Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
About UsBERITA

Haidar Alwi: Dari Irak dan Libya ke Iran, Lalu Tiongkok: Pelajaran Paling Mahal tentang Kedaulatan Untuk Indonesia

Avatar photo
46
×

Haidar Alwi: Dari Irak dan Libya ke Iran, Lalu Tiongkok: Pelajaran Paling Mahal tentang Kedaulatan Untuk Indonesia

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: R. HAIDAR ALWI – Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI) sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, (Foto: Istimewa)

METROPOLITAN POST — Kita buka tirai kemunafikan tatanan dunia Barat yang selama ini dicekokkan ke kepala kita lewat buku teks, terutama media massa Barat. Selama puluhan tahun, demokrasi ala Amerika kerap dipasarkan seolah-olah menjadi resep universal bagi seluruh bangsa, sementara kekuatan Barat ditempatkan sebagai standar moral dunia. Padahal geopolitik bekerja dengan hukum yang jauh lebih keras: negara kuat memperjuangkan kepentingannya, sedangkan negara lemah lebih mudah menjadi arena kepentingan orang lain. Sejarah Irak dan Libya memberikan pelajaran yang tidak boleh dilupakan. Irak diserang Amerika dan sekutunya pada 2003 dengan salah satu alasan utama berupa tuduhan kepemilikan senjata pemusnah massal yang kemudian tidak ditemukan, sedangkan Libya pada 2011 mengalami intervensi militer NATO dalam konteks konflik yang kemudian berujung pada jatuhnya Muammar Gaddafi. Dua kasus dengan konteks berbeda itu sama-sama menunjukkan betapa menentukan narasi internasional ketika sebuah negara menjadi sasaran tekanan kekuatan besar. Karena itu, bangsa yang berdaulat tidak cukup hanya memiliki suara di forum internasional. Ia membutuhkan kekuatan ekonomi, teknologi, pertahanan, diplomasi, sumber daya manusia, dan keberanian mempertahankan kepentingannya sendiri.

Example 300x600

Persoalan inilah yang membuat Iran menjadi pelajaran geopolitik yang sangat penting bagi Indonesia. Selama puluhan tahun Iran berada di bawah tekanan Amerika, menghadapi sanksi, pembatasan finansial, tekanan diplomatik, ancaman militer, dan konflik terbuka, tetapi Teheran tetap mempertahankan ruang untuk menentukan arah strategisnya sendiri. Iran membangun kemampuan pertahanan dan teknologi domestik, memperluas hubungan dengan kekuatan non-Barat, serta menggunakan posisi geografisnya untuk memperkuat daya tawar. Dalam konteks inilah Ir. R. Haidar Alwi, MT, Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, serta Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, menilai Indonesia membutuhkan new mind: bukan mentalitas mencari perlindungan dari kekuatan besar, melainkan mentalitas membangun kekuatan sendiri. Dunia tidak akan memberikan kedaulatan sebagai hadiah. Kedaulatan diperoleh dan dipertahankan melalui kapasitas nasional.

*”Bangsa yang kuat tidak hidup dengan meminta izin kepada bangsa lain untuk menentukan masa depannya. Indonesia dapat bersahabat dengan siapa pun, tetapi keputusan tentang kepentingan nasional Indonesia tetap berada di tangan bangsa Indonesia sendiri,” kata Haidar Alwi.*

Pernyataan tersebut menjadi titik masuk untuk memahami mengapa pengalaman Iran jauh lebih penting daripada sekadar perdebatan mengenai suka atau tidak suka terhadap sebuah negara. Iran menunjukkan bahwa menghadapi tekanan tidak cukup dengan retorika. Sebuah bangsa perlu membangun kemampuan agar tekanan dari luar tidak otomatis berubah menjadi kendali atas keputusan di dalam negeri. Di titik inilah warisan strategis Ali Khamenei menjadi penting untuk dibaca.

*Iran: Ketika Kedaulatan Tidak Dinegosiasikan kepada Washington*

Iran selama puluhan tahun memperlihatkan satu prinsip yang konsisten: hubungan dengan kekuatan besar dapat berubah, tetapi kepentingan nasional tidak boleh diserahkan begitu saja kepada kekuatan tersebut. Amerika mempunyai kekuatan ekonomi, finansial, teknologi, dan militer yang sangat besar, tetapi tekanan tersebut tidak membuat Iran berhenti membangun kapasitas nasionalnya. Iran mengembangkan industri pertahanan, teknologi rudal dan drone, kemampuan domestik, jaringan perdagangan, serta hubungan strategis dengan negara seperti Tiongkok dan Rusia. Bahkan tekanan ekonomi yang semakin keras pada 2026 tidak otomatis menghapus kemampuan Iran untuk memainkan kartu geopolitiknya. Ketika Amerika meningkatkan tekanan finansial terhadap Teheran melalui sanksi baru, Iran tetap berupaya mempertahankan jalur perdagangan dan hubungan ekonomi alternatif. Inilah yang membedakan negara yang sekadar besar secara geografis dengan negara yang berusaha membangun strategic autonomy.

Ali Khamenei menjadi salah satu figur paling menentukan dalam perjalanan tersebut. Selama lebih dari tiga dekade sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, ia menempatkan kemandirian nasional, penolakan terhadap dominasi asing, dan pembangunan kekuatan domestik sebagai bagian penting dari strategi Republik Islam. Ali Khamenei wafat pada 28 Februari 2026 dalam serangan Amerika-Israel, dan Mojtaba Khamenei kemudian ditetapkan sebagai Pemimpin Tertinggi Iran pada Maret 2026. Namun pergantian kepemimpinan tidak menghapus pentingnya warisan strategis Ali Khamenei. Justru perjalanan panjang Iran memperlihatkan bahwa sebuah gagasan tentang kedaulatan dapat menjadi bagian dari orientasi strategis sebuah negara selama puluhan tahun.

*”Warisan Ali Khamenei yang paling penting bagi saya bukan sekadar keberaniannya berbicara keras kepada Amerika. Yang lebih penting adalah gagasan bahwa bangsa yang ingin dihormati perlu memiliki kemampuan untuk berdiri dengan kekuatannya sendiri. Indonesia dapat mengambil pelajaran itu tanpa kehilangan karakter dan jalan Indonesia sendiri,” ujar Haidar Alwi.*

Dari sini terlihat bahwa kekuatan Iran bukan semata-mata persoalan militer. Pertahanan, teknologi, diplomasi, ekonomi, energi, dan geografi dipadukan menjadi instrumen daya tawar. Dan ketika kita berbicara mengenai geografi Iran, kita sampai pada salah satu kartu strategis paling besar yang dimilikinya: Selat Hormuz.

*Hormuz: Geografi yang Membuat Dunia Memperhitungkan Iran.*

Selat Hormuz membuktikan bahwa geografi dapat berubah menjadi kekuatan ketika sebuah negara memahami nilai strategis wilayahnya. Jalur tersebut merupakan salah satu koridor energi paling penting dunia, sehingga setiap eskalasi serius di sekitarnya dapat memengaruhi harga minyak, pelayaran, rantai pasok, dan perekonomian global. Karena itu, posisi Iran tidak dapat dihitung hanya dari ukuran ekonominya. Iran berada di titik geografis yang membuat kepentingan energi dunia bersinggungan langsung dengan kepentingan nasionalnya. Pada 2026, ketegangan Iran-Amerika bahkan kembali memperlihatkan betapa cepat persoalan di kawasan tersebut merambat ke pasar energi dunia.

Indonesia sesungguhnya memiliki modal geopolitik yang sangat besar. Indonesia berada di antara dua samudra, memiliki sejumlah selat strategis, pasar domestik raksasa, sumber daya alam, serta posisi penting dalam Indo-Pasifik. Tetapi semua modal tersebut baru menjadi kekuatan apabila dikelola oleh negara yang mempunyai visi dan kapasitas. Kekayaan yang hanya diekspor sebagai bahan mentah bukan kekuatan. Jalur perdagangan yang tidak ditopang kemampuan maritim bukan kekuatan. Populasi besar tanpa penguasaan teknologi bukan kekuatan. Karena itu, pelajaran Hormuz bagi Indonesia sangat sederhana: geografi menjadi daya tawar ketika negara mampu mengubahnya menjadi kapasitas strategis.

*”Indonesia sesungguhnya memiliki kartu geopolitik yang sangat besar. Persoalannya bukan apakah kita memiliki modal, tetapi apakah kita cukup kuat mengubah modal tersebut menjadi daya tawar. Indonesia bukan bangsa kecil. Indonesia hanya perlu berhenti berpikir seperti bangsa yang kecil,” tegas Haidar Alwi.*

Dari Iran kita belajar tentang keberanian mempertahankan ruang strategis. Dari geografi Iran kita belajar bahwa posisi dapat menjadi kekuatan. Tetapi kekuatan strategis tidak mungkin bertahan tanpa fondasi ekonomi dan industri. Di sinilah Tiongkok memberikan pelajaran berikutnya.

*Tiongkok: Luka Sejarah Diubah Menjadi Kekuatan.*

Tiongkok mengingat Century of Humiliation, termasuk Perang Opium dan penetrasi kekuatan asing, sebagai pengalaman sejarah ketika kelemahan nasional membuat negaranya kehilangan ruang menentukan nasib sendiri. Pelajaran yang kemudian dibangun adalah sederhana: jangan kembali menjadi lemah. Setelah reformasi 1978, Tiongkok membangun ekonomi, industri, infrastruktur, pendidikan, teknologi, dan kapasitas negara dalam skala luar biasa besar. Bank Dunia mencatat hampir 800 juta orang telah keluar dari kemiskinan ekstrem dalam beberapa dekade, sementara sejak 1978 ekonomi Tiongkok tumbuh rata-rata lebih dari 9 persen per tahun. Angka tersebut memperlihatkan satu hal: kedaulatan strategis membutuhkan kekuatan material.

*”Tiongkok menunjukkan bahwa sejarah tidak cukup dikenang. Luka sejarah dapat diubah menjadi tenaga untuk membangun ekonomi, industri, teknologi dan kekuatan nasional. Indonesia juga mempunyai sejarah panjang kolonialisme. Pertanyaannya sekarang bukan lagi siapa yang pernah menjajah kita, tetapi apakah kita telah membangun kekuatan sehingga tidak mudah didikte siapa pun,” tutur Haidar Alwi.*

Iran menunjukkan keberanian menghadapi tekanan geopolitik. Tiongkok menunjukkan bagaimana kekuatan ekonomi dan kapasitas negara dibangun dalam jangka panjang. Dua pengalaman itu membawa kita pada persoalan Indonesia sendiri: jangan sampai bangsa dengan sumber daya dan posisi strategis sebesar ini hanya menjadi pasar, pemasok bahan mentah, konsumen teknologi, atau objek perebutan pengaruh.

*Indonesia: Jangan Menjadi Satelit Kekuatan Mana Pun.*

Indonesia tidak perlu mencari musuh baru. Indonesia perlu membangun kekuatan baru. Amerika boleh menjadi mitra, Tiongkok boleh menjadi mitra, Iran boleh menjadi mitra, Rusia, India, Eropa dan negara lainnya juga dapat menjadi mitra. Tetapi tidak satu pun boleh menjadi penentu tunggal arah Indonesia. Inilah makna politik luar negeri bebas aktif jika diterjemahkan ke dalam geopolitik abad ke-21: bebas bukan berarti pasif, dan aktif bukan berarti menjadi pengikut salah satu blok. Indonesia dapat bekerja sama dengan semua pihak dari posisi yang semakin setara, karena kepentingan nasional tidak boleh ditukar dengan ketergantungan.

Negara yang mudah dipengaruhi dari luar biasanya bukan hanya karena tekanan eksternal, tetapi karena ada celah internal. Korupsi, lemahnya industri strategis, ketergantungan teknologi, ketergantungan pembiayaan, ketahanan energi dan pangan yang tidak kuat, serta kualitas institusi negara semuanya dapat mempersempit ruang kedaulatan. Karena itu, membangun pemerintahan yang bersih, industri nasional yang kuat, teknologi domestik, pertahanan yang tangguh, pendidikan berkualitas, dan ekonomi yang menghasilkan nilai tambah bukan sekadar agenda pembangunan. Itu adalah agenda pertahanan kedaulatan.

*”Indonesia tidak perlu menjadi anti-Amerika, anti-Tiongkok, atau anti-negara mana pun. Yang perlu kita bangun adalah Indonesia yang tidak mudah dipaksa oleh siapa pun. Ketika kita kuat, kita dapat bersahabat dengan dunia tanpa kehilangan kepentingan nasional kita,” kata Haidar Alwi.*

Itulah inti new mind yang diperlukan Indonesia. Kita belajar dari Iran tanpa menjadi Iran. Kita belajar dari Tiongkok tanpa menjadi Tiongkok. Kita mengambil keberanian, disiplin strategis, pembangunan kekuatan, dan kesadaran kedaulatan mereka, lalu mengolahnya sesuai Pancasila, konstitusi, dan karakter Indonesia. Sebab tujuan akhirnya bukan mencari patron baru, melainkan mengakhiri mentalitas membutuhkan patron.

Indonesia tidak boleh menunggu dunia berubah terlebih dahulu. Indonesia perlu mengubah kapasitas dirinya sendiri. Ketika negara memiliki ekonomi kuat, teknologi kuat, pertahanan kuat, industri kuat, diplomasi kuat, sumber daya manusia kuat, dan institusi yang bersih, maka tekanan eksternal tidak mudah berubah menjadi kendali internal. Irak dan Libya mengajarkan betapa mahalnya ketika sebuah negara kehilangan kendali atas perjalanan sejarahnya sendiri. Iran memperlihatkan arti mempertahankan ruang strategis di tengah tekanan Amerika. Tiongkok memperlihatkan bagaimana pengalaman penghinaan dapat diubah menjadi pembangunan kekuatan. Indonesia memiliki sejarah, sumber daya, penduduk, geografi, dan pasar yang memungkinkan kita mengambil pelajaran dari semuanya.

*”Pada akhirnya pilihan Indonesia sederhana: menjadi bangsa yang menentukan arah sejarahnya sendiri atau menjadi bangsa yang arah sejarahnya ditentukan oleh kekuatan lain. Kita tidak sedang membangun Indonesia untuk memusuhi dunia. Kita sedang membangun Indonesia agar dunia menghormati kita. Ketika Indonesia kuat, kita dapat bekerja sama dengan siapa pun tanpa tunduk kepada siapa pun. Ketika Indonesia berdaulat, persahabatan menjadi pilihan, bukan kebutuhan karena ketergantungan. Itulah wajah Indonesia yang layak diwariskan kepada generasi berikutnya,” pungkas Haidar Alwi. (Red/Bar.S)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *