Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Nasional

Direktur Eksekutif IBCSD, Dr. Indah Budiani: Tanpa Data yang Memadai, Perusahaan akan Kesulitan Menyusun Strategi Bisnis yang Berkelanjutan dan Memenuhi berbagai Standar Pelaporan Keberlanjutan yang kini Berlaku Secara Global,

Avatar photo
4974
×

Direktur Eksekutif IBCSD, Dr. Indah Budiani: Tanpa Data yang Memadai, Perusahaan akan Kesulitan Menyusun Strategi Bisnis yang Berkelanjutan dan Memenuhi berbagai Standar Pelaporan Keberlanjutan yang kini Berlaku Secara Global,

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Direktur Eksekutif IBCSD, Dr. Indah Budiani: Tanpa Data yang Memadai, Perusahaan akan Kesulitan Menyusun Strategi Bisnis yang Berkelanjutan dan Memenuhi berbagai Standar Pelaporan Keberlanjutan yang kini Berlaku Secara Global,

Jakarta, Metropolitanpost.id

Example 300x600

 

Direktur Eksekutif (Executive Director) Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD), Dr. Indah Budiani, menegaskan bahwa data keanekaragaman hayati kini menjadi kebutuhan strategis bagi dunia usaha dalam menghadapi tuntutan standar keberlanjutan global. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara dalam Peluncuran Dokumen Status Keanekaragaman Hayati Bali–Nusa Tenggara–Jawa–Maluku dan Papua di Kantor Bappenas, Jakarta, Selasa (21/07/2026).

Dalam paparannya, Dr. Indah menjelaskan bahwa perusahaan tidak lagi cukup hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi. Keberhasilan bisnis jangka panjang juga ditentukan oleh kemampuan perusahaan memahami daya dukung lingkungan serta dampak aktivitas usahanya terhadap alam.

“Data menjadi sangat penting bagi dunia usaha. Tanpa data yang memadai, perusahaan akan kesulitan menyusun strategi bisnis yang berkelanjutan dan memenuhi berbagai standar pelaporan keberlanjutan yang kini berlaku secara global,” ujarnya.

Menurutnya, perkembangan standar internasional terkait Environmental, Social, and Governance (ESG), termasuk berbagai kerangka pelaporan seperti Global Reporting Initiative (GRI) maupun Taskforce on Nature-related Financial Disclosures (TNFD), membuat perusahaan semakin membutuhkan data yang akurat mengenai kondisi lingkungan dan keanekaragaman hayati.

Dr. Indah mengatakan, dokumen status keanekaragaman hayati yang diluncurkan Bappenas bersama kementerian dan berbagai mitra menjadi sumber informasi penting yang dapat dimanfaatkan perusahaan dalam menyusun kebijakan bisnis, melakukan pengelolaan risiko, hingga meningkatkan transparansi dalam pelaporan keberlanjutan.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa dokumen tersebut hanyalah titik awal. Data yang tersedia harus diolah lebih lanjut menjadi informasi yang relevan dengan kebutuhan masing-masing sektor industri agar mampu mendukung pengambilan keputusan bisnis.

Selain itu, Dr. Indah menekankan pentingnya setiap perusahaan melakukan impact and dependency assessment, yaitu penilaian terhadap dampak perusahaan terhadap alam sekaligus tingkat ketergantungannya pada sumber daya alam.

Ia mencontohkan perusahaan di sektor pertanian yang sangat bergantung pada ketersediaan air. Perusahaan perlu menghitung kebutuhan air, mengevaluasi apakah penggunaannya masih berada dalam batas daya dukung lingkungan, serta memperkirakan risiko ekonomi apabila sumber daya tersebut mengalami penurunan.

“Kalau sumber air terganggu, perusahaan harus menghitung berapa biaya tambahan yang harus dikeluarkan. Karena itu, memahami ketergantungan terhadap alam menjadi bagian penting dari strategi bisnis jangka panjang,” jelasnya.

Menurut Dr. Indah, pendekatan tersebut telah menjadi bagian dari praktik bisnis global dan menjadi pertimbangan penting bagi investor maupun lembaga pembiayaan dalam menilai keberlanjutan sebuah perusahaan.

Sebagai organisasi yang menjadi mitra resmi World Business Council for Sustainable Development (WBCSD), IBCSD terus mendorong perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam strategi bisnis melalui tiga pilar utama, yakni pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, keseimbangan ekologi, dan kemajuan sosial.

Usai acara, Dr. Indah menambahkan bahwa masih banyak perusahaan di Indonesia yang belum memahami secara utuh penerapan ESG. Menurutnya, sebagian perusahaan masih menganggap laporan tahunan (annual report) sudah cukup untuk menunjukkan komitmen keberlanjutan, padahal pelaporan ESG memiliki kerangka dan indikator yang jauh lebih komprehensif.

“ESG bukan sekadar laporan perusahaan. Ada standar, indikator, dan metodologi yang harus dipenuhi sehingga perusahaan dapat menunjukkan dampak lingkungan, sosial, dan tata kelola secara terukur,” katanya.

Ia menilai tingkat kesiapan perusahaan dalam menerapkan ESG sangat beragam. Beberapa perusahaan berskala besar sudah cukup maju, namun tidak sedikit perusahaan kecil yang justru memiliki praktik keberlanjutan yang lebih baik karena memahami komponen ESG secara menyeluruh.

Dr. Indah juga menyoroti sektor tekstil sebagai salah satu industri yang menghadapi tantangan besar, baik dari sisi efisiensi sumber daya maupun aspek sosial. Karena itu, IBCSD terus mengembangkan berbagai program pendampingan, termasuk penerapan resource efficiency, agar sektor industri mampu meningkatkan daya saing sekaligus memenuhi tuntutan keberlanjutan global.

Melalui peluncuran dokumen status keanekaragaman hayati ini, Dr. Indah berharap kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat sipil semakin kuat dalam menjadikan kekayaan hayati Indonesia sebagai fondasi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan berdaya saing di tingkat global.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *