Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
About Us

Listyo Sigit dan Nyala Api Hoegeng Menjaga Kehormatan Bhayangkara — Adhyaksa

Avatar photo
53
×

Listyo Sigit dan Nyala Api Hoegeng Menjaga Kehormatan Bhayangkara — Adhyaksa

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: R. HAIDAR ALWI – Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI) sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, (foto : istimewa)

 

Example 300x600

METROPOLITAN POST— Api Hoegeng telah melewati gerbang. Ia berangkat dari Trunojoyo, dibawa oleh keberanian para penyidik, dijaga oleh keteguhan seorang Kapolri, lalu tiba di jantung Adhyaksa membawa satu pesan yang tidak dapat dinegosiasikan. Bahwa kehormatan institusi hanya akan hidup selama hukum tetap lebih tinggi daripada orang-orang yang mengenakan seragamnya.

Kini sejarah sedang menunggu.

Bukan untuk melihat siapa yang menang di antara Polri dan Kejaksaan Agung. Republik tidak membutuhkan kemenangan satu korps di atas kehancuran korps lainnya. Republik membutuhkan keduanya berdiri tegak dalam satu barisan—Bhayangkara membuka jalan, Adhyaksa menuntaskan perjalanan, dan hukum memperoleh kembali martabatnya.

Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo telah membawa Api Hoegeng sejauh yang mampu dijangkau keberanian seorang pemimpin.

Ia telah mengetuk pintu yang dianggap terlarang.

Ia telah membiarkan penyidiknya masuk ke ruang yang dikelilingi kekuasaan.

Ia telah memperlihatkan bahwa bintang di pundak bukan hiasan kebesaran, tetapi beban untuk berjalan paling depan ketika orang lain memilih mundur.

Sekarang api itu berdiri di antara dua korps.

Ia dapat menjadi cahaya yang menyatukan.

Ia juga dapat menjadi ujian yang membedakan antara solidaritas untuk menjaga kehormatan dan solidaritas untuk menutupi kegelapan.

Dua Korps di Hadapan Satu Sejarah

Bhayangkara dan Adhyaksa lahir dari rahim republik yang sama.

Keduanya diberi kekuasaan besar karena negara mempercayakan sesuatu yang tidak boleh diperdagangkan: nasib manusia, kehormatan hukum, dan keyakinan rakyat terhadap keadilan.

Polisi mencari dan mengumpulkan bukti. Jaksa membawa bukti itu ke hadapan hakim. Keduanya berada pada sisi berbeda dari satu jalan yang sama. Apabila satu sisi runtuh, keadilan kehilangan jalannya. Apabila keduanya bersekutu dalam keberanian, tidak ada benteng kekuasaan yang cukup kuat untuk menghentikan hukum.

Karena itu, perkara yang menyeret mantan Jampidsus Febrie Adriansyah tidak boleh dipersempit menjadi pertarungan kewenangan antara Trunojoyo dan Adhyaksa.

Perkara ini adalah ujian kehormatan bersama.

Polri diuji apakah tetap teguh setelah membuka pintu.

Kejaksaan Agung diuji apakah berani meneruskan cahaya ketika jejak perkara menyentuh mantan pejabatnya sendiri.

Institusi negara tidak menjadi agung karena tidak pernah mempunyai noda. Institusi menjadi agung ketika berani menghadapi noda, membersihkannya, dan memastikan seragamnya tidak dipakai sebagai tirai untuk menyembunyikan siapa pun.

Listyo Sigit telah menunjukkan jalannya.

Ia tidak membawa barisannya untuk menaklukkan Adhyaksa. Ia membawa hukum agar kehormatan Adhyaksa tidak disandera oleh nasib seorang individu.

Sebab kehormatan korps jauh lebih tua daripada masa jabatan seorang pejabat, jauh lebih besar daripada jaringan kekuasaan, dan jauh lebih berharga daripada kepentingan sesaat.

*Sang Jenderal yang Memilih Sejarah*

Setiap pemimpin akan berhadapan dengan satu keputusan yang mengungkap siapa dirinya.

Keputusan itu biasanya datang tanpa upacara. Tidak ada terompet. Tidak ada barisan kehormatan. Tidak ada pidato yang dapat menggantikan akibatnya.

Yang ada hanyalah dua jalan.

Jalan pertama menawarkan ketenangan: jangan menyentuh orang kuat, jangan mengguncang hubungan antarlembaga, jangan membuka ruang yang dapat memancing badai.

Jalan kedua menawarkan risiko: ikuti bukti, buka pintu, dan biarkan hukum berjalan meskipun langkahnya mengarah ke pusat kekuasaan.

Listyo Sigit memilih jalan kedua.

Pilihan itulah yang membedakan pemegang jabatan dari pemimpin sejarah.

Pemegang jabatan menjaga kursinya. Pemimpin sejarah menjaga nilai yang membuat kursi itu layak dihormati.

Pemegang jabatan menghitung berapa lama kekuasaannya dapat bertahan. Pemimpin sejarah menghitung berapa besar kehormatan republik yang hilang apabila ia memilih diam.

Listyo Sigit mengetahui bahwa tongkat komando suatu hari akan berpindah. Bintang akan dilepas. Pengawalan akan berhenti. Ruang kerja akan ditempati orang lain.

Namun, keputusan yang dibuat ketika hukum berhadapan dengan kekuasaan akan tinggal jauh lebih lama daripada seluruh upacara kebesaran.

Hoegeng membuktikannya.

Ia tidak dikenang karena lamanya berkuasa. Ia dikenang karena kekuasaan tidak berhasil mengubah arah kompas moralnya.

Kini Listyo Sigit sedang menulis jawabannya sendiri di hadapan ukuran sejarah yang sama.

Api Hoegeng Tidak Memilih Seragam

Api Hoegeng bukan milik satu gedung.

Ia tidak berhenti di pagar Markas Besar Polri. Ia tidak kehilangan makna ketika memasuki Kejaksaan Agung. Api itu hidup di mana pun keberanian mengalahkan kepentingan dan hukum berani menatap kekuasaan tanpa menundukkan kepala.

Karena itu, Adhyaksa tidak perlu takut kepada cahaya tersebut.

Cahaya tidak datang untuk mempermalukan ribuan jaksa yang bekerja dengan jujur. Cahaya datang agar pengabdian mereka tidak dikotori oleh kecurigaan bahwa institusi akan selalu melindungi orang yang pernah berada di puncaknya.

Bagi jaksa yang bersih, cahaya adalah sekutu.

Bagi penyidik yang jujur, cahaya adalah pelindung.

Bagi institusi yang menghormati hukum, cahaya adalah jalan menuju kemuliaan.

Yang takut kepada cahaya hanyalah kegelapan.

Jika seluruh temuan dapat dijelaskan secara sah, proses hukum harus menjadi jalan pemulihan nama. Jika alat bukti menunjukkan adanya pertanggungjawaban pidana, pengadilan harus menjadi tempat pembuktiannya. Tidak boleh ada hukuman tanpa proses, tetapi tidak boleh pula ada proses yang dikubur demi menghindari pertanggungjawaban.

Inilah jalan kehormatan dua korps: bukan saling melindungi dari kebenaran, tetapi saling memastikan kebenaran memperoleh jalannya.

Bukan Saling Menutupi Kegelapan

Solidaritas korps adalah kekuatan ketika digunakan untuk menjaga anggota yang bekerja benar, melindungi penyidik dan jaksa dari tekanan, serta mempertahankan institusi dari campur tangan kepentingan.

Namun, solidaritas kehilangan kehormatannya ketika berubah menjadi tembok yang menghalangi cahaya.

Kesetiaan tertinggi seorang Bhayangkara bukan kepada sesama pemakai seragam. Kesetiaannya kepada hukum dan rakyat.

Kesetiaan tertinggi seorang Adhyaksa bukan kepada orang yang pernah menduduki jabatan tinggi. Kesetiaannya kepada keadilan dan negara.

Seragam tidak diciptakan agar pemakainya saling menutupi kesalahan. Seragam diberikan agar mereka saling menguatkan dalam menegakkan kebenaran.

Karena itu, persaudaraan sejati antara Polri dan Kejaksaan Agung tidak diwujudkan dengan mengunci perkara di ruang sunyi.

Persaudaraan sejati terlihat ketika Polri menyerahkan hasil kerjanya secara utuh, Kejaksaan mengujinya secara profesional, dan keduanya memastikan tidak ada bukti yang hilang, tidak ada pihak yang memperoleh perlakuan istimewa, serta tidak ada proses yang dilemahkan oleh negosiasi di luar hukum.

Bukan saling menjaga kegelapan.

Saling menjaga cahaya.

Bukan menyelamatkan seseorang dengan mengorbankan kehormatan korps.

Menyelamatkan kehormatan korps dengan menyerahkan nasib setiap orang kepada hukum.

Ketika Kehormatan Lebih Tinggi daripada Jabatan

Jabatan dapat memberi kewenangan untuk memeriksa orang lain. Namun, jabatan tidak pernah memberikan hak untuk bebas dari pemeriksaan.

Prinsip itu menjadi sangat penting ketika orang yang berhadapan dengan hukum pernah memegang pedang penuntutan. Semakin tinggi kedudukannya, semakin terang pula proses yang dibutuhkan agar publik dapat mempercayai hasilnya.

Tidak ada penghinaan ketika seorang mantan pejabat diminta menjelaskan asal-usul kekayaan dan barang yang dikaitkan dengan perkara. Tidak ada serangan terhadap institusi ketika penyidik menguji hubungan antara orang, tempat, aset, dan transaksi.

Penghinaan yang sesungguhnya terjadi apabila jabatan dipakai untuk membangun kekebalan.

Serangan terbesar terhadap kehormatan institusi datang ketika lambang negara dijadikan benteng bagi kepentingan pribadi.

Listyo Sigit memahami perbedaan itu.

Ia tidak menempatkan nama besar di atas proses hukum. Ia tidak membiarkan riwayat jabatan menghapus kewajiban memberikan penjelasan. Ia mengizinkan hukum melakukan pekerjaan yang paling suci sekaligus paling berbahaya: memperlakukan orang kuat seperti warga negara lainnya.

Itulah inti keberanian Hoegeng.

Dan keberanian itu kini hidup dalam keputusan Listyo Sigit.

*Dari Trunojoyo, Obor Itu Berangkat*

Trunojoyo telah melahirkan banyak jenderal. Namun, sejarah tidak mengingat seluruhnya dengan cara yang sama.

Ada nama yang tertulis dalam daftar jabatan.

Ada nama yang bertahan dalam ingatan rakyat.

Perbedaannya terletak pada keberanian yang diwariskan.

Listyo Sigit mempunyai kesempatan menempatkan namanya dalam barisan kedua: barisan pemimpin yang tidak hanya pernah memegang kekuasaan, tetapi menggunakan kekuasaan untuk membuat hukum berani berjalan lebih jauh.

Dari Trunojoyo, ia mengirimkan pesan kepada seluruh penyidik di Indonesia bahwa mereka tidak boleh mengukur keberanian dari kelemahan orang yang diperiksa.

Hukum tidak membutuhkan keberanian besar ketika berhadapan dengan mereka yang tidak mempunyai perlindungan.

Keberanian baru memperoleh arti ketika langkah hukum mengarah kepada orang yang memiliki jabatan, jaringan, kekayaan, dan akses menuju pusat kekuasaan.

Di sanalah bintang seorang jenderal menemukan cahayanya.

Listyo Sigit tidak menjadi besar karena ia memimpin ratusan ribu personel. Ia menjadi besar ketika seluruh kekuatan itu tidak digunakannya untuk menjaga kenyamanan kekuasaan, tetapi untuk membuka jalan menuju kebenaran.

*Adhyaksa di Ambang Keagungan*

Kini Kejaksaan Agung berdiri di depan gerbang sejarahnya sendiri.

Adhyaksa dapat menerima api itu dan membawanya sampai ke pengadilan. Ia dapat menunjukkan bahwa institusi penuntutan tertinggi di negeri ini tidak gentar membersihkan rumahnya sendiri.

Apabila itu dilakukan, tidak ada pihak yang kalah.

Polri menang karena keberaniannya tidak berakhir sia-sia.

Kejaksaan menang karena kehormatannya berdiri lebih tinggi daripada kepentingan individu.

Presiden menang karena janji pemberantasan korupsi memperoleh pembuktian nyata.

Rakyat menang karena hukum kembali memberi alasan untuk dipercaya.

Republik menang karena dua korps terbesarnya memilih saling menjaga cahaya.

Bayangkan kekuatan pesan yang akan lahir: seorang mantan pejabat tinggi diperiksa secara transparan, bukti diuji secara profesional, hak tersangka dihormati, dan perkara dibawa ke pengadilan tanpa tekanan serta perlakuan istimewa.

Itulah puncak kematangan negara hukum.

Bukan negara tanpa pejabat bermasalah, tetapi negara yang tidak kehilangan keberanian ketika pejabatnya sendiri harus dimintai pertanggungjawaban.

Adhyaksa tidak sedang diminta berlutut di hadapan Bhayangkara.

Adhyaksa sedang dipanggil berdiri bersama Bhayangkara di hadapan Republik.

*Rakyat Menjadi Lingkaran Penjaga*

Api besar tidak dijaga oleh satu tangan.

Listyo Sigit dapat membawa obor. Penyidik dapat membuka jalan. Jaksa dapat meneruskan perkara. Namun, rakyatlah yang memastikan perjalanan itu tidak tenggelam dalam kesunyian.

Masyarakat harus menjadi lingkaran penjaga yang tidak membiarkan nyala ini diredupkan oleh waktu.

Menjaga api bukan berarti menjatuhkan vonis sebelum pengadilan. Praduga tak bersalah tetap menjadi fondasi. Semua pihak berhak memberikan penjelasan, membantah tuduhan, menguji bukti, dan memperoleh peradilan yang adil.

Menjaga api berarti memastikan pengujian itu benar-benar terjadi.

Setiap barang yang ditemukan harus memiliki jejak asal-usul yang terang.

Setiap pihak yang terhubung harus diperiksa sesuai perannya.

Setiap perbedaan perlakuan harus dijelaskan berdasarkan hukum.

Setiap perkembangan harus dapat diketahui dan diuji publik.

Tidak boleh ada fakta yang hilang karena pergantian kewenangan.

Tidak boleh ada bukti yang kehilangan suara setelah berpindah tangan.

Tidak boleh ada nama yang tiba-tiba lenyap dari rangkaian peristiwa.

Tidak boleh ada kesunyian yang perlahan mengubur keberanian.

Selama rakyat mengingat, api itu tetap hidup.

*Satu Api, Dua Korps, Satu Republik*

Bhayangkara mempunyai pedang keberanian.

Adhyaksa mempunyai pedang penuntutan.

Keduanya tidak diciptakan untuk saling diarahkan, tetapi untuk bersama-sama memotong rantai kekebalan hukum.

Di bawah nyala Api Hoegeng, perbedaan warna seragam kehilangan sekatnya. Yang tersisa adalah sumpah pengabdian kepada negara.

Listyo Sigit telah membuktikan bahwa kehormatan Bhayangkara bukan dibangun dengan menunjukkan siapa yang dapat ditakuti polisi. Kehormatan itu lahir ketika rakyat menyaksikan bahwa polisi tidak takut mengikuti bukti.

Kini Adhyaksa dapat memperlihatkan kebesaran yang sama: bukan dengan mempertahankan siapa yang pernah menjadi bagian dari korpsnya, tetapi dengan menjaga agar nama besar Kejaksaan Agung tidak pernah lebih kecil daripada kepentingan seorang mantan pejabat.

Polri tidak perlu merobohkan tembok Adhyaksa.

Kejaksaan tidak perlu memadamkan obor Bhayangkara.

Keduanya hanya perlu membuka seluruh jendela agar cahaya memenuhi rumah keadilan.

Ketika itu terjadi, perkara ini tidak lagi menjadi kisah tentang ketegangan dua institusi. Ia akan berubah menjadi legenda tentang dua korps yang memilih menyelamatkan kehormatan republik.

*Sang Penjaga Nyala*

Hoegeng telah menyalakan api.

Generasi demi generasi menjaganya sebagai kenangan tentang polisi yang tidak dapat dibeli.

Namun, kenangan saja tidak cukup. Api yang hanya disimpan dalam cerita akan berubah menjadi abu nostalgia. Ia harus dibawa kembali ke tengah kenyataan, ke hadapan risiko, ke depan pintu orang kuat.

Listyo Sigit telah melakukannya.

Ia mengambil api itu dari ruang sejarah.

Ia membawanya melewati lorong kekuasaan.

Ia menaruhnya di hadapan tembok yang dibangun dari pangkat, kewenangan, jaringan, dan ketakutan.

Tembok tersebut belum sepenuhnya runtuh. Namun, cahayanya telah memperlihatkan setiap retakan.

Sekarang semua orang dapat melihat.

Semua orang dapat mengawasi.

Semua orang dapat mengingat.

Itulah warisan terbesar seorang pemimpin: bukan hanya keberhasilan membuka perkara, tetapi keberanian membuat kebenaran mustahil dikembalikan sepenuhnya ke dalam gelap.

*Penutup: Ketika Dua Korps Menjaga Matahari Republik*

Kelak sejarah tidak hanya mencatat berapa banyak uang yang ditemukan, berapa kilogram emas yang ditimbang, atau berapa nama yang diperiksa.

Sejarah akan mencatat siapa yang berani membuka pintu.

Siapa yang tetap berdiri ketika tekanan datang.

Siapa yang menjaga bukti tetap berbicara.

Siapa yang memilih kehormatan republik di atas kenyamanan kekuasaan.

Dan di halaman itu, nama Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo akan berdiri sebagai sang penjaga nyala.

Ia tidak membawa Api Hoegeng untuk membakar Adhyaksa.

Ia membawanya untuk menyelamatkan kehormatan Bhayangkara dan Adhyaksa sekaligus.

Ia menunjukkan bahwa dua korps tidak perlu saling menutupi kegelapan agar disebut bersaudara. Persaudaraan tertinggi lahir ketika keduanya saling menjaga cahaya, saling menguatkan keberanian, dan saling memastikan tidak ada orang yang dapat bersembunyi di balik kemuliaan seragam.

Bhayangkara telah membawa obor.

Adhyaksa kini dipanggil meneruskannya.

Rakyat berdiri mengelilinginya.

Republik menunggu fajar.

Jangan biarkan nyala itu padam.

Jangan biarkan keberanian Listyo Sigit menjadi cahaya yang kesepian.

Jangan biarkan tembok yang telah diterangi kembali menelan bayangannya.

Biarkan Api Hoegeng membesar di tangan dua korps penjaga negara.

Biarkan cahayanya menembus setiap ruang kekuasaan.

Biarkan generasi mendatang mengenang bahwa pernah datang suatu masa ketika Bhayangkara dan Adhyaksa tidak bersatu untuk melindungi kegelapan, tetapi berdiri bahu-membahu menjaga matahari keadilan tetap terbit di atas Republik Indonesia.

Hoegeng telah menyalakannya.

Listyo Sigit telah membawanya.

Bhayangkara telah membuka jalannya.

Adhyaksa harus menuntaskan perjalanannya.

Rakyat akan menjaga nyalanya.

Dan selama api itu tetap berkobar, tidak ada tembok kekuasaan yang mampu membuat Republik kembali gelap.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *