Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BERITA

Dino Patti Djalal Menegaskan Bahwa Generasi Muda Indonesia Memiliki Idealisme, Keberanian Dan Kebijaksanaan Yang Patut Didengar Oleh Para Pemegang Kekuasaan

Avatar photo
44
×

Dino Patti Djalal Menegaskan Bahwa Generasi Muda Indonesia Memiliki Idealisme, Keberanian Dan Kebijaksanaan Yang Patut Didengar Oleh Para Pemegang Kekuasaan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

 

Jakarta – Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) menggelar Public Town Hall Indonesia Youth Democracy Forum (IYDF) 2026 bertajuk Next-Generation Civic Leadership and Democratic Resilience di Auditorium Prof. Dr. Hasjim Djalal, Sekretariat FPCI, Mayapada Tower, Jakarta, Rabu (22/7/2026). Forum ini menjadi ruang dialog bagi generasi muda untuk memperkuat kepemimpinan sipil, nilai-nilai demokrasi, serta ketahanan bangsa di tengah dinamika politik dan perkembangan media sosial.

Example 300x600

Usai acara, Ketua sekaligus Pendiri FPCI, Dr. Dino Patti Djalal, menegaskan bahwa generasi muda Indonesia memiliki idealisme, keberanian, dan kebijaksanaan yang patut didengar oleh para pemegang kekuasaan. Menurutnya, aspirasi anak muda merupakan aset penting dalam menjaga kualitas demokrasi Indonesia.

“Aspirasi mereka harus diperhatikan. Mereka memiliki keberanian, kebijaksanaan, dan nasionalisme yang tinggi. Yang terpenting, mereka juga terbuka terhadap perbedaan pendapat,” ujar Dino.

Dino juga mengingatkan pentingnya menjaga ruang demokrasi agar tetap sehat. Ia menilai pemerintah sebaiknya menjadi pihak yang secara langsung memberikan penjelasan kepada publik, tanpa melibatkan pihak-pihak yang justru berpotensi memperkeruh suasana dan memecah belah masyarakat.

Menurutnya, kekuatan opini publik yang lahir secara organik merupakan salah satu indikator bahwa demokrasi Indonesia masih memiliki fondasi yang kuat. Karena itu, pemerintah perlu lebih peka terhadap suara masyarakat yang berkembang di ruang publik, termasuk melalui media sosial.

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI tersebut menilai media sosial bukanlah ancaman bagi demokrasi, melainkan saluran baru bagi masyarakat, khususnya anak muda, untuk menyampaikan aspirasi, kritik, hingga keresahan yang sebelumnya sulit terdengar.

“Anak muda kalau resah pasti akan mengekspresikannya melalui media sosial. Berikan ruang untuk itu. Yang berbeda sekarang hanya platformnya. Dulu suara itu hanya terdengar di lingkungan masing-masing, sekarang bisa didengar oleh seluruh masyarakat,” katanya.

Dino mengungkapkan, ketika masih bertugas di lingkungan Istana, pemerintah bahkan memiliki tim khusus yang bertugas membaca ribuan pesan singkat (SMS) masyarakat setiap hari untuk memetakan kritik, keluhan, hingga masukan sebagai bahan evaluasi kebijakan.

Menurutnya, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tetap mampu mendengar suara rakyat secara langsung dan tidak terisolasi oleh lingkungan maupun birokrasi di sekitarnya.

Ia juga menyoroti penggunaan sejumlah pasal dalam regulasi yang berpotensi membatasi kebebasan berekspresi, termasuk pasal penghinaan terhadap presiden. Menurut Dino, penerapan aturan tersebut harus dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan pembatasan terhadap kritik yang merupakan bagian dari kehidupan demokrasi.

“Kritik memang idealnya disampaikan dengan sopan, berbobot, dan berdasarkan fakta. Tetapi ketika masyarakat sedang marah atau kecewa, ekspresi itu juga merupakan bagian dari dinamika demokrasi. Negara tidak boleh terlalu mudah memidanakan kritik,” tegasnya.

Dino menambahkan, kritik yang disertai solusi tentu akan lebih konstruktif. Namun ia menilai masyarakat tidak selalu harus menawarkan solusi ketika menyampaikan kekecewaan, sebab menyuarakan keresahan juga merupakan hak warga negara dalam sistem demokrasi.

Melalui penyelenggaraan Indonesia Youth Democracy Forum (IYDF) 2026, FPCI berharap lahir generasi pemimpin muda yang tidak hanya memiliki wawasan kebangsaan dan internasional, tetapi juga menjunjung tinggi nilai demokrasi, toleransi, serta mampu berkontribusi dalam pengambilan kebijakan publik di masa depan.

Sebagai organisasi kebijakan luar negeri independen dan nonpartisan yang didirikan pada 2015 oleh Dr. Dino Patti Djalal, FPCI secara konsisten mempromosikan diplomasi publik dan internasionalisme positif. Melalui berbagai program seperti seminar, diskusi publik, hingga Conference on Indonesian Foreign Policy (CIFP), FPCI terus menjembatani dialog antara pemerintah, akademisi, diplomat, dan generasi muda dalam memperkuat posisi Indonesia di tingkat global

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *