BERITA

PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk Bersama Perumda Pasar Jaya Menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) Rencana Kerjasama Pembangunan Pasar Minggu Wilayah Jakarta Selatan

Avatar photo
48
×

PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk Bersama Perumda Pasar Jaya Menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) Rencana Kerjasama Pembangunan Pasar Minggu Wilayah Jakarta Selatan

Sebarkan artikel ini

Jakarta – PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk (BIKE) melalui anak perusahaannya PT Ratu Karya menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Perumda Pasar Jaya di Kantor Pusat Perumda Pasar Jaya, Jakarta, Kamis (17/9/2026). Kerja sama ini memperkuat kolaborasi kedua perusahaan dalam menciptakan Pasar Modern di Jakarta khususnya Pasar Minggu, wilayah Jakarta Selatan.

Penandatanganan MoU ini dilakukan oleh Direktur Utama Perumda Pasar Jaya, Agus Himawan Widiyanto dan Direktur PT Ratu Karya, Tessar Haditiya, disaksikan oleh Direktur Utama PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk (BIKE), Eric Kusuma dan jajaran direksi dan management Perumda Pasar Jaya, BIKE dan PT Ratu Karya. MoU ini menandai babak baru kolaborasi Perumda Pasar Jaya dengan BIKE mendukung program pemerintah dalam pembangunan Kota Jakarta dalam upaya meningkatkan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan ekonomi UMKM.

Kawasan Pasar Minggu, selama ini dikenal sebagai pusat perdagangan dan transportasi penting di Jakarta, kini menghadapi degradasi signifikan akibat kondisi yang semrawut dan tidak teratur. Kesemrawutan ini tidak hanya menyebabkan penurunan kualitas lingkungan dan efisiensi kawasan, tetapi juga menghilangkan unsur pembauran yang sebelumnya menjadi ciri khas Pasar Minggu. Untuk mengatasi masalah ini, Perumda Pasar Jaya dan BIKE bekerjasama dalam pengembangan ulang kawasan Pasar Minggu menjadi kawasan Transit-Oriented Development (TOD). Tapak terletak di daerah transit core karena berada dalam radius 0-200 meter dari stasiun sehingga kawasan ini dapat dimaksimalkan potensinya menjadi daerah kawasan TOD (transit oriented development).

Pendekatan TOD bertujuan untuk memaksimalkan potensi kawasan dengan mengintegrasikan moda transportasi umum, meningkatkan konektivitas, serta mengoptimalkan penggunaan lahan. Melalui desain yang memperhatikan integrasi transportasi, diharapkan kawasan ini dapat menjadi lebih teratur, nyaman, dan berkelanjutan. Penataan ini juga menekankan pentingnya studi lanjutan untuk memastikan perencanaan yang komprehensif dan implementasi yang efektif. Dengan demikian, transformasi kawasan Pasar Minggu dapat tercapai secara optimal, mengembalikan fungsi sosial dan ekonominya, serta menjadikannya contoh penerapan TOD yang berhasil di perkotaan Indonesia.

Dalam kesempatan ini, Direktur Utama BIKE, Eric Kusuma menjelaskan, Pembangunan Pasar Minggu ini diperkirakan akan menyerap nilai investasi hampir mencapai Rp. 1 Trilyun. Sebagai Pasar Modern, Pasar Minggu selain Kios dan Los Pasar UMKM juga akan dilengkapi Rumah Susun, Rumah Sakit, Perkantoran, Pusat Perbelanjaan, Food Court, dan fasilitas lainnya. Dengan lokasi yang sangat strategis tepat di tengah-tengah Kota Jakarta Selatan yang berbatasan langsung dengan Kota Depok, letak Pasar Minggu tepat disebelah Stasiun Kereta Api Pasar Minggu dan Terminal Bus dan Angkutan Dalam Kota, sangat memudahkan pedagang dan penghuni untuk mobilitas ke berbagai sudut kota Jakarta. Bahkan sangat mudah untuk bepergian keluar kota menuju Bandara, Stasiun MRT/LRT, Stasiun KAI Gambir, Stasiun KAI Pasar Senen dan sarana prasarana transportasi lainnya.

Pembangunan atau penataan fasilitas modern (seperti area belanja yang lebih tertata, revitalisasi pasar, atau infrastruktur pendukung seperti JPO modern) di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, membawa banyak sekali keuntungan bagi warga dan pedagang. Pasar merupakan salah satu bentuk penggerak perekonomian mandiri masyarakat. Karena itu, revitalisasi pasar menjadi langkah penting agar pengelolaannya lebih tertata, bersih, serta menghadirkan konsep ruang yang lebih modern dan nyaman, sehingga pasar tradisional tetap menjadi pusat aktivitas masyarakat dalam berbelanja. Melalui pendekatan yang tepat, pasar tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi, tetapi juga dapat menjadi ruang sosial yang memberikan kenyamanan bagi masyarakat saat berbelanja dan berinteraksi. Pembangunan kembali Pasar Mingggu ini yang menyesuaikan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai dan karakter utama pasar tradisional.

Simpul kawasan pasar minggu terdiri dari 3 unsur utama yaitu pasar tradisional, terminal, stasiun dan persimpangan jalan. Area pasar minggu didominasi oleh perumahan dan perdagangan. Area ini ramai namun sayangnya terjadi ketidakteraturan di kawasan ini. Area pasar minggu sendiri memiliki potensi yang besar karena merupakan kawasan transit dari stasiun kota sampai stasiun bogor dan stasiun depok sehingga dapat berpotensi untuk dikembangkan dan menjadi kawasan TOD.
Stasiun awal dari pasar minggu adalah stasiun kota dan berakhir di Depok dan Bogor. Pasar Minggu sendiri menjadi titik transit dari jalur tersebut (Bogor Line). Untuk terminal pasar minggu sendiri merupakan terminal kelas B memiliki beberapa angkutan umum yang tersedia diantaranya adalah: Bus Transjakarta, Jaklingko, Angkutan Kota Depok, KWK (Koperasi Wahana Kalpika) dan Mikrolet. Area simpul ini menjadi pusat keramaian kawasan pasar minggu yang memiliki simpul perdagangan dan simpul transportasi yang dapat memenuhi komoditas warga sekitar sehingga dapat disebut pula sebagai kawasan TOD.

Jenis jualan yang ada di pasar tradisional dilakukan pemerataan ke trade centre agar tidak terjadi penumpukkan di area pasar. Jenis jualan seperti elektronik, emas, perhiasan, swalayan, optik, bisa dipindahkan ke area trade centre sehingga menciptakan kawasan yang lebih tertata dan lebih lapang. Trade Centre menjadi area komersil untuk memenuhi akomodasi penghuni ataupun pengunjung yang ada ditapak. Komersil ditujukan agar tapak lebih bersifat dinamis dan tidak monoton.

Pembangunan gedung perkantoran menjadi strategi penting dalam memperbaiki infrastruktur untuk meningkatkan kinerja ekonomi. Permintaan akan ruang kerja yang memadai semakin meningkat, namun terbatasnya lahan yang tersedia menjadi kendala utama dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Kantor lahir seiring dengan semakin bertambahnya kebutuhan yang berasal dari profesi manusia yang formal, sehingga manusia memulai untuk membangun fasilitas yang didalamnya terdapat ruang-ruang perkantoran. Manusia memiliki berbagai kebutuhan hidup, contohnya tempat tinggal, tempat kerja, dan tempat berbelanja. Demi meningkatkan efisiensi kebutuhan-kebutuhan tersebut, dibutuhkan ruang yang mampu mewadahi beberapa fungsi sekaligus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *