Jakarta – Dewan Adat Bamus Betawi sukses menggelar acara Halal Bihalal Silaturahmi Kebangsaan dan Raker III Tahun 2026 di Gedung Vokasi, Jakarta, Minggu (10/5/2026). Kegiatan tersebut dihadiri tokoh adat, pengurus organisasi, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen masyarakat Betawi.
Semangat persatuan, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan identitas budaya mewarnai kegiatan Halal Bihalal Silaturahmi Kebangsaan & Rapat Kerja III Dewan Adat Bamus Betawi yang berlangsung penuh kehangatan dan semangat kebersamaan. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mempererat tali silaturahmi sekaligus memperkuat peran masyarakat Betawi dalam pembangunan ekonomi modern di Jakarta.
Dalam sambutannya, Afriansyah Noor menegaskan pentingnya menciptakan wirausahawan baru di tengah keterbatasan daya serap industri formal. Menurutnya, kemandirian ekonomi masyarakat harus diperkuat melalui program-program strategis pemerintah yang berpihak kepada rakyat.
Kita juga ingin melahirkan wirausahawan. Isunya adalah keterbatasan daya serap industri formal yang harus diimbangi dengan kemandirian ekonomi. Solusinya melalui program Tenaga Kerja Mandiri (TKM). Kementerian Ketenagakerjaan memberikan fasilitas modal dan pendampingan bagi warga untuk membuka usaha sendiri,” ujar Afriansyah Noor.
Ia menjelaskan, melalui program TKM, pemerintah tidak hanya menyiapkan pelatihan keterampilan, tetapi juga dukungan modal usaha yang diberikan negara di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Program tersebut diharapkan mampu melahirkan pelaku usaha baru yang mandiri dan berdaya saing.
Lebih lanjut, Afriansyah Noor menilai masyarakat Betawi memiliki potensi besar di sektor kuliner, jasa kreatif, dan UMKM. Namun, menurutnya, potensi tersebut harus didorong menuju sistem yang lebih modern melalui penguatan manajemen profesional dan digital marketing.
“Kita harus memodernisasi UMKM dengan sentuhan manajemen profesional dan digital marketing. Transformasi UMKM dari tradisional ke modern akan menciptakan lapangan kerja baru dan memperkuat struktur ekonomi lokal masyarakat Betawi itu sendiri,” katanya.
Dalam paparannya, Wamenaker juga menekankan pentingnya reposisi masyarakat Betawi dari identitas ekonomi lokal informal menjadi talenta kompetitif di era digital dan industri kreatif. Ia mengajak masyarakat Betawi untuk menjadi pemain utama dalam arsitektur ekonomi modern Jakarta.
“Kita harus menempatkan keluarga Betawi pada posisi strategis sebagai ahli, manajer, dan pemilik bisnis di Jakarta. Reposisi ini menuntut perubahan pola pikir bahwa kita adalah pemain utama dalam struktur ekonomi modern,” tegasnya.
Afriansyah Noor juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan organisasi masyarakat. Menurutnya, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan mitra strategis di lapangan.
Dalam hal ini, Bamus Betawi dinilai memiliki peran vital sebagai kekuatan sosial dan kultural yang mampu menjembatani program pemerintah dengan kebutuhan masyarakat.
“Bamus Betawi harus aktif menjembatani program pemerintah dengan masyarakat, memfasilitasi BLK komunitas, serta memberikan inspirasi kepada generasi muda agar siap menghadapi tantangan ekonomi digital,” pungkasnya.
Kegiatan Halal Bihalal dan Rapat Kerja III ini menjadi bukti nyata komitmen bersama dalam memperkuat persatuan, melestarikan budaya Betawi, serta mendorong lahirnya generasi unggul yang mampu bersaing di era modern tanpa meninggalkan identitas budaya lokal.
Acara yang berlangsung penuh kekeluargaan itu menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat konsolidasi organisasi dalam menjaga budaya dan marwah masyarakat Betawi di tengah perkembangan zaman.
Ketua Umum Dewan Adat Bamus Betawi, Eki Pitung, dalam keterangannya menegaskan bahwa budaya Betawi harus terus dijaga sebagai identitas dan kekuatan persatuan masyarakat.
“Raker III ini bukan hanya agenda organisasi, tetapi menjadi momentum memperkuat persaudaraan dan kebersamaan masyarakat Betawi. Kita ingin budaya Betawi tetap hidup, dihormati, dan diwariskan kepada generasi muda,” ujar Eki Pitung.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi seluruh elemen masyarakat dalam menjaga nilai adat, budaya, dan semangat kebangsaan.
“Kami ingin Dewan Adat Bamus Betawi hadir sebagai rumah besar masyarakat Betawi. Melalui silaturahmi kebangsaan ini, kita memperkuat persatuan, menjaga tradisi, dan bersama-sama membangun Jakarta yang tetap menghargai akar budayanya,” tambahnya.
Dalam Raker III tersebut, Dewan Adat Bamus Betawi turut membahas sejumlah program strategis organisasi, mulai dari penguatan budaya, pemberdayaan masyarakat adat, hingga keterlibatan generasi muda dalam pelestarian budaya Betawi.
Suasana acara berlangsung hangat dan penuh semangat kebersamaan. Halal bihalal dan rapat kerja ini diharapkan menjadi langkah awal memperkuat sinergi antar pengurus serta memperbesar peran Dewan Adat Bamus Betawi dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat.
Rakernas III Dewan Adat Bamus Betawi 2026, Eki Pitung: Betawi Perekat Jakarta dan Penjaga Keutuhan Bangsa
Semangat menjaga budaya, persatuan, dan identitas masyarakat Betawi mengemuka dalam kegiatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III Dewan Adat Bamus Betawi Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan Halal Bihalal dan Silaturahmi Kebangsaan. Acara tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat peran masyarakat Betawi sebagai perekat sosial Kota Jakarta sekaligus penjaga keutuhan bangsa Indonesia.
Dalam wawancara bersama awak media, Eki Pitung menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan Rakernas III yang berlangsung penuh kekeluargaan dan semangat kebangsaan.
“Alhamdulillah tadi kita membuka halal bihalal dan juga silaturahmi kebangsaan. Kita meluncurkan semangat bahwa Betawi adalah perekat Jakarta, perekat bangsa Indonesia sejak lama, sejak masa pra kemerdekaan hingga hari ini,” ujar Eki Pitung.
Ia menjelaskan, Rakernas III merupakan amanah organisasi sebagaimana tertuang dalam AD/ART Dewan Adat Bamus Betawi yang harus dilaksanakan secara berkala guna menyusun program dan langkah strategis organisasi ke depan.
Menurutnya, Rakernas tahun 2026 memiliki makna penting karena Jakarta akan memasuki usia 500 tahun atau lima abad pada tahun 2027 mendatang. Momentum tersebut dinilai harus menjadi perhatian serius seluruh elemen masyarakat, khususnya masyarakat Betawi sebagai penduduk asli Jakarta.
“Dewan Adat Bamus Betawi sebagai wadah berhimpunnya ormas-ormas kebetawian, yayasan, sanggar, dan perguruan mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga Jakarta, menjaga Betawi, dan menjaga NKRI agar tetap rukun, damai, dan sejuk,” katanya.
Salah satu program unggulan yang disampaikan dalam Rakernas III adalah usulan pelestarian kampung-kampung Betawi di Jakarta. Eki Pitung mengungkapkan kekhawatiran bahwa modernisasi dan status Jakarta sebagai kota global dapat menggerus identitas budaya Betawi apabila tidak dijaga sejak sekarang.
“Kami mengusulkan kepada pemerintah daerah agar kampung-kampung Betawi seperti Kemayoran, Tanah Abang, Rawa Belong, Kampung Melayu, hingga Warung Buncit ditetapkan dan dilestarikan sebagai kawasan budaya Betawi,” ungkapnya.
Ia menilai saat ini banyak ornamen dan bangunan khas Betawi yang mulai hilang akibat perkembangan zaman dan pembangunan kota. Karena itu, pelestarian kawasan budaya menjadi langkah penting agar tradisi dan identitas Betawi tidak punah.
Eki Pitung juga mencontohkan sejumlah kota global di dunia yang kehilangan identitas masyarakat aslinya akibat arus modernisasi yang tidak terkendali. Menurutnya, Jakarta harus belajar dari pengalaman tersebut agar masyarakat Betawi tetap memiliki ruang dan peran strategis di tanah kelahirannya sendiri.
“Kalau kota global tanpa pelestarian budaya, masyarakat aslinya bisa hilang. Kita belajar dari berbagai negara. Karena itu Betawi harus tetap eksis dan menjadi bagian penting dalam pembangunan Jakarta,” tegasnya.
Berdasarkan data kependudukan tahun 2025 yang disampaikan dalam Rakernas, masyarakat Betawi saat ini tercatat sekitar 2,7 juta jiwa dari total 10 hingga 11 juta penduduk Jakarta, sekaligus menjadi kelompok penduduk terbesar ketiga setelah Jawa dan Sunda.
Dengan jumlah tersebut, Eki Pitung berharap masyarakat Betawi dapat terus menjadi perekat sosial dan simbol persatuan di tengah keberagaman masyarakat Jakarta.
“Mudah-mudahan Betawi tetap menjadi perekat Jakarta dan perekat bangsa Indonesia sebagai masyarakat asli yang terus menjaga persatuan dan kebhinekaan,” pungkasnya.


















