*
Jakarta – Grup band legendaris Slank resmi meluncurkan album studio ke-26 bertajuk “Republik Fufufafa” pada Kamis, 5 Juni dan tanggal peluncuran sengaja dipilih bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, selaras dengan salah satu tema besar yang diusung dalam album terbaru ini.
Peluncuran digelar di Markas Slank, Jl. Potlot, Jakarta Selatan. Album _Republik Fufufafa_ berisi 10 lagu baru yang proses rekamannya dilakukan selama Ramadan 2025. Pengerjaan awal berlangsung di Flat 5 Studio milik Ridho Hafiedz, kemudian dilanjutkan di Parah Studio, Potlot 14.
Empat Unsur Utama: Cinta, Alam, Sosial, dan Youth
Dalam karya terbarunya, Slank tetap konsisten mengangkat empat unsur utama yakni cinta, alam, sosial, dan youth. Kritik sosial yang menjadi ciri khas Slank juga masih kental terasa di beberapa lagu.
Salah satunya lewat single “Rusak Ancur” ciptaan Bimbim, yang dirilis bersamaan dengan video musik. Lagu ini menjadi bentuk kritik keras Slank terhadap kerusakan alam akibat ulah banyak pihak.
Kaka turut menyumbang lagu “Jangan Rakus” sebagai pengingat untuk hidup secukupnya. “Ambil yang kau perlu, makan yang kau butuh,” menjadi pesan utama lagu ini. Lirik “Diikutin gak cukup-cukup ngebandingin orang melulu” menyasar fenomena ‘Kaum Mendang-Mending’ yang gemar membandingkan diri dengan orang lain.
Lagu Cinta Khas Slank
Adapun albumnya, terdapat _Ku Tak Mungkin_, lagu cinta terbaru Slank dengan aransemen yang nyaman di telinga. Lagu ini menyuarakan wujud kesetiaan terhadap pasangan tanpa batasan, mengingatkan pada lagu-lagu hits Slank sebelumnya.
Tema cinta juga hadir di _Di Dekatmu_, kolaborasi Kaka dan Bimbim. Dengan lirik sederhana berbahasa slengean dan aransemen melankolis elegan, lagu ini mengisahkan kerinduan seorang pria terhadap perempuan yang dicintainya.
Sementara “My Rinduku” ciptaan Bimbim tampil to the point mewakili rasa rindu pada pasangan. Lagu bernuansa rock n’ roll ringan ini kembali menghadirkan siulan khas Slank yang sudah lama tidak terdengar.
Soroti Isu PPN, Bisnis Gelap Hingga AI
Bimbim menyebut semua lagu di album ini merupakan potret berita yang mereka tangkap dari wartawan. “Bahkan lagu PPN 12 persen dalam dark bisnis seperti narkoba, judi hingga prostitusi banyak sekali perputarannya dan banyak oknum yang bermain di sana. Ini banyak membuka mata bahwa banyak bisnis gelap di mana banyak oknum bermain,” ujar Bimbim.
Album ini juga merespons perkembangan teknologi terkini, termasuk pemanfaatan Kecerdasan Buatan. “AI mainan baru buat Slank. Budak baru. Budak teknologi yang jangan dimusuhin tapi digunakan sebaik-baiknya,” kata Bimbim.
Nama “Fufufafa” sendiri disebut Bimbim sebagai lambang kekhawatiran. “Bangsa Indonesia pernah menjadi bangsa yang paling kurang ajar bersosial media. Kita shock juga,” ungkapnya merefleksikan fenomena psikologi digital masyarakat.
Proses Kreatif Lintas Tahun
Sebagian besar lagu dalam album ditulis Bimbim sepanjang 2024. Sementara Kaka menyumbangkan karya yang ia tulis sejak 2021. Perpaduan ide dari dua periode berbeda menghasilkan warna musik beragam namun tetap khas Slank.
Dari sisi musikalitas, “Republik Fufufafa” menawarkan eksplorasi genre lebih luas. Pendengar akan menemukan nuansa rock alternatif, rock n’ roll, hingga balada melankolis yang emosional.
Dengan “Republik Fufufafa”, Slank membuktikan konsistensinya sebagai band yang tetap relevan lintas generasi: menghibur sekaligus menyuarakan kritik sosial yang tajam.


















