Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BERITA

Dorong Kesejahteraan Peternak, Pemerintah dengan Asosiasi Perunggasan Nasional Perkuat Sinergi Hilirisasi pada Event AGRIMAT & AGRILIVESTOCK ASIA 2026

Avatar photo
59
×

Dorong Kesejahteraan Peternak, Pemerintah dengan Asosiasi Perunggasan Nasional Perkuat Sinergi Hilirisasi pada Event AGRIMAT & AGRILIVESTOCK ASIA 2026

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA, 8 Mei 2026 : Sektor perunggasan nasional saat ini memegang peranan krusial sebagai
penyedia protein hewani utama bagi masyarakat sekaligus penggerak ekonomi di wilayah pedesaan.
Di tengah tantangan ketidakpastian harga pasar dan dominasi rantai pasok global, sektor
perunggasan nasional bersiap melakukan transformasi besar. Merespons dinamika tantangan
industry nasional dan internasional, sebuah forum strategis lintas sektoral digelar sebagai bagian
rangkaian pameran teknologi pertanian dan peternakan terbesar AGRIMAT & AGRILIVESTOCK ASIA
2026. sebuah seminar krusial yang mengusung tema peran serta pemerintah dan asosiasi dalam
mensejahterakan peternak melalui hilirisasi ini digelar pada Jumat, 8 Mei 2026, bertempat di
Seminar Room 1 (Hall 5), Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2 Jakarta.

Pertemuan ini menjadi sangat vital seiring dengan rencana strategis dan komitmen kuat dari
pemerintah. Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dan Kementerian Pertanian dikabarkan telah
mengalokasikan pendanaan masif sebesar Rp20 triliun untuk membangun ekosistem peternakan
ayam terintegrasi berskala nasional. Sebagai langkah nyata untuk melindungi peternak lokal dan
menstabilkan biaya produksi, pemerintah juga merencanakan pengalihan wewenang impor bungkil
kedelai atau soybean meal (SBM)—komponen utama pakan ternak—dari pihak swasta kembali
kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Example 300x600

Acara ini menjadi momentum penting bagi para pemangku kepentingan untuk merumuskan solusi
konkret atas isu strategis peternakan rakyat. Hilirisasi dipandang sebagai kunci utama untuk
meningkatkan nilai tambah produk, memperkuat posisi tawar peternak, dan menciptakan ekosistem
bisnis yang lebih adil dan berkelanjutan.

Keberlangsungan usaha peternak rakyat terus dibayangi oleh ketidakpastian harga pasar yang
fluktuatif serta dominasi rantai pasok oleh korporasi besar. Kondisi struktural ini menuntut adanya
transformasi nyata melalui kebijakan hilirisasi agar peternak tidak lagi hanya bergantung pada
penjualan komoditas telur dan ayam hidup yang berisiko tinggi. Peran pemerintah sangat diperlukan
untuk membangun infrastruktur pascapanen sebagai CPP(Cadangan Pangan Pemerintah) Melalui
BUMN pangan seperti rumah potong hewan unggas dan fasilitas penyimpanan dingin dan mampu
menyerap hasil ternak secara stabil.

Menurut Alvino(KPUN) sebagai penyelenggara kegiatan seminar, tujuan kegiatan ini adalah untuk
(1). Merumuskan regulasi yang menjamin keberlanjutan usaha peternakan dari hulu hingga ke hilir
secara terintegrasi, (2). Merumuskan strategi integrasi dari budidaya hingga pengolahan pascapanen
yang berpihak pada keberlangsungan usaha peternak rakyat, Integrasi secara Horizonthal (3).
Menyelaraskan kebijakan kementerian dengan fungsi penyerapan hasil ternak oleh BUMN pangan
untuk menjaga stabilitas harga telur dan ayam nasional, (4). Menyambungkan akses pendanaan dan
investasi strategis untuk pembangunan Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) serta sarana rantai
dingin, berkolaborasi dengan PPLI. (5). Menciptakan ekosistem pasar yang memungkinkan peternak
rakyat mendapatkan nilai tambah ekonomi melalui produk olahan telur dan ayam, (6). Menjalin
kolaborasi konkret untuk menyejahterakan pelaku usaha perunggasan antara asosiasi peternak,
praktisi, lembaga keuangan, dan pemerintah demi mewujudkan kedaulatan pangan.
Seminar ini akan dibagi menjadi dua sesi strategis yang menghadirkan berbagai narasumber baik dari
kalangan pemerintah, BUMN Pangan, Asosiasi Peternak yang kompeten dibidangnya, di antaranya:

Sesi Pagi (09.00 – 11.30): Menampilkan paparan dan Sidang Pleno bersama gabungan asosiasi (PPN,
Berkah Telur Blitar, KPUN, PPUI, dan PERMINDO) untuk menyampaikan kondisi riil dan aspirasi
peternak di lapangan. Sedangkan Sesi Siang (13.30 – 16.00): Berfokus pada implementasi teknis
dengan menghadirkan Menteri Pertanian RI/Kepala Bapanas mengenai Visi Hilirisasi Perunggasan
Nasional, Dirut PT Berdikari (Persero), Dirut PT AGRINAS, Pimpinan Badan Pengelola Investasi
(DANANTARA), serta perwakilan dari Kemendagri sebagai regulator Perda, Dirjend Kemendes PDTT
dll.

Keberhasilan tujuan acara ini didukung oleh kehadiran ekosistem peserta yang komprehensif,
mencakup: (1). Regulator Utama: Kementerian Pertanian & Bapanas. (2). Kementerian Terkait:
Direktorat Jenderal Kemendes PDTT, (3). Lembaga Pengelola Investasi: DANANTARA, (4). BUMN
Pangan dan Mitra Strategis: PT Berdikari (Persero) dan PT AGRINAS, (5). Asosiasi Peternak Rakyat,
(6). Organisasi Profesi & Industri: GPPU dan PPN, (7). Lembaga Pemberdayaan: PERMINDO dan LPER,
(8). Pakar Independen: Praktisi & Akademisi Perunggasan dan juga (9). Koperasi perunggasan.

“Melalui sinergi antara Kementerian Pertanian, BUMN Pangan, dan lembaga investasi nasional,
ekosistem usaha yang lebih berkeadilan dapat segera diwujudkan bagi seluruh pemangku
kepentingan,” demikian ditegaskan Alvino.
Berbeda dengan seminar biasa, pertemuan ini menargetkan tiga output nyata (concrete deliverables ):

1. Kesepakatan Offtaker Nasional: Komitmen tertulis dari BUMN Pangan (Bulog/Berdikari) dan
Agrinas sebagai penyerap hasil produksi peternak rakyat secara konsisten dan berkelanjutan,
terutama pada saat harga jatuh di pasaran.

2. Skema Pendanaan Infrastruktur: Rumusan model pembiayaan strategis bersama DANANTARA
untuk pembangunan Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) dan Cold Storage di sentra-sentra
peternakan rakyat.

3. Peta Jalan (Roadmap) Cadangan Pangan Pemerintah (CPP): Penyusunan komitmen pemerintah
dalam menciptakan cadangan pangan protein serupa dengan komoditas beras, yang nantinya
dapat disalurkan untuk kebutuhan bantuan sosial, penanganan bencana, keadaan krisis, maupun
mengatasi kekurangan suplai di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).

Alvino juga menegaskan bahwa, Hilirisasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan. Kita perlu
membangun infrastruktur pascapanen yang mampu menyerap hasil ternak rakyat secara stabil
sehingga peternak tidak lagi hanya bergantung pada penjualan ayam hidup yang berisiko tinggi,”
sehingga diharapkan alokasi dana 20T difokuskan untuk memperkuat hilirisasi, yaitu penyediaan
infrastruktur pascapanen baik berupa Rumah potong hewan unggas maupun penyediaan cold
storage di sentra-sentra peternakan rakyat, serta penyerapan daging ayam dan telor untuk
Cadangan Pangan Pemerintah (CPP).

Selain itu Alvino juga berharap terkait kebijakan impor bungkil kedelai atau soybean meal (SBM)
pemerintah perlu melakukan koordinasi yang erat dengan asosisasi peternak serta pelaku usaha dan
peternak, termasuk peternak mandiri terkait untuk memetakan kebutuhan serta menjaga
kelancaran pasokan dan tidak menimbulkan gejolak.

“Pada prinsipnya kami mendukung kebijakan pemerintah dan siap berkolaborasi serta bersinergi
demi mewujudkan ekosistem usaha yang lebih berkeadilan dan meningkatkan kesejahteraan
peternak,” tegas Alvino.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *