AGAMA

Dari Gelap Golgota Menuju Tetelestai: Jejak Penebusan dalam Empat Injil

Avatar photo
58
×

Dari Gelap Golgota Menuju Tetelestai: Jejak Penebusan dalam Empat Injil

Sebarkan artikel ini

Dari Gelap Golgota Menuju Tetelestai: Jejak Penebusan dalam Empat Injil

 

Oleh: Johanes Libudony, S.H., M.H.

 

Golgota, sebuah bukit di luar tembok Yerusalem, menjadi panggung salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah kekristenan. Di tempat itu, Yesus dari Nazaret digantung di kayu salib. Bagi mereka yang menyaksikannya pada abad pertama, pemandangan itu tampak seperti akhir yang pahit: seorang guru yang selama hidupnya berbicara tentang Kerajaan Allah justru berakhir sebagai terhukum di tangan kekuasaan Romawi.

Namun, kisah salib tidak berhenti pada penderitaan seorang manusia yang dihukum mati. Empat Injil—Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes—merekam peristiwa itu dengan sudut pandang yang berbeda, tetapi bertemu pada satu garis besar: salib bukan sekadar tragedi, melainkan pusat dari rencana penebusan Allah.

Di balik darah, penghinaan, dan kesunyian Golgota, terdapat pertanyaan teologis yang menjadi inti iman Kristen: apa yang sebenarnya terjadi ketika Yesus menyerahkan nyawa-Nya?

Matius: Ketika Sang Raja Memikul Kegelapan

Dalam Injil Matius, Yesus tampil sebagai Mesias yang dijanjikan, keturunan Daud yang datang sebagai Raja. Ironisnya, mahkota yang dikenakan kepada-Nya bukan mahkota kerajaan, melainkan mahkota duri. Takhta-Nya bukan singgasana emas, melainkan kayu salib.

Matius menggambarkan suasana yang ganjil ketika Yesus berada di puncak penderitaan-Nya. Sejak tengah hari hingga pukul tiga sore, kegelapan menyelimuti seluruh negeri.

“Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh negeri itu sampai jam tiga sore.” (Matius 27:45)

Bagi Matius, kegelapan itu bukan sekadar fenomena alam. Ia menjadi simbol dari beratnya beban dosa yang sedang dipikul Yesus. Puncak penderitaan itu terdengar dalam seruan berbahasa Aram:
“Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”
“Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46)

Seruan itu menggambarkan kedalaman penderitaan yang melampaui rasa sakit fisik. Dalam keyakinan Kristen, Yesus mengalami keterpisahan dari Bapa ketika menanggung dosa manusia. Salib menjadi tempat di mana hukuman dosa dipikul oleh Dia yang dianggap tidak berdosa.

Markus: Kesunyian Sang Hamba yang Menderita

Jika Matius menampilkan Yesus sebagai Raja yang menderita, Markus menampilkan-Nya sebagai Hamba yang menyerahkan diri sepenuhnya.

Sejak awal Injilnya, Markus menekankan bahwa Yesus datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang (Markus 10:45).

Di Golgota, gambaran itu mencapai puncaknya. Yesus berada di tengah ejekan, hinaan, dan tantangan dari orang-orang yang menyaksikan penyaliban-Nya. Mereka meminta-Nya turun dari salib untuk membuktikan identitas-Nya sebagai Anak Allah.

Namun tidak ada mukjizat yang menghentikan penderitaan itu. Tidak ada suara dari langit yang membebaskan-Nya. Yang tersisa hanyalah kesunyian.

Markus mencatat kembali seruan “Eloi, Eloi, lama sabakhtani”, memperlihatkan pergulatan terdalam Sang Hamba yang menjalankan misi-Nya sampai akhir. Ketaatan itu membawa-Nya melewati titik paling gelap: kematian di kayu salib.

Lukas: Kasih yang Tetap Mengalir di Tengah Derita

Berbeda dengan gambaran Markus yang menonjolkan kesunyian, Lukas menghadirkan sisi lain dari salib: kasih dan penyerahan diri.

Dalam Injil Lukas, Yesus digambarkan sebagai Anak Manusia yang penuh belas kasih. Bahkan ketika menghadapi kematian, Ia tetap menunjukkan pengampunan dan kepedulian.
Perkataan terakhir Yesus yang dicatat Lukas memperlihatkan kepercayaan penuh kepada Bapa:
“Ya Bapa, ke dalam tangan-Ku Kuserahkan nyawa-Ku.” (Lukas 23:46)

Kalimat itu menunjukkan bahwa kematian Yesus bukan sebuah kecelakaan sejarah. Ia menyerahkan hidup-Nya dengan kesadaran penuh setelah menjalankan misi penebusan.

Bagi Lukas, salib bukan akhir dari hubungan Yesus dengan Bapa, melainkan puncak dari ketaatan seorang Anak yang mempercayakan seluruh keberadaan-Nya kepada Allah.

Yohanes: Tetelestai dan Deklarasi Kemenangan

Jika tiga Injil pertama banyak menyoroti penderitaan dan perjalanan menuju salib, Yohanes melihat peristiwa itu dari cakrawala yang berbeda. Bagi Yohanes, salib bukan simbol kekalahan, melainkan tempat kemuliaan Kristus dinyatakan.

Di hadapan kematian, Yesus tidak digambarkan sebagai korban yang kehilangan kendali. Sebaliknya, Ia menyatakan bahwa misi-Nya telah selesai.

Yohanes mencatat:
“Sesudah Yesus mengambil anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai.’ Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.” (Yohanes 19:30)

Dalam bahasa Yunani, ungkapan “Sudah selesai” adalah Tetelestai.
Kata itu bukan sekadar tanda bahwa hidup Yesus berakhir. Dalam perspektif iman Kristen, Tetelestai merupakan pernyataan bahwa tugas penebusan telah digenapi. Utang dosa telah dibayar, dan jalan pemulihan hubungan manusia dengan Allah telah dibuka.

Dari Kegelapan Menuju Pemulihan

Keempat Injil membawa pembaca pada satu titik temu: salib adalah tempat penderitaan sekaligus pengharapan.

Matius memperlihatkan Sang Raja yang memikul kegelapan. Markus menghadirkan Sang Hamba yang taat dalam kesunyian. Lukas menunjukkan kasih yang tetap bertahan hingga napas terakhir. Yohanes menyaksikan kemenangan yang dirangkum dalam satu kata: Tetelestai.

Dalam narasi iman Kristen, penderitaan Yesus di Golgota menjadi jalan bagi pemulihan manusia yang terpisah dari Allah akibat dosa. Salib tidak berakhir dalam kegelapan. Dari sana lahir sebuah deklarasi kemenangan: apa yang harus digenapi telah selesai.
Golgota menjadi saksi bahwa di balik kematian terdapat harapan, dan di balik jeritan terakhir terdapat kabar tentang keselamatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *