Karangasem, Metropolitanpost.id || Ruas jalan Selat Sidemen Klungkung kini tak lagi sekadar mengalami kerusakan. Di mata warga, jalur ini telah berubah menjadi “jalur maut” yang setiap saat mengancam keselamatan pengguna jalan.
Lubang menganga di berbagai titik.
Aspal hancur tak beraturan. Truk pengangkut pasir dan batu melintas tanpa henti berukuran besar, bermuatan berat, bahkan diduga kerap melebihi tonase.
Di tengah kondisi tersebut, yang paling terdampak justru masyarakat kecil.
Pengendara sepeda motor dilaporkan kerap terjatuh.
Insiden senggolan antar kendaraan tak terhindarkan.
Bahkan, menurut informasi yang beredar di masyarakat, ada korban yang tidak sempat kembali ke rumah.
Situasi ini memunculkan pertanyaan serius: Apakah ini masih bisa disebut kecelakaan biasa, atau sudah masuk dalam kategori kelalaian yang terjadi secara berulang dan dibiarkan?
Aktivitas Berjalan, Jalan Dibiarkan Hancur
Di sisi lain, aktivitas yang berkaitan dengan galian C di wilayah tersebut disebut-sebut tetap berjalan aktif. Truk-truk pengangkut material terus melintasi jalur yang sama, memperparah kondisi jalan yang sudah rusak.
Muncul pertanyaan kritis dari masyarakat terkait pengelolaan retribusi yang dihasilkan dari aktivitas tersebut.
Apakah pendapatan dari sektor ini benar-benar masuk ke kas daerah melalui dinas terkait?
Ataukah ada persoalan dalam tata kelola yang perlu dijelaskan secara terbuka kepada publik?
Penting untuk ditegaskan, pertanyaan ini merupakan bentuk kontrol sosial masyarakat yang menginginkan transparansi, bukan tuduhan tanpa dasar.
Bukan Sekadar Infrastruktur, Ini Soal Keadilan
Bagi warga, persoalan ini tidak lagi hanya tentang jalan rusak. Ini telah berkembang menjadi isu keadilan sosial. Aktivitas ekonomi berjalan dan menghasilkan keuntungan, Namun kerusakan justru ditanggung masyarakat, hingga Risiko keselamatan berada di pundak pengguna jalan.
Jika retribusi benar diperuntukkan bagi rakyat, maka masyarakat berhak melihat hasilnya dalam bentuk infrastruktur yang layak dan aman.
Bukan sebaliknya jalan rusak yang terus memakan korban.
Jangan Tunggu Korban Berikutnya
Desakan warga kini semakin tegas: jangan menunggu korban berikutnya, dan jangan menunggu viral baru bergerak.
Negara, melalui pemerintah daerah dan instansi terkait, diharapkan hadir sebelum jatuhnya korban, bukan setelahnya.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka setiap lubang di jalan bukan lagi sekadar kerusakan infrastruktur melainkan simbol dari lemahnya perlindungan terhadap keselamatan masyarakat.
Nyawa Jangan Dikalahkan oleh Material
Ruas Selat Sidemen Klungkung hari ini menjadi cermin: apakah keselamatan publik benar-benar menjadi prioritas, atau justru terabaikan di tengah aktivitas ekonomi yang terus berjalan.
Satu hal yang pasti, masyarakat tidak menuntut lebih, mereka hanya ingin jalan yang aman untuk pulang ke rumah.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak terkait diharapkan memberikan tanggapan resmi sebagai bentuk keterbukaan informasi kepada publik. (Red/Tim)
















