Vihara Dharma Jaya Toasebio Petak Sembilan, Glodog, Jakarta Gelar Kongkow Budaya ke-4

 

Jakarta, Metropolitanpost.id

 

 

Kementerian Agama menetapkan Vihara Dharma Jaya Toasebio Petak Sembilan, Glodog, Jakarta Barat sebagai prasasti sejarah usai pemasangan dan penandatanganan prasasti yang dipajang pada bagian dalam bangunan.

Peresmian ditandai pembukaan selubung kain berwarna merah dilaksanakan oleh Staf Khusus Menteri Agama bidang Media dan Komunikasi Publik Wibowo Prasetyo dan Ketua Yayasan Vihara Dharma Jaya Toasebio Arifin Tanzil pada Sabtu.

Siaran pers yang diterima di Jakarta, Senin, menyebutkan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menandatangani prasasti bersejarah tersebut di Kantor Kementerian Agama RI Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat pada 12 Mei lalu.

Kelenteng Toasebio sudah berdiri sejak dibangun kembali pada 1751 dan saat ini sudah berusia 271 tahun.

Pada kesempatan itu, Wibowo Prasetyo menyampaikan apresiasi atas upaya Yayasan Vihara Dharma Jaya Toasebio membangun prasasti sebagai wujud bakti kepada para pendahulu.

Serta sebagai edukasi kepada generasi penerus saat ini untuk dapat mengingat jasa dan budi baik yang dilakukan oleh para sesepuh pada masa sebelumnya, sekaligus memberikan penghormatan kepada para pendiri yayasan atas dedikasinya selama ini.Vihara ini didirikan sembilan orang, yakni Ferdinand Kencana Jaya, Husin Buntara Sjarifudin, Husen Buntara Sjarifudin, Agustinawati, Rachman Santosa, Lauw Kiong Hoa, Wong Sem Fie, Harjanto, dan Mujadin Pangestu.

“Penghormatan yang tinggi kepada sembilan pendiri pada tahun 1983 secara bersama-sama mendirikan Yayasan Wihara Dharma Jaya Toasebio yang berkembang hingga saat ini,” kata Wibowo.

Lebih jauh Wibowo mengatakan prasasti ini juga akan menjadi sarana mengingatkan pentingnya peduli dan mengerti sejarah, catatan yang akan diwariskan kepada generasi mendatang.

“Generasi sebelumnya membangun jalan yang akan dilalui oleh generasi yang akan datang,” tutur Wibowo mengutip pepatah bijak.

Sedangkan, Ketua Yayasan Dharma Jaya Toasebio Arifin Tanzil dalam sambutannya menjelaskan tentang sejarah berdirinya yayasan hingga manfaatnya bagi umat Budha.Dia juga menyampaikan sejarah ketika kakeknya menghibahkan sebidang tanah kepada yayasan di Wihara Dharma Jaya Toasebio.

“Saat ini tanah yang dihibahkan telah menjadi sepenuhnya milik yayasan Wihara Dharma Jaya Tosebio,” kata Arifin.

Kelenteng ini dibangun lagi mulai tahun 1751 dan pada tahun 1754 difungsikan sebagai tempat ibadah orang Tionghoa di Batavia. Kelenteng ini sempat dihanguskan pemerintah Hindia Belanda karena berkaitan dengan oknum yang terlibat dalam tragedi Kali Angke dan Geger Pecinan.

Dalam rangka memperjelas sejarah maka dibuatlah prasasti sejarah kelenteng, agar diketahui masyarakat dan wisatawan mancanegara.

Kevin Wu, Ketua Dharmapala Forum Aktivis Buddha bersatu (FABB) yang hadir pada kesempatan itu mengajak para pemuda untuk bangkit dan turut berperan aktif membangun semangat persaudaraan dan persatuan serta menjaga keberagaman.

 

Penjualan pernak-pernik perayaan Imlek seperti kertas angpao, hiasan shio, ataupun lampion membawa rezeki berlipat bagi pedagang di Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat, dengan keuntungan yang meningkat lebih dari 100 persen.

“Keuntungan saya bisa tiga kali lipat. Per harinya saya dapat pemasukan sekitar satu juta rupiah dari kertas angpao ini, dan pernak-pernik lainnya,” kata pedagang yang datang dari Surabaya, Paijo (35) dan akrab disapa Jojo, di Petak Sembilan, Jakarta, Kamis.

Bahkan, ketika dua minggu hingga satu minggu menjelang Imlek, yakni 17 hingga 24 Januari lalu, pemasukan dari penjualan pernak-pernik yang didominasi kertas angpau itu, bisa mencapai lebih dari Rp2 juta per hari.

Pada hari biasa, Jojo yang menjual obat-obatan herbal, hanya mendapat Rp300 ribu per harinya.

“Saya jual kertas angpaonya dengan harga Rp4000 per kotaknya, tapi sekarang karena udah mau Imlek, harganya diturunin, jadi 10 ribu dapat empat,” kata Jojo, yang mengambil stok dagangan di Pasar Asemka, Jakarta Barat.

Lain dengan Jojo, pedagang pernak-pernik lainnya, Novriyanti mengaku mampu meraih pemasukan hingga mencapai empat juta per harinya, dibandingkan keuntungan satu juta per hari ketika dia menjual perkakas rumah tangga pada hari biasa.

Pemasukan Novriyanti yang jauh melebihi Jojo, disebabkan karena wanita berusia 24 tahun itu juga menjual makanan khas Imlek seperti dodol China, yang dia banderol Rp25 ribu perkilogram.

Menurut dia, penjualan dodol China juga tak kalah dengan kertas angpao. Per harinya, Novriyanti dapat menjual 50 kilogram dodol China.

“Jika sudah begini, saya bisa terus berjualan pernak-pernik Imlek, sampai semua barang dagangan habis, walaupun hingga hari-hri setelah perayaan Tahun Baru Imlek berakhir,” ujarnya.

Menurut Ketua RW 01 Glodok, Tamansari, Jakarta Barat, Ferry Setyawan, jumlah pedagang dan juga pengunjung yang akan beribadah ke dua wihara besar di Petak Sembilan, akan semakin ramai hingga Kamis malam.

Dia prediksikan, jumlah warga yang beribadah ke dua wihara besar yakni Wihara Dharma Bhakti dan Dharma Jaya akan mencapai 10 ribu orang dan datang dari berbagai daerah di luar Jakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini