Ketika Kebaikan Tuhan ‘Memburu’ Manusia
Oleh: Johanes Libu Doni (Penerjemah Ahli Muda Pustrajak Kumdil MA RI)
JAKARTA, 26 Agustus 2026
Mazmur 23 kerap dibaca sebagai doa penghiburan ketika manusia menghadapi sakit, duka, kecemasan, atau ketidakpastian hidup. Namun, ayat terakhir mazmur yang dikaitkan dengan Raja Daud itu menyimpan satu kata yang memberi tekanan berbeda pada gambaran tentang kasih Allah radaph.
Dalam terjemahan bahasa Indonesia, Mazmur 23:6 berbunyi, “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.”
Kata “mengikuti” tersebut berasal dari kata Ibrani radaph (רָדַף), yang secara leksikal dapat berarti mengejar atau memburu.
Pemaknaan ini membuat hubungan antara manusia dan kasih Allah tampil bukan sekadar sebagai sesuatu yang berjalan di belakang manusia, melainkan sebagai tindakan aktif.
Daud, dalam gambaran tersebut, tidak sedang melukiskan kebaikan dan kemurahan Tuhan sebagai sesuatu yang pasif. Keduanya digambarkan terus mengejar manusia sepanjang perjalanan hidup.
Dari mengejar musuh hingga mengejar manusia
Kata radaph dalam Perjanjian Lama digunakan dalam berbagai konteks pengejaran. Kata itu antara lain muncul untuk menggambarkan tindakan mengejar musuh atau orang yang melarikan diri.
Karena itu, penggunaan kata tersebut dalam Mazmur 23:6 memberikan nuansa kuat.
“Kebajikan dan kemurahan” bukan sekadar berada di belakang manusia sebagai pengikut, melainkan menjadi kekuatan yang terus bergerak mengiringi kehidupan seseorang.
Di sinilah gagasan tentang “pengejaran ilahi” muncul. Manusia tidak selalu digambarkan sebagai pihak yang lebih dulu mencari Allah. Dalam banyak kisah Alkitab, justru Allah yang mengambil inisiatif untuk mencari manusia.
Kisah kejatuhan manusia dalam Kejadian 3 menjadi salah satu gambaran awal. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa dan bersembunyi, Allah bertanya, “Di manakah engkau?”
Pertanyaan itu dapat dibaca sebagai gambaran tentang Allah yang mengambil langkah pertama untuk menjangkau manusia.
Tov dan hesed
Mazmur 23:6 menyebut dua hal yang mengikuti kehidupan Daud, yakni “kebajikan” dan “kemurahan”. Dalam bahasa Ibrani, keduanya berkaitan dengan konsep tov dan hesed.
Tov berkaitan dengan kebaikan, kesejahteraan, dan hal-hal yang baik. Sementara hesed merupakan salah satu istilah penting dalam teologi Perjanjian Lama yang menunjuk pada kasih setia, kemurahan, dan kesetiaan dalam relasi perjanjian.
Jika kedua istilah tersebut ditempatkan bersama kata radaph, gambaran yang muncul adalah kebaikan dan kasih setia Allah yang terus hadir secara aktif dalam kehidupan manusia.
Hesed khususnya tidak sekadar menunjuk pada emosi kasih. Ia juga mengandung gagasan tentang kesetiaan yang bertahan dalam relasi. Karena itu, kasih Allah dalam perspektif ini tidak bergantung sepenuhnya pada keberhasilan manusia mempertahankan kesetiaannya.
Manusia dapat jatuh, gagal, bahkan tersesat. Namun, dalam kerangka teologis tersebut, kasih setia Allah tetap menjadi kekuatan yang memanggil manusia kembali.
Manusia sebagai objek kasih
Pemaknaan ini kemudian membawa pertanyaan lain: mengapa manusia begitu penting di hadapan Allah?
Jawaban teologis dalam tradisi Kristen bukanlah karena manusia selalu baik, kuat, atau sempurna. Sebaliknya, kasih Allah dipahami sebagai sesuatu yang bersumber dari karakter Allah sendiri.
Konsep imago Dei, manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, menjadi salah satu dasar penting dalam memahami martabat manusia. Nilai manusia tidak semata-mata ditentukan oleh prestasi, status sosial, kekayaan, atau keberhasilan moralnya.
Dalam kerangka itu, manusia yang rapuh sekalipun tetap menjadi sasaran kasih Allah.
Gambaran tersebut juga beresonansi dengan perumpamaan Yesus tentang domba yang hilang. Sang gembala meninggalkan yang sembilan puluh sembilan untuk mencari satu domba yang tersesat. Fokusnya bukan pada kemampuan domba menemukan jalan pulang, melainkan pada tindakan sang gembala mencarinya.
Dari Eden menuju salib
Gagasan tentang Allah yang mencari manusia juga menjadi tema yang berulang dalam narasi keselamatan Kristen.
Dalam kisah Israel, para nabi berkali-kali diutus ketika bangsa itu menyimpang. Panggilan untuk bertobat menunjukkan upaya terus-menerus untuk mengembalikan manusia kepada relasi dengan Allah.
Dalam iman Kristen, pengejaran itu mencapai puncaknya dalam diri Yesus Kristus. Inkarnasi dipahami sebagai tindakan Allah memasuki kehidupan manusia dan mengambil bagian dalam penderitaan dunia..
Salib kemudian ditempatkan sebagai puncak dari tindakan kasih tersebut. Allah tidak hanya menunggu manusia kembali, tetapi dalam keyakinan Kristen mengambil inisiatif untuk mendatangi manusia yang tersesat.
Dengan demikian, radaph dalam Mazmur 23:6 dapat dibaca sebagai salah satu metafora tentang kasih yang aktif: kasih yang mencari, menjangkau, dan membawa manusia kembali kepada sumber keselamatannya.
Ketika manusia justru dikejar ketakutan
Pembacaan ini juga memiliki konsekuensi praktis bagi manusia modern.
Banyak orang hidup dengan perasaan terus dikejar: oleh kesalahan masa lalu, persoalan ekonomi, kecemasan tentang masa depan, kegagalan, atau ketidakpastian.
Mazmur 23 menawarkan perspektif yang berbeda. Di tengah berbagai hal yang mengejar manusia, ada keyakinan bahwa kebaikan dan kasih setia Tuhan juga terus mengejar.
Ini bukan berarti penderitaan otomatis hilang. Mazmur 23 sendiri berbicara tentang “lembah kekelaman”. Namun, kehadiran gembala membuat lembah itu tidak lagi menjadi ruang tanpa harapan.
Dalam perspektif tersebut, iman bukan janji bahwa manusia tidak akan menghadapi kesulitan, melainkan keyakinan bahwa ia tidak menghadapinya seorang diri.
Tujuan akhirnya adalah rumah
Mazmur 23:6 tidak berhenti pada gambaran tentang pengejaran. Ayat itu berakhir dengan kerinduan untuk “diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa”.
Karena itu, pengejaran ilahi dalam pembacaan teologis tersebut bukanlah pengejaran untuk menghukum. Tujuannya justru adalah membawa manusia pulang.
Rumah Tuhan menjadi simbol kehadiran, keamanan, dan persekutuan dengan Allah. Setelah perjalanan panjang melewati padang gurun kehidupan, manusia pada akhirnya diarahkan kepada tempat di mana ia dapat beristirahat.
Dengan demikian, radaph menghadirkan paradoks yang menarik: manusia yang merasa sedang berlari menjauh justru tidak pernah benar-benar lepas dari jangkauan kasih Allah.
Mazmur 23:6 pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang manusia yang mengikuti Tuhan. Ayat itu juga dapat dibaca sebagai kesaksian tentang Tuhan yang terus mendatangi manusia melalui kebaikan dan kasih setia-Nya.
Di tengah dunia yang membuat manusia merasa harus terus berlari, pesan itu sederhana: ada kasih yang tidak berhenti mengejar.
















