Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
EkonomiNasional

Haji Isam Dikabarkan Siap Akuisisi 62,2 Persen Saham BYAN, Peta Industri Batu Bara Bisa Berubah

Avatar photo
1139
×

Haji Isam Dikabarkan Siap Akuisisi 62,2 Persen Saham BYAN, Peta Industri Batu Bara Bisa Berubah

Sebarkan artikel ini
Owner Bayan Resources Dato’ Low Tuck Kwong dan Owner Jhonlin Group Haji Isam. (Foto: Istimewa)
Example 468x60

Jakarta – Peta industri energi dan pasar modal Indonesia berpotensi mengalami perubahan besar menyusul kabar aksi korporasi raksasa yang melibatkan pengusaha nasional Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam.

Pemilik Jhonlin Group tersebut dikabarkan tengah bersiap mengambil alih 62,2 persen saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN), salah satu perusahaan batu bara terbesar di Indonesia yang dikendalikan taipan Dato’ Low Tuck Kwong.

Example 300x600

Jika terealisasi, transaksi tersebut berpotensi menjadi salah satu aksi akuisisi terbesar yang pernah terjadi di pasar modal Indonesia. Namun hingga kini, belum terdapat keterangan resmi dari manajemen Jhonlin Group maupun Bayan Resources mengenai nilai transaksi, struktur pembelian, maupun kepastian eksekusi akuisisi tersebut.

Sinyal mengenai kemungkinan perubahan struktur kepemilikan BYAN disebut semakin kuat setelah agenda peninjauan lapangan bersama di area operasional tambang Bayan Resources di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Sabtu (15/8/2026).

Dalam agenda tersebut, Haji Isam hadir sebagai pemilik Jhonlin Group. Ia disebut didampingi Dato’ Low Tuck Kwong selaku pemegang saham pengendali Bayan Resources serta Norman Joesoef selaku pemilik Republik Korpora Indonesia (RKI) atau Republikorp.

Pertemuan tersebut tidak sekadar menjadi agenda kunjungan lapangan. Jajaran perusahaan disebut turut membahas aspek teknis konsolidasi aset, infrastruktur, serta penyelarasan strategi bisnis yang dikaitkan dengan kemungkinan transaksi.

Tiga Kekuatan Besar

Apabila rencana tersebut benar-benar terealisasi, konsolidasi Jhonlin Group dan Bayan Resources akan mempertemukan dua kekuatan besar dalam industri pertambangan dan energi nasional.

Bayan Resources dikenal memiliki basis produksi batu bara yang kuat, terutama melalui operasi tambangnya di Tabang, Kutai Kartanegara. Perseroan juga memiliki rantai operasional yang terintegrasi, mulai dari konsesi pertambangan, jalan angkut, fasilitas pengolahan hingga infrastruktur pelabuhan dan transshipment.

Sementara itu, Jhonlin Group memiliki pengalaman panjang di sektor pertambangan, jasa, logistik, dan infrastruktur pendukung energi.

Sinergi tersebut berpotensi semakin kuat apabila dikaitkan dengan kemampuan Republikorp di sektor logistik dan maritim. Rantai bisnis yang mencakup kapal tunda, tongkang, hingga infrastruktur pelabuhan dapat menjadi penopang distribusi batu bara dari tambang menuju pasar domestik maupun ekspor.

Dengan demikian, kombinasi produksi batu bara skala besar Bayan, infrastruktur pertambangan Jhonlin, serta jaringan logistik maritim Republikorp berpotensi menciptakan efisiensi baru pada rantai pasok energi.

Bisa Picu Perubahan Besar di Bursa

Dari perspektif pasar modal, rumor akuisisi tersebut juga menjadi perhatian besar karena BYAN merupakan salah satu emiten tambang dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia.

Data kepemilikan yang tersedia sebelumnya menunjukkan Low Tuck Kwong masih menjadi pemegang saham pengendali Bayan Resources dengan kepemilikan sekitar 40,23 persen setelah melakukan pembelian tambahan saham pada Mei 2026.

Di sisi lain, Haji Isam memang tercatat semakin aktif melakukan ekspansi di pasar modal. Pada Mei 2026, ia diketahui membeli sekitar 6,83 miliar saham PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK), setara 22,12 persen kepemilikan.

Jika kabar pengambilalihan mayoritas BYAN benar-benar terealisasi, skala transaksinya akan jauh lebih besar dan dapat menjadi salah satu transaksi paling fenomenal dalam sejarah pasar modal Indonesia.

Perubahan pengendali pada perusahaan terbuka juga akan membawa konsekuensi regulasi. Pengambilalihan saham yang mengakibatkan perubahan pengendalian pada prinsipnya dapat memicu kewajiban Penawaran Tender Wajib (Mandatory Tender Offer) sesuai ketentuan pasar modal yang berlaku.

Harga Saham BYAN Jadi Sorotan

Pasar pun berpotensi merespons setiap perkembangan terkait kabar tersebut. Berdasarkan data perdagangan yang disebutkan, saham BYAN pada penutupan Jumat (14/8/2026) berada di level Rp14.400 per saham atau melonjak 20 persen, dengan kapitalisasi pasar disebut mencapai sekitar Rp480 triliun.

Lonjakan tersebut membuat spekulasi mengenai aksi korporasi BYAN semakin menjadi perhatian investor.

Meski demikian, pergerakan harga saham tidak serta-merta dapat dijadikan bukti bahwa transaksi akuisisi telah terjadi. Sampai ada keterbukaan informasi resmi dari perseroan, Bursa Efek Indonesia, atau pihak terkait, kabar mengenai akuisisi 62,2 persen saham BYAN masih harus diperlakukan sebagai informasi yang belum terkonfirmasi.

Jika transaksi akhirnya benar-benar terealisasi, masuknya Jhonlin Group ke Bayan Resources bukan hanya akan mengubah struktur kepemilikan salah satu raksasa batu bara Indonesia.

Aksi tersebut juga berpotensi mengubah peta persaingan industri energi nasional, memperkuat integrasi rantai pasok batu bara, dan menciptakan salah satu episode akuisisi terbesar dalam sejarah pasar modal Indonesia.

 

(ard)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *