metropolitanpost.id – Podcast Kasihtau telah merilis lebih dari 65 episode dalam kurun waktu sekitar tiga tahun, menghadirkan perbincangan dengan pengusaha, pejabat publik, hingga tokoh nasional. Di balik platform tersebut ada Suci Mila Ramadhani, perempuan yang membangunnya setelah sempat nyaris menyerah akibat kerugian bisnis ratusan juta rupiah di usia 24 tahun.
Mila, sapaan akrabnya, kini menjabat sebagai Founder, CEO, sekaligus host utama Podcast Kasihtau — sebuah platform yang menurutnya berkembang lebih jauh dari sekadar kanal konten, menjadi ruang bagi kolaborasi lintas sektor dan personal branding bagi para narasumbernya.
Titik Balik dari Sebuah Kegagalan
Ketertarikan Mila pada dunia usaha sudah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ia mulai terjun langsung ke dunia bisnis pada 2013 dengan mendirikan perusahaan event organizer pertamanya. Namun tak lama setelah itu, ia mengalami kerugian proyek yang menekan arus kas perusahaannya — sebuah pukulan berat bagi pemimpin bisnis perempuan yang saat itu masih sangat muda.
“Saat itu saya menyadari bahwa membangun usaha tidak selalu berjalan sesuai rencana, dan setiap keputusan bisnis selalu ada risiko,” kata Mila. “Yang paling penting bukan seberapa cepat kita berhasil, tetapi seberapa kuat kita mampu bertahan dan terus bangkit.”
Dari pengalaman itu, Mila melanjutkan perjalanannya memimpin sejumlah perusahaan di berbagai bidang, mulai dari event organizer, media kreatif, hingga pengembangan bisnis dan kemitraan strategis, sebelum akhirnya masuk ke dunia media digital.
Dari Newsroom ke Podcast
Sebelum menjadi pengusaha, Mila sempat bekerja di media daring Detikcom pada 2011–2013. Pengalaman itu, menurutnya, memberi fondasi awal dalam memahami cara kerja industri berita dan produksi konten.
Bertahun-tahun kemudian, setelah menjalani bisnis dan bertemu banyak pengusaha, profesional, dan tokoh dengan kisah yang menurutnya belum banyak terekspos, ia memutuskan membangun Podcast Kasihtau platform yang ia posisikan berbeda dari arus konten yang mengejar viralitas semata.
“Saya melihat media saat ini sudah sangat cepat dalam menyampaikan informasi untuk mengejar traffic. Namun saya ingin menghadirkan percakapan yang berkualitas,” ujarnya.
Panggung bagi Personal Branding
Sepanjang perjalanannya, Podcast Kasihtau telah menghadirkan lebih dari 65 narasumber lintas sektor, termasuk Wakil Menteri Perdagangan RI periode 2019–2024 Jerry Sambuaga, Wali Kota Depok Supian Suri, Komisaris PT Bumi Resources Tbk Anggawira, Direktur Utama SMESCO Indonesia Doddy Akhmadsyah Matondang, mantan Komisaris Bank BSI Arief Rosyid Hasan, Founder Kebab Baba Rafi Hendy Setiono, aktor dan pembawa acara Choky Sitohang serta Dennis Adihwara, dan Founder & CEO Kasisolusi Deryansha Azhary.
Mila mengklaim sejumlah pengusaha yang pertama kali tampil di podcastnya mengalami peningkatan personal branding setelahnya, dan mulai diundang ke podcast maupun forum lain. “Podcast ini menjadi salah satu ruang yang membantu memperkenalkan pemikiran, pengalaman, dan karya mereka kepada publik yang lebih luas,” katanya.
Pandangan soal Media Digital di Indonesia
Bagi Mila, media bukan sekadar alat penyampai informasi, melainkan ruang pertemuan ide, pengalaman, dan orang-orang dari latar belakang berbeda. “Dari sebuah percakapan bisa lahir sudut pandang baru, peluang kerja sama, bahkan kolaborasi yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan,” ujarnya.
Ia juga menilai media digital berperan strategis membuka akses pengetahuan bagi pengusaha muda yang tidak selalu punya kesempatan belajar langsung dari pelaku usaha berpengalaman.
Namun ia turut menyoroti tantangan terbesar ekosistem media digital saat ini, yakni menjaga kualitas di tengah arus informasi yang bergerak sangat cepat. “Hari ini semua orang bisa menjadi content creator, sehingga perhatian publik seringnya lebih mudah tertuju pada konten yang viral daripada konten yang benar-benar memberikan nilai,” ujarnya. Menurutnya, pendekatan yang mengutamakan kredibilitas membutuhkan waktu lebih lama untuk membangun audiens, tetapi lebih tahan lama karena dibangun di atas kepercayaan.
Menavigasi Bias Gender dalam Kepemimpinan
Sebagai perempuan yang memimpin sejumlah perusahaan sekaligus platform media, Mila mengakui adanya tantangan yang tidak selalu dialami rekan-rekan laki-lakinya. “Seringkali orang akan melihat usia, gender, atau penampilan terlebih dahulu sebelum melihat kemampuan kita,” katanya.
Ia aktif di organisasi pengusaha nasional seperti Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dan Kamar Entrepreneur Indonesia (KEIND), dan merupakan lulusan Magister Manajemen Universitas Paramadina.
Kepada perempuan muda yang ingin merintis usaha, pesannya singkat: “Berani memulai. Jangan menunggu semuanya sempurna. Jagalah integritas dan reputasi, karena kepercayaan adalah aset yang tidak ternilai dalam bisnis.”
Rencana ke Depan
Mila menyebut ambisinya bukan sekadar membesarkan sebuah podcast, melainkan membangun ekosistem yang menghubungkan pelaku usaha, profesional, akademisi, dan pemerintah dalam satu ruang kolaborasi jangka panjang. “Yang ingin saya bangun bukan hanya sebuah media, tetapi sebuah legacy,” katanya.


















