Deklarasi Persaudaraan Masyarakat Iran-Indonesia Dapat Memperkuat Hubungan Sosial, Budaya Dan Keislaman Antara Indonesia – Iran
Persaudaraan Masyarakat Iran-Indonesia resmi dideklarasikan di Islamic Culture Center (ICC) Jakarta, Selasa (28/4/2026). Forum ini dibentuk sebagai ruang silaturahmi masyarakat sipil untuk memperkuat hubungan sosial, budaya, dan keislaman antara Indonesia dan Iran, tanpa membawa kepentingan pemerintah.
Deklarasi tersebut ditandai dengan penyerahan piagam kepada Direktur ICC yang diwakili oleh Kepala Departemen Tabligh dan Budaya ICC, Muhammad Zaki Amami. Kehadiran tokoh dari berbagai daerah mempertegas komitmen forum ini untuk menjadi simpul persaudaraan berskala nasional.
Sebuah momen bersejarah dan penuh makna telah terukir indah. Deklarasi Nasional Persaudaraan Masyarakat Iran – Indonesia resmi digelar dengan penuh khidmat dan sukses, pada Selasa, 28 April 2025 di Jakarta.
Acara ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan pernyataan cinta dan komitmen bersama untuk merajut benang merah persaudaraan yang telah lama terjalin, menghubungkan dua bangsa besar yang dipersatukan oleh nilai-nilai luhur kemanusiaan dan keimanan.
Kehadiran Tokoh, Simbol Kebersamaan yang Abadi
Suasana terasa sangat hangat dan akrab dengan kehadiran para tokoh dan pemimpin yang memiliki visi yang sama untuk mempererat hubungan kedua negara.
Hadir secara khusus mewakili Direktur Islamic Cultural Center (ICC), Bapak Mohammad Zaki Amami. Kehadirannya menjadi simbol dukungan kuat dari pemerintah dan masyarakat Iran terhadap upaya membumikan semangat persaudaraan di tanah air.
Dalam kesempatan tersebut, KH. Abuya Hasan, selaku Ketua Umum Persaudaraan Masyarakat Iran – Indonesia, memimpin jalannya acara dengan penuh wibawa dan keramahan. Beliau menjadi jembatan yang menyatukan berbagai elemen masyarakat dalam satu tujuan mulia.
Turut hadir memeriahkan dan memperkokoh barisan persaudaraan adalah jajaran pengurus inti, antara lain Bapak Jalaluddin TJ, serta Bapak Abdurrahman selaku Bendahara Umum. Tak kalah penting, kehadiran ulama yang dihormati, Al-Ustaz Haji Tiwi Wijaya, semakin menambah keberkahan dan ketenangan dalam setiap momen pertemuan ini.
Tanda Tangan Deklarasi, Ikrar Setia Dua Bangsa
Puncak acara berlangsung sangat haru dan khidmat saat dilaksanakan prosesi Penandatanganan Deklarasi. Lembaran dokumen tersebut bukan hanya kertas, melainkan bukti nyata janji setia bahwa rakyat Iran dan Indonesia adalah saudara sebangsa dan setanah air dalam bingkai kemanusiaan.
Dengan tanda tangan tersebut, terucaplah ikrar untuk saling menghormati, saling mendukung, dan saling mengasihi, tanpa memandang perbedaan latar belakang, demi terciptanya dunia yang lebih damai dan sejahtera.
Doa Penuh Harapan dan Foto Bersama Abadi
Acara yang penuh makna ini ditutup dengan pembacaan doa bersama. Suasana menjadi sangat hening dan khusyuk, memohon kepada Allah SWT agar hubungan kedua bangsa senantiasa dilindungi, diperkokoh, dan diberkahi hingga akhir zaman.
Sebagai penutup yang manis, seluruh hadirin berfoto bersama. Senyum bahagia terpancar dari wajah setiap orang, mengabadikan momen indah di mana hati rakyat Iran dan Indonesia benar-benar telah bersatu dalam ikatan persaudaraan yang tak akan pernah terputus oleh waktu.
Ketua Umum Persaudaraan Masyarakat Iran-Indonesia, KH Abu Hasan atau Abuya Hasan, menegaskan bahwa forum ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Ia berharap deklarasi tersebut dapat melahirkan kerja nyata yang memberikan dampak jangka panjang.
“Semoga ke depannya ada sebuah pembangunan, khususnya di Kabupaten Bondowoso, yaitu Masjid Raya Iran-Indonesia,” ujar Abuya Hasan dalam sambutannya.
Gagasan tersebut mendapat sambutan positif dari para peserta. Menurutnya, persaudaraan harus diwujudkan dalam bentuk kontribusi nyata, bukan hanya berhenti pada dokumentasi acara.
Ketua panitia, Jalaluddin Tapau Jahidin, menjelaskan bahwa inisiatif pembentukan forum ini lahir setelah komunikasi langsung dengan pihak Kedutaan Besar Iran di Jakarta. Ia menyebut Wakil Duta Besar Iran menyambut baik terbentuknya organisasi tersebut.
“Ini bukan government, tetapi murni dari masyarakat, tidak mewakili pemerintah. Kita ingin membentuk Persaudaraan Masyarakat Iran-Indonesia,” kata Jalaluddin.
Ia menambahkan, penggunaan istilah “masyarakat” dipilih untuk menegaskan semangat musyawarah, kebersamaan, dan persaudaraan, bukan agenda politik praktis.
Sementara itu, Muhammad Zaki Amami menjelaskan bahwa ICC merupakan lembaga kebudayaan Islam di bawah naungan Republik Islam Iran yang membuka ruang kerja sama luas dengan masyarakat Indonesia.
Menurutnya, ICC berperan sebagai pusat penghubung budaya Islam dan hubungan sosial di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, Singapura, hingga Brunei.
“Di sini adalah lembaga yang open-minded. Kita memiliki tujuan dan visi bersama sebagaimana Islam yang merupakan agama yang rahmatan lil alamin,” ujar Zaki.
Zaki, yang menempuh pendidikan di Iran melalui beasiswa penuh sejak 2011 hingga 2022, menilai hubungan Indonesia dan Iran memiliki akar sejarah panjang, terutama melalui pengaruh Persia dalam perkembangan Islam di Nusantara.
Ia menyebut jejak tersebut masih terasa dari Sumatera hingga Aceh. Meski tidak selalu ramai diperbincangkan, pengaruh Persia tetap hidup dalam budaya dan ingatan masyarakat.
Melalui deklarasi ini, Persaudaraan Masyarakat Iran-Indonesia diharapkan menjadi ruang baru bagi dialog budaya, penguatan ukhuwah, serta kerja sama masyarakat kedua negara di masa mendatang.


















