Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BERITA

Qintharra ; “Pembangunan Indonesia Ke Depan Tidak Cukup Hanya Mengandalkan Kebijakan Politik, Tetapi Juga Membutuhkan Tata Kelola Kota Yang Baik, Lingkungan Yang Berkualitas &  Pembangunan Berkelanjutan”

Avatar photo
50
×

Qintharra ; “Pembangunan Indonesia Ke Depan Tidak Cukup Hanya Mengandalkan Kebijakan Politik, Tetapi Juga Membutuhkan Tata Kelola Kota Yang Baik, Lingkungan Yang Berkualitas &  Pembangunan Berkelanjutan”

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

 

Qinthhara ; “Pembangunan Indonesia Ke Depan Tidak Cukup Hanya Mengandalkan Kebijakan Politik, Tetapi Juga  Membutuhkan Tata Kelola Kota Yang Baik, Lingkungan Yang Berkualitas &  Pembangunan Berkelanjutan”

Example 300x600

 

Jakarta – Wakil Ketua Bidang Ekonomi Kreatif dan Ekonomi Digital DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Qintharra Ulya Yassifa, menjadi salah satu pembicara dalam Public Town Hall Indonesia Youth Democracy Forum (IYDF) 2026 yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Auditorium Prof. Dr. Hasjim Djalal, Sekretariat FPCI, Mayapada Tower, Jakarta, Rabu (22/7/2026).

Mengusung tema “Next-Generation Civic Leadership and Democratic Resilience”, forum ini menjadi ruang dialog bagi para pemimpin muda Indonesia untuk bertukar gagasan mengenai kepemimpinan generasi baru dan penguatan ketahanan demokrasi di tengah tantangan global.

Acara dibuka oleh Pendiri dan Ketua FPCI, Dr. Dino Patti Djalal, bersama Direktur KAS Indonesia dan Timor Leste, Jan Senkyr. FPCI sendiri merupakan organisasi kebijakan luar negeri independen dan non-partisan yang didirikan pada 2015 oleh mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI, Dr. Dino Patti Djalal. Organisasi ini aktif mempromosikan internasionalisme positif melalui berbagai seminar, diskusi publik, hingga penyelenggaraan Conference on Indonesian Foreign Policy (CIFP), festival diplomasi terbesar di Indonesia.

Dalam sesi diskusi, Qintharra menegaskan bahwa generasi muda harus memiliki winning mentality, keberanian menyampaikan gagasan, serta tidak takut menghadapi tantangan dalam dunia politik.

Ia mengungkapkan bahwa dirinya tidak berasal dari latar belakang ilmu politik maupun kebijakan publik. Sebelum terjun ke dunia politik, ia merupakan seorang arsitek lanskap yang menempuh pendidikan dan pengalaman profesional di luar negeri dalam bidang landscape architecture, urban planning, serta pengembangan green infrastructure dan blue infrastructure.

“Saya tidak pernah belajar politik sebelumnya. Background saya adalah landscape architect. Setelah kembali ke Indonesia, saya memilih bergabung dengan PDI Perjuangan karena diberi ruang untuk menyampaikan gagasan dan berkontribusi bagi pembangunan,” ujarnya.

Menurut Qintharra, pembangunan Indonesia ke depan tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan politik, tetapi juga membutuhkan tata kelola kota yang baik, lingkungan yang berkualitas, serta pembangunan berkelanjutan (sustainability).

Ia juga menceritakan pengalamannya membangun jejaring internasional melalui berbagai konferensi arsitektur lanskap. Salah satunya dengan menghadirkan teknologi dari Korea Selatan untuk mendukung pemetaan dan pengembangan tata kelola wilayah di Indonesia sebagai bentuk kontribusi nyata yang lahir dari kolaborasi internasional.

“Bagi saya, politik adalah ruang untuk menghadirkan solusi. Saya ingin ilmu yang saya miliki bisa diterjemahkan menjadi kebijakan publik yang berpihak pada lingkungan dan keberlanjutan,” katanya.

Selain aktif di dunia politik, Qintharra juga merupakan CEO dan pendiri Fraiche Atelier, perusahaan konsultan arsitektur dan desain lanskap, serta menjabat sebagai Ketua Umum BPC HIPMI Kabupaten Malang periode 2024–2027 dan Wakil Ketua Umum Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI) Cabang Malang/Jawa Timur.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti pentingnya regenerasi kepemimpinan di partai politik. Menurutnya, DPD PDI Perjuangan Jawa Timur memberikan ruang yang luas bagi generasi muda untuk berperan dalam pengambilan keputusan maupun kepengurusan organisasi.

“Di Jawa Timur, keterlibatan anak muda bahkan mencapai sekitar 40 hingga 50 persen. Mereka bukan hanya menjadi pelengkap, tetapi dipercaya menduduki posisi strategis seperti ketua, sekretaris, maupun bendahara. Regenerasi harus benar-benar dijalankan, bukan sekadar slogan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa anak muda juga diberikan kesempatan untuk berkreasi di berbagai bidang, termasuk ekonomi kreatif dan inovasi, sehingga mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Menutup paparannya, Qintharra mengajak generasi muda untuk tidak takut memasuki dunia politik dan terus membawa gagasan-gagasan baru demi mewujudkan Indonesia yang lebih maju, inklusif, dan berkelanjutan.

“Selama kita memiliki niat untuk memberikan manfaat bagi bangsa, jangan pernah takut menyampaikan ide. Anak muda harus berani tampil, berani berkontribusi, dan berani menjadi bagian dari solusi bagi masa depan Indonesia,” pungkasnya.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *