Nasional

AI Disalahgunakan untuk Menguras Rekening, William Santoso Soroti Ancaman Kejahatan Siber

Avatar photo
4962
×

AI Disalahgunakan untuk Menguras Rekening, William Santoso Soroti Ancaman Kejahatan Siber

Sebarkan artikel ini

AI Disalahgunakan untuk Menguras Rekening, William Santoso Soroti Ancaman Kejahatan Siber

 

Jakarta, Metropolitanpost.id

 

Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini berpotensi menjadi alat baru bagi pelaku kejahatan siber untuk menipu masyarakat, mencuri identitas, hingga menguras rekening melalui penipuan digital yang semakin sulit dikenali. Menyikapi ancaman tersebut, Direktur Utama PT Siber Sentinel Asia, William Santoso, menekankan pentingnya penguatan keamanan siber dan peningkatan kewaspadaan masyarakat di tengah pesatnya transformasi digital.

Perhatian terhadap ancaman tersebut mengemuka dalam keikutsertaan PT Siber Sentinel Asia pada The 8th Indonesia 4.0 Conference & Expo 2026 yang berlangsung pada 13–14 Oktober 2026 di Hotel Bidakara, Jakarta. Mengusung tema “AI-Powered Industry: Shaping the Future of Intelligent Enterprise”, acara ini mempertemukan pelaku industri, penyedia teknologi, dan pengambil keputusan untuk membahas perkembangan teknologi serta masa depan industri digital Indonesia.

Penyalahgunaan AI dapat memperkuat berbagai modus penipuan, mulai dari kloning suara untuk menyamar sebagai anggota keluarga atau pejabat perusahaan, pembuatan video deepfake, hingga pesan phishing yang dirancang agar terlihat meyakinkan. Melalui rekayasa sosial tersebut, pelaku dapat berusaha memperoleh informasi rahasia perbankan atau mengelabui korban agar melakukan transaksi yang merugikan dirinya sendiri.

Risiko ini menunjukkan bahwa ancaman digital tidak hanya berkaitan dengan peretasan sistem secara teknis. Manipulasi psikologis dan penyalahgunaan identitas juga dapat menjadi pintu masuk bagi kejahatan keuangan, terutama ketika korban tidak melakukan verifikasi atas permintaan yang diterimanya.

William menyoroti pentingnya kesadaran keamanan digital agar masyarakat tidak mudah terjebak oleh pesan, panggilan, maupun video yang tampak autentik. Nasabah perlu menjaga kerahasiaan PIN, kata sandi, dan kode OTP, menghindari tautan mencurigakan, serta memverifikasi permintaan transaksi melalui saluran komunikasi resmi.

Di sisi lain, perusahaan juga perlu memperkuat perlindungan data, pengawasan akses, dan sistem keamanan infrastruktur digital. Pemanfaatan AI, Internet of Things (IoT), komputasi awan, dan otomatisasi memang menawarkan peningkatan efisiensi, tetapi harus diimbangi dengan pengelolaan risiko yang memadai.

Dalam industri yang semakin terkoneksi, keamanan siber menjadi bagian strategis dari keberlangsungan operasional dan perlindungan aset digital. Gangguan terhadap sistem dapat berdampak pada proses produksi, layanan pelanggan, serta kepercayaan terhadap perusahaan.

Melalui Indonesia 4.0 Conference & Expo 2026, penguatan keamanan siber menjadi isu yang relevan seiring percepatan adopsi teknologi di berbagai sektor. Transformasi digital yang berkelanjutan membutuhkan keseimbangan antara inovasi, efisiensi, perlindungan data, dan kesiapan menghadapi ancaman kejahatan siber.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *