Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BERITA

Pameran “Arsir Garis” Angkat Kearifan Arsitektur Baduy Luar Lewat Riset Lapangan

Avatar photo
106
×

Pameran “Arsir Garis” Angkat Kearifan Arsitektur Baduy Luar Lewat Riset Lapangan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

metropolitanpost.id – Arsitektur vernakular masyarakat Baduy Luar tidak hanya dipandang sebagai bentuk bangunan, tetapi juga sebagai representasi nilai, budaya, serta hubungan harmonis antara manusia dengan alam. Gagasan tersebut dihadirkan dalam Pameran Sketsa “Arsir Garis: Dokumentasi Arsitektur Vernakular Kadu Ketug Baduy Luar, Banten” yang diselenggarakan Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Banten melalui Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan di City Gallery Tangerang Selatan, Jumat (24/7/2026).

Pameran ini merupakan luaran dari penelitian lapangan yang dilakukan selama tiga hari dua malam di Kampung Kadu Ketug, Baduy Luar. Seluruh hasil observasi kemudian diterjemahkan ke dalam karya sketsa sebagai media dokumentasi sekaligus sarana edukasi untuk memperkenalkan kekayaan arsitektur vernakular kepada masyarakat luas.

Example 300x600

Ketua Pelaksana kegiatan, Marchelia Gupita Sari, S.T., M.Arch., mengatakan pameran ini dirancang tidak hanya sebagai ruang apresiasi seni, tetapi juga menjadi media pembelajaran yang mengajak masyarakat memahami filosofi kehidupan masyarakat Baduy melalui arsitektur yang mereka bangun dan pertahankan hingga kini.

“Arsitektur Baduy bukan sekadar rumah atau bangunan. Di dalamnya terdapat nilai kehidupan, tata ruang, hubungan sosial, hingga penghormatan terhadap alam. Melalui pameran ini kami ingin menghadirkan pengalaman yang membuat masyarakat tidak hanya melihat bentuk fisiknya, tetapi juga memahami nilai yang melatarbelakanginya,” ujar Marchelia.

Ia menjelaskan, proses dokumentasi dilakukan secara langsung dengan tinggal bersama masyarakat Baduy selama tiga hari dua malam. Pendekatan tersebut dipilih agar tim peneliti mampu memahami kehidupan masyarakat secara menyeluruh sebelum menerjemahkannya ke dalam karya sketsa.

“Sketsa menjadi cara kami membaca ruang dan merekam pengalaman. Setiap garis lahir dari proses pengamatan, dialog, dan interaksi dengan masyarakat. Karena itu, karya yang ditampilkan hasil interpretasi dari sebuah perjalanan riset,” katanya.

Penyelenggaraan kegiatan ini didukung oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang Selatan yang memfasilitasi penggunaan City Gallery sebagai ruang publik untuk memperkenalkan hasil riset kebudayaan kepada masyarakat.

Selain menampilkan hasil dokumentasi dalam bentuk sketsa, pameran juga diisi dengan presentasi hasil riset, pertunjukan Happening Art oleh Sammy Rian Afanto, diskusi akademik, serta sesi berbagi pengalaman bersama masyarakat Baduy.

Arsitek Adriyan Kusuma, S.T., M.Arch., IAI., yang menjadi salah satu narasumber, menilai arsitektur vernakular Baduy menyimpan banyak pelajaran mengenai pembangunan yang berkelanjutan.

“Masyarakat Baduy telah mempraktikkannya keberlanjutan lingkungan sejak lama melalui pemanfaatan material lokal, penyesuaian terhadap kondisi alam, serta pola pembangunan yang menghormati lingkungan. Nilai-nilai tersebut layak menjadi inspirasi bagi praktik arsitektur masa depan,” ujar Adriyan.

Perspektif masyarakat adat turut dihadirkan melalui kehadiran Kang Jamal sebagai perwakilan masyarakat Baduy Luar. Dalam sesi diskusi, ia menyampaikan pandangan mengenai makna rumah, ruang hidup, serta tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Kehadiran masyarakat adat menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan ini agar dokumentasi budaya tidak hanya dipandang dari sisi akademik, tetapi juga menghadirkan suara dan pengalaman masyarakat sebagai pemilik tradisi.

Melalui pameran “Arsir Garis”, Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Banten berharap hasil riset kebudayaan dapat menjangkau masyarakat lebih luas sekaligus memperkuat kesadaran akan pentingnya menjaga warisan budaya Indonesia. Pameran ini menjadi bukti bahwa penelitian kebudayaan tidak berhenti pada laporan ilmiah, tetapi dapat diterjemahkan menjadi karya visual yang komunikatif, edukatif, dan mampu membangun apresiasi publik terhadap kekayaan arsitektur vernakular Nusantara.

Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui upaya konservasi, tetapi juga melalui dokumentasi, edukasi, dan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, praktisi, serta masyarakat adat. Dengan demikian, nilai-nilai kearifan lokal Baduy Luar diharapkan terus hidup, dipahami, dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian penting dari identitas budaya Indonesia.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *