Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
AGAMA

Mengatasi Kekhawatiran yang Menenggelamkan Manusia dalam Terang Yesus

Avatar photo
5027
×

Mengatasi Kekhawatiran yang Menenggelamkan Manusia dalam Terang Yesus

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Mengatasi Kekhawatiran yang Menenggelamkan Manusia dalam Terang Yesus

 

Example 300x600

Oleh: Johanes libur Doni penerjemah Ahli muda pustrajak kumdil Mahkamah Agung

Matius 6:25–34

Malam belum terlalu larut ketika layar ponsel kembali menyala. Sebuah tagihan yang belum terbayar. Pesan dari kantor. Biaya sekolah anak bulan depan. Hasil pemeriksaan kesehatan yang belum keluar. Di tempat lain, seseorang mungkin sedang menghitung sisa tabungannya, sementara yang lain memikirkan pekerjaan yang belum tentu bertahan sampai akhir tahun.
Tubuh mereka berada di sini, di ruang yang sama, pada malam yang sama. Tetapi pikiran mereka sudah berkelana jauh ke hari esok—menyusun kemungkinan-kemungkinan buruk yang bahkan belum terjadi.

Begitulah kekhawatiran bekerja.
Ia tidak selalu datang seperti badai yang menggelegar. Kadang ia hadir diam-diam, menyusup melalui pikiran, lalu menetap sebagai kegelisahan yang tak kunjung reda. Kekhawatiran tentang makanan, pakaian, pekerjaan, kesehatan, keluarga, masa depan, dan berbagai hal yang berada di luar kendali manusia.

Dalam kehidupan modern, kekhawatiran bahkan dapat menjadi semacam kebiasaan. Manusia terbiasa memikirkan apa yang akan terjadi sebelum hari itu tiba. Kita ingin memastikan semuanya aman, terkendali, dan sesuai dengan rencana. Namun justru di tengah usaha mengendalikan masa depan itulah manusia sering kehilangan kedamaian pada hari ini.

Dua ribu tahun silam, persoalan itu bukan sesuatu yang asing bagi manusia. Dalam khotbah di bukit, Yesus berbicara kepada orang-orang yang juga mengenal kecemasan tentang kebutuhan hidup. Ia berkata:
“Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai.”
— Matius 6:25

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi di baliknya terdapat pertanyaan yang jauh lebih dalam: mengapa manusia begitu mudah dikuasai kekhawatiran?

Ketika Manusia Ingin Mengendalikan Hari Esok
Kekhawatiran sering kali berawal dari keinginan untuk mengendalikan sesuatu yang sebenarnya tidak berada dalam kendali manusia.

Kita menyusun rencana, membuat perhitungan, menabung, bekerja keras, dan berusaha mengantisipasi berbagai kemungkinan. Semua itu pada dasarnya bukan sesuatu yang salah. Persoalannya muncul ketika manusia mulai menganggap bahwa keselamatan hidup sepenuhnya bergantung pada kemampuan dirinya sendiri.

Di situlah kekhawatiran menemukan ruang untuk tumbuh.
Seseorang dapat menghabiskan berjam-jam memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Ia berada secara fisik di masa kini, tetapi pikirannya sudah mengalami berbagai kemungkinan buruk di masa depan. Ia kehilangan kesempatan menikmati hari ini karena terlalu sibuk menghadapi hari esok yang belum datang.
Kekhawatiran akhirnya menjadi pencuri masa kini.

Yesus tidak sedang mengatakan bahwa manusia tidak boleh bekerja, merencanakan masa depan, atau memikirkan kebutuhan hidup. Yang Ia bongkar adalah kecenderungan manusia untuk hidup seolah-olah segala sesuatu bergantung sepenuhnya pada dirinya sendiri.

Karena itu, setelah mengatakan agar manusia tidak khawatir tentang makanan dan pakaian, Yesus mengarahkan perhatian kepada sesuatu yang sederhana: burung-burung di udara.

Belajar dari Burung dan Bunga
“Pandanglah burung-burung di langit,” kata Yesus. Burung-burung itu tidak menabur, tidak menuai, dan tidak mengumpulkan bekal di lumbung. Namun Bapa yang di surga memelihara mereka.
Lalu Yesus mengajukan pertanyaan yang sederhana sekaligus mengguncang:
“Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?”

Di sini Yesus tidak sedang mengajarkan kemalasan. Burung tetap terbang, mencari makanan, dan melakukan apa yang menjadi bagian dari kehidupannya. Yang hendak ditunjukkan Yesus adalah sumber kehidupan dan pemeliharaan itu sendiri.

Jika Allah memperhatikan burung-burung, terlebih lagi manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya.

Kemudian Yesus mengalihkan pandangan kepada bunga bakung di padang. Bunga-bunga itu tidak bekerja dan tidak memintal. Namun kemegahannya, kata Yesus, bahkan melampaui pakaian Salomo dalam segala kemegahannya.
Jika Allah sedemikian rupa mengenakan rumput di ladang—yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api—“tidakkah Ia akan terlebih lagi mengenakan kamu, hai orang yang kurang percaya?”

Pesannya jelas: nilai manusia tidak ditentukan oleh kemampuan manusia menyediakan segala sesuatu bagi dirinya sendiri.
Ada tangan lain yang bekerja di balik kehidupan.

Kesadaran semacam itu penting di tengah dunia yang terus mendorong manusia untuk menjadi lebih produktif, lebih berhasil, lebih aman, dan lebih mampu mengendalikan hidup. Dalam dunia semacam itu, mengakui keterbatasan diri sering dianggap sebagai kelemahan.

Yesus justru mengajarkan sebaliknya.
Manusia tidak dipanggil untuk memikul dunia seorang diri.

Ketika Kerajaan Allah Menjadi Prioritas

Namun Yesus tidak berhenti pada larangan untuk tidak khawatir. Ia memberikan arah baru bagi kehidupan.

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Ayat ini merupakan titik penting dalam pengajaran Yesus.
Ia tidak menjanjikan bahwa orang yang percaya kepada-Nya akan hidup tanpa persoalan. Ia juga tidak mengatakan bahwa seluruh kebutuhan manusia akan lenyap begitu saja. Yang Ia lakukan adalah mengubah pusat kehidupan manusia.

Selama hidup berputar pada pertanyaan, “Bagaimana saya bisa memastikan semuanya aman?”, manusia akan terus berhadapan dengan sesuatu yang berada di luar kendalinya.

Tetapi ketika pusat kehidupan bergeser kepada Allah—kepada Kerajaan-Nya dan kebenaran-Nya—kekhawatiran tidak lagi menjadi penguasa.

Dalam terang Perjanjian Baru, Kerajaan Allah berkaitan dengan pemerintahan Allah yang hadir melalui Kristus. Karena itu, mencari Kerajaan Allah bukan sekadar mengubah prioritas kegiatan sehari-hari. Itu berarti menempatkan Kristus sebagai pusat kehidupan.

Di sinilah kekristenan menawarkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar ajakan untuk berpikir positif.

Jawaban terhadap kekhawatiran bukan pertama-tama sebuah teknik, melainkan sebuah Pribadi.

Yesus sendiri. Yesus di Tengah Badai

Dalam Injil Yohanes, Yesus menyebut diri-Nya sebagai Gembala yang Baik. Ia bukan gembala yang berdiri jauh dan hanya memberikan petunjuk kepada kawanan domba. Ia memberikan nyawa bagi domba-domba-Nya.

Gambaran itu memberi perspektif lain terhadap kekhawatiran.
Manusia mungkin tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok. Tetapi ia dapat mengenal Dia yang memegang hari esok.

Perbedaannya besar.

Iman tidak selalu membuat seseorang mengetahui seluruh peta perjalanan. Iman membuat seseorang percaya kepada Dia yang mengetahui jalan tersebut.

Karena itu, damai sejahtera tidak berarti tidak adanya masalah. Damai sejahtera berarti kehadiran Kristus tetap nyata ketika masalah datang.

Ada badai yang tidak segera reda. Ada doa yang jawabannya tidak datang sesuai waktu yang kita harapkan. Ada persoalan yang tetap harus dihadapi. Tetapi orang percaya tidak harus menghadapinya sendirian.

Kekhawatiran mengatakan, “Semuanya bergantung kepadamu.”
Yesus mengatakan, “Percayalah kepada Bapa yang memelihara hidupmu.”

Kesusahan Sehari Cukuplah untuk Sehari

Menjelang akhir pengajaran-Nya, Yesus mengatakan sesuatu yang sangat relevan bagi manusia yang terus-menerus hidup dalam kecemasan:
“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari esok, karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”
— Matius 6:34

Yesus tidak menyangkal bahwa hari esok mungkin membawa kesusahan. Justru Ia mengakuinya.
Hari esok memang memiliki kesusahannya sendiri.
Tetapi kesusahan hari esok tidak perlu dipikul hari ini.

Ada batas yang perlu dihormati manusia: hari ini adalah bagian yang diberikan Tuhan untuk dijalani hari ini. Besok akan datang dengan persoalannya sendiri, dan ketika hari itu tiba, anugerah Tuhan pun akan menyertainya.
Karena itu, menjalani hidup bersama Kristus juga berarti belajar menerima anugerah untuk satu hari pada satu waktu.

Hari ini kita bekerja.
Hari ini kita mengasihi keluarga.
Hari ini kita melakukan tanggung jawab yang ada di depan mata.
Hari ini kita berdoa.
Hari ini kita percaya.

Sementara untuk hari esok, kita menyerahkannya kepada Dia yang sudah berada di sana.

Berlabuh pada Kristus

Kekhawatiran mungkin tidak pernah sepenuhnya menghilang dari kehidupan manusia. Selama manusia masih hidup di dunia yang penuh ketidakpastian, selalu ada alasan untuk takut.

Tetapi Matius 6:25–34 menunjukkan bahwa persoalan utama bukan semata-mata ada atau tidak adanya masalah.

Persoalannya adalah kepada siapa manusia menaruh kepercayaannya ketika masalah itu datang.

Kekhawatiran dapat menjadi badai yang mengguncang iman. Ia membuat manusia memandang masa depan dengan ketakutan dan memandang dirinya seolah-olah harus menanggung semuanya sendirian.

Yesus menawarkan jalan yang berbeda.

Pandanglah burung-burung.
Perhatikan bunga-bunga.
Carilah Kerajaan Allah.
Percayalah kepada Bapa.
Dan jangan memikul kesusahan hari esok sebelum hari esok tiba.

Pada akhirnya, manusia tidak membutuhkan kehidupan tanpa badai. Yang dibutuhkan adalah sauh yang tidak mudah terlepas ketika badai datang.

Sauh itu adalah Kristus.

Sebab ketika tangan manusia berada dalam genggaman Dia yang memegang hari esok, badai sebesar apa pun tidak lagi menjadi alasan untuk kehilangan harapan.

Kekhawatiran mungkin datang mengetuk. Tetapi ia tidak harus menjadi raja atas kehidupan.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *