Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BERITA

Indonesia International Water Forum (IIWF) 2026 Menjadi Ruang Strategis Untuk Membahas Penguatan Tata Kelola Air Dan Sanitasi Nasional Di Tengah Meningkatnya Tantangan Perubahan Iklim

Avatar photo
49
×

Indonesia International Water Forum (IIWF) 2026 Menjadi Ruang Strategis Untuk Membahas Penguatan Tata Kelola Air Dan Sanitasi Nasional Di Tengah Meningkatnya Tantangan Perubahan Iklim

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Indonesia International Water Forum (IIWF) 2026 Menjadi Ruang Strategis Untuk Membahas Penguatan Tata Kelola Air Dan Sanitasi Nasional Di Tengah Meningkatnya Tantangan Perubahan Iklim

 

Example 300x600

 

JAKARTA, 13 Agustus 2026 — Indonesia International Water Forum (IIWF) 2026 menjadi ruang strategis untuk membahas penguatan tata kelola air dan sanitasi nasional di tengah meningkatnya tantangan perubahan iklim. Forum yang berlangsung di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Kamis (13/8/2026), mendorong reformasi regulasi sekaligus penguatan ketahanan sektor air dan sanitasi.

Mengusung tema “From Vulnerability to Resilience: Water and Sanitation Regulatory Reform in the Midst of the Climate Crisis”, IIWF 2026 mempertemukan pemerintah, akademisi, dunia usaha, serta pemangku kepentingan sektor air untuk membahas kebutuhan reformasi regulasi, penguatan layanan air dan sanitasi, serta kolaborasi lintas sektor.

Krisis iklim dinilai tidak hanya berdampak terhadap ketersediaan sumber daya air, tetapi juga meningkatkan kebutuhan terhadap sistem penyediaan air minum dan sanitasi yang tangguh, berkelanjutan, serta mampu melindungi masyarakat dari berbagai risiko kesehatan.

Dalam konteks tersebut, Ketua Umum IATL 2026, Annie Wahyuni, mendorong penguatan pengawasan terhadap depot air minum isi ulang dan perluasan layanan PDAM di seluruh Indonesia.

Annie menyampaikan hal tersebut dalam wawancara dengan awak media usai acara diskusi IIWF 2026. Menurutnya, jaminan keamanan air minum harus menjadi perhatian bersama karena berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat.

“Air minum isi ulang ini sebenarnya kalau berdasarkan data hasilnya harus terus ditingkatkan. Pengawasan juga harus dilakukan di seluruh Indonesia. Ini yang menjadikan negara hadir untuk masyarakat,” ujar Annie.

Ia mengatakan, salah satu langkah yang perlu menjadi perhatian adalah memastikan depot air minum isi ulang memenuhi persyaratan dan standar yang dapat memberikan jaminan terhadap kualitas air yang dikonsumsi masyarakat.

“Harapan pertama tentunya kita ingin depot-depot air minum yang ada memiliki sertifikasi atau memenuhi standar, sehingga itu menjadi suatu jaminan mutu daripada air minum,” katanya.

Menurut Annie, apabila akses terhadap air minum yang aman belum sepenuhnya tercapai, masyarakat juga perlu mendapatkan edukasi mengenai langkah sederhana untuk memastikan air yang dikonsumsi aman, salah satunya dengan memasak air terlebih dahulu.

“Apabila saat ini belum tercapai, solusi berikutnya adalah memasak air yang dikonsumsi supaya aman dari bakteri yang bisa menyebabkan penyakit, termasuk diare,” jelasnya.

Selain penguatan pengawasan depot air minum isi ulang, Annie juga menekankan pentingnya memperluas jaringan PDAM di seluruh Indonesia. Perluasan layanan air perpipaan dinilai dapat menjadi salah satu upaya mengurangi kesenjangan akses air minum antardaerah.

“Kedua, PDAM diperluas di seluruh Indonesia. Dengan PDAM yang meluas, artinya kesenjangan akan berkurang dan itu merupakan hak masyarakat,” tegas Annie.

Sementara itu, Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Dr. dr. Then Suyanti, MM, menjadi salah satu pihak yang menekankan pentingnya penguatan kesehatan lingkungan melalui penyediaan air minum yang aman serta sanitasi yang layak.

Penguatan pengawasan kualitas air minum menjadi bagian penting dalam upaya mencegah penyakit yang dapat ditularkan melalui air. Karena itu, aspek regulasi, pengawasan, standar kualitas, serta edukasi masyarakat perlu berjalan secara beriringan.

IIWF 2026 juga menempatkan isu reformasi regulasi sebagai bagian penting dalam membangun ketahanan sektor air dan sanitasi. Regulasi yang adaptif terhadap perubahan iklim dinilai dibutuhkan agar sistem layanan air dan sanitasi mampu menghadapi berbagai risiko, termasuk perubahan pola curah hujan, kekeringan, banjir, serta tekanan terhadap sumber daya air.

Forum tersebut mendorong pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dalam menghadirkan kebijakan air dan sanitasi yang lebih terpadu.

Dengan menghubungkan agenda reformasi regulasi dengan kebutuhan perlindungan kesehatan masyarakat, IIWF 2026 diharapkan dapat memperkuat langkah Indonesia menuju ketahanan air dan sanitasi yang berkelanjutan sekaligus memastikan masyarakat memperoleh akses terhadap air yang aman.

Kegiatan IIWF 2026 berlangsung di Forum A, Hall B3, JIEXPO Kemayoran, Jakarta, pada Kamis, 13 Agustus 2026, pukul 10.00–15.30 WIB.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *