalui strategi transformasi, restrukturisasi, dan pengembangan sektor pertambangan serta energi, PT Leyand International Tbk berharap dapat memperkuat struktur usaha dan membuka peluang pertumbuhan bisnis yang lebih berkelanjutan pada masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *