[Foto: Istimewa]
METROPOLITAN POST— Jejak diplomasi Kesultanan Gowa dalam upaya memulangkan jenazah Syekh Yusuf Al-Makassari dari pengasingan menjadi salah satu catatan sejarah yang menarik untuk kembali diungkap. Melalui penelusuran arsip Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), sejarah tersebut memperlihatkan bagaimana diplomasi kerajaan berperan dalam memperjuangkan penghormatan terhadap ulama besar dan tokoh penting Nusantara.
Hal tersebut disampaikan Yang Mulia (YM) Iftiqar S.A. Ponto dalam Forum Komunikasi Majelis Adat Indonesia (MAI) yang dihadiri para raja, sultan, datuk, ratu, serta tokoh pemangku adat dari berbagai daerah di Indonesia,(25/10).
Dalam pemaparannya, Iftiqar mengangkat tema *“Jejak Diplomatik Pemulangan Jenazah Syekh Yusuf: Menggugah Arsip Batavia 1704”*. Ia mengajak para tokoh adat untuk melihat kembali sejarah bukan hanya sebagai catatan masa lalu, melainkan juga sebagai sumber pembelajaran mengenai martabat, diplomasi, perjuangan, dan hubungan antarkerajaan di Nusantara.
Menurut Iftiqar, dokumen sejarah yang berkaitan dengan Kesultanan Gowa dan VOC pada 1704 menyimpan informasi penting mengenai upaya pemulangan Syekh Yusuf Al-Makassari, seorang ulama yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.
“Arsip bukan sekadar dokumen tua yang tersimpan di tempat penyimpanan sejarah. Di dalamnya terdapat jejak perjuangan, hubungan diplomatik, dan nilai-nilai yang dapat kita pelajari untuk memahami perjalanan bangsa,” demikian pokok pemikiran yang diangkat dalam paparannya.
Diplomasi Kesultanan Gowa dan Perjuangan Memulangkan Syekh Yusuf
Syekh Yusuf Al-Makassari dikenal sebagai ulama, pejuang, dan tokoh perlawanan terhadap kolonialisme. Setelah terlibat dalam perlawanan terhadap kekuasaan Belanda, ia mengalami pengasingan ke Ceylon, yang kini dikenal sebagai Sri Lanka, sebelum kemudian dipindahkan ke wilayah Kaapstad atau Cape Town, Afrika Selatan.
Syekh Yusuf wafat di Zandvliet pada 1699. Kepergiannya di negeri pengasingan meninggalkan persoalan besar bagi keluarga, murid-murid, dan pihak Kesultanan Gowa yang menginginkan agar jasadnya dapat kembali ke tanah kelahirannya.
Dalam pemaparannya, Iftiqar menyoroti upaya diplomatik Kesultanan Gowa untuk menjalin komunikasi dengan pihak VOC. Perjuangan tersebut menunjukkan bahwa diplomasi kerajaan pada masa itu tidak hanya berkaitan dengan perdagangan dan batas wilayah, tetapi juga menyangkut penghormatan terhadap tokoh agama serta ikatan emosional antara seorang tokoh dan tanah asalnya.
Menurut uraian sejarah yang disampaikannya, proses komunikasi dan negosiasi tersebut akhirnya membuka jalan bagi pemulangan Syekh Yusuf beserta anggota keluarga yang mendampinginya selama masa pengasingan.
Mengungkap Dokumen VOC Bertanggal 1704
Salah satu bagian yang menjadi perhatian dalam pemaparan Iftiqar ialah dokumen terjemahan surat berbahasa Melayu yang tercatat dalam arsip VOC dengan judul *Translaat maleijse briefjes*, pada halaman 343.
Berdasarkan keterangan yang dipaparkannya, dokumen tersebut berkaitan dengan surat Kesultanan Gowa yang diterima di Batavia pada 9 September 1704. Surat itu merekam ungkapan kegembiraan pihak Gowa atas kabar bahwa Syekh Yusuf yang wafat di negeri asing dapat dimakamkan kembali di tanah airnya.
Dalam kutipan terjemahan yang disampaikan, pihak Gowa mengungkapkan rasa syukur atas kemungkinan pemulangan Syekh Yusuf serta pengembalian anggota keluarga yang mendampinginya selama pengasingan.
Dokumen tersebut juga disebut memuat tata krama diplomatik berupa penyampaian salam hormat dan hadiah kepada Gubernur Jenderal VOC, Willem van Outhoorn.
Selain persoalan pemulangan Syekh Yusuf, surat itu menggambarkan dinamika hubungan politik antara Kesultanan Gowa dan pejabat Kompeni, termasuk persoalan batas wilayah permukiman atau *negorij*.
Bagi Iftiqar, keberadaan catatan semacam ini memperlihatkan bahwa hubungan kerajaan Nusantara dengan VOC memiliki dimensi yang kompleks. Di tengah ketimpangan kekuasaan kolonial, jalur diplomasi tetap menjadi salah satu instrumen untuk memperjuangkan kepentingan kerajaan, masyarakat, dan tokoh yang dihormati.
Pemulangan Syekh Yusuf dan Makna Martabat Nusantara
Pemulangan jasad Syekh Yusuf ke Sulawesi pada 1704 memiliki makna yang melampaui urusan pemakaman. Peristiwa tersebut menjadi bagian dari sejarah penghormatan Kesultanan Gowa terhadap seorang ulama dan pejuang yang memiliki ikatan kuat dengan masyarakat serta tanah kelahirannya.
Syekh Yusuf kemudian dimakamkan di Lakiung, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Hingga kini, namanya tetap dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Islam, perjuangan antikolonial, dan perkembangan intelektual Nusantara.
Iftiqar mengajak para pemangku adat untuk memandang warisan sejarah tersebut sebagai pengingat bahwa kehormatan sebuah bangsa juga dibangun melalui kemampuan menjaga ingatan kolektif, merawat peninggalan leluhur, serta menghargai perjuangan para tokoh terdahulu.
Sejarah diplomasi Kesultanan Gowa, menurut gagasan yang diangkat dalam forum tersebut, juga memberikan pelajaran tentang pentingnya kecakapan bernegosiasi, keteguhan memperjuangkan kepentingan masyarakat, serta kemampuan menjaga martabat di tengah perubahan politik dan kekuasaan.
### MAI Menjadi Ruang Dialog Sejarah dan Kebudayaan
Pemaparan Iftiqar dalam Forum Komunikasi MAI menjadi bagian dari dialog kebangsaan yang mempertemukan para raja, sultan, datuk, ratu, dan tokoh pemangku adat dari berbagai daerah di Indonesia.
Forum tersebut membuka ruang pertukaran pengetahuan mengenai sejarah kerajaan, tradisi, warisan budaya, serta kontribusi para tokoh Nusantara dalam perjalanan bangsa.
Pengungkapan arsip VOC mengenai pemulangan Syekh Yusuf juga menjadi pengingat bahwa sejarah Indonesia tidak hanya dibangun melalui peperangan, tetapi turut dibentuk oleh diplomasi, komunikasi antarkerajaan, dan perjuangan mempertahankan kehormatan.
Melalui forum ini, MAI diharapkan dapat terus menjadi ruang bagi para pemangku adat untuk memperkaya wawasan sejarah, memperkuat persaudaraan lintas daerah, serta menumbuhkan kepedulian terhadap pelestarian warisan budaya Nusantara.
Bagi generasi sekarang, kisah Syekh Yusuf Al-Makassari menyampaikan pesan bahwa perjuangan tidak selalu berakhir ketika seseorang meninggalkan tanah kelahirannya. Ingatan, penghormatan, dan upaya memulihkan martabat dapat terus hidup melintasi zaman.
(RED)











