Jakarta, Universitas YARSI Jakarta menggelar seminar dengan tema ; “Fostering Digital Leadership Among Santri; The Role of Pesantren Libraries in Develoving Media Literacy and Cyber Ethics” di Universitas YARSI Jakarta pada hari Senin, 3 Agustus 2026.
Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan dinilai dapat menjadi alat bantu yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Namun, penggunaannya harus tetap mengedepankan etika, integritas akademik, dan kemampuan berpikir kritis peserta didik.
Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Wening Sari, mengatakan AI bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan teknologi yang dapat mempermudah pekerjaan apabila digunakan secara bijak.
“AI itu bukan sesuatu yang haram. Justru banyak membantu kita mempercepat pekerjaan dan membuat hasil kerja menjadi lebih rapi,” ujarnya usai acara International Community Derelopment 2026 yang diselenggarakan di Universitas Yarsi (3/8/2026).
Menurutnya, bagi dosen maupun guru, AI dapat dimanfaatkan untuk merancang metode pembelajaran yang lebih menarik dan bervariasi, membantu menyusun soal, hingga meringankan berbagai pekerjaan administrasi.
Sementara bagi mahasiswa, siswa, maupun santri, AI dapat menjadi sarana belajar mandiri. Misalnya, untuk menjelaskan konsep yang sulit dengan bahasa yang lebih sederhana, membuat latihan soal, hingga membantu menyusun presentasi, grafik, maupun ilustrasi.
Meski demikian, Wening menegaskan AI tidak boleh digunakan sebagai jalan pintas untuk mengerjakan seluruh tugas tanpa proses berpikir.
“Yang tidak boleh adalah ketika tugas dikerjakan seratus persen oleh AI. Itu sudah masuk ke ranah plagiarisme,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa AI bukan sumber informasi yang selalu benar karena hanya mengolah data yang tersedia di internet. Oleh sebab itu, hasil yang diberikan AI tetap harus diverifikasi, diedit, dan disesuaikan dengan pemahaman pengguna.
“Kalau diambil mentah-mentah, justru bisa menurunkan integritas kita. Orang akan melihat bahwa kita tidak benar-benar berpikir, hanya menyalin hasil AI,” katanya.
Di lingkungan kampusnya, lanjut Wening, telah diterapkan aturan mengenai integritas akademik dalam penggunaan AI. Penggunaan AI diperbolehkan sebagai alat bantu, tetapi setiap karya yang memanfaatkan AI wajib mencantumkan keterangan atau deklarasi bahwa proses penyusunannya dibantu oleh teknologi tersebut.
“Kalau gambar, skema, atau karya tertentu dibuat dengan bantuan AI, sebaiknya dinyatakan secara terbuka. Itu bentuk transparansi dan kejujuran akademik,” jelasnya.
Menurut Wening, tantangan terbesar penggunaan AI di dunia pendidikan adalah menjaga agar peserta didik tidak kehilangan kemampuan berpikir kritis.
Ia berharap para dosen, guru, maupun ustaz mampu merancang metode pembelajaran dan penugasan yang tetap mendorong mahasiswa, siswa, maupun santri untuk menganalisis, mengevaluasi, dan menyelesaikan persoalan secara mandiri meskipun memanfaatkan AI sebagai alat bantu.
“AI akan sangat membantu apabila seseorang sudah memiliki dasar pengetahuan yang kuat. Tetapi kalau sejak awal hanya bergantung pada AI tanpa belajar terlebih dahulu, itu justru bisa menyesatkan pemahaman,” pungkasnya.


















