Michael Abimanyu ; “Indonesia Memiliki Keunggulan Komparatif Dari Segi Geografis Yang Strategis Di Lintas Trans-Pasifik Serta Kekayaan Sumber Daya Energi”
JAKARTA – Industri pusat data (data center) nasional dinilai menjadi kunci strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga mencapai target 8 persen. Pemanfataan momentum pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) serta transisi ke energi terbarukan dalam jangka waktu 3 hingga 8 tahun ke depan harus dioptimalkan oleh pemerintah dan para pelaku industri.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Direktur Eksekutif Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO), Michael Abimanyu, saat diwawancarai di sela-sela pameran dan seminar Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (3/9/2026).
”Berdasarkan studi dan referensi internasional, ada negara di Eropa yang mampu mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen tahun lalu berkat lonjakan investasi data center dan adopsi AI. Hal ini membuktikan bahwa target pertumbuhan 8 persen yang dicanangkan pemerintah bukanlah hal yang mengawang-awang, ada buktinya,” ujar Michael Abimanyu.
Menurut Michael, Indonesia memiliki keunggulan komparatif dari segi geografis yang strategis di lintas Trans-Pasifik serta kekayaan sumber daya energi. Mengingat sekitar 40 persen komponen operasional data center berasal dari biaya listrik, penyediaan pasokan energi yang kompetitif menjadi faktor utama penarik investasi global.
Advokasi Energi Terbarukan dan Excess Energy Geothermal
Guna mendukung keberlanjutan lingkungan, IDPRO aktif memberikan advokasi kepada kementerian pengampu seperti Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Bappenas, hingga Dewan Energi Nasional (DEN) agar tidak bergantung pada energi fosil. Salah satu solusi konkret yang ditawarkan adalah pemanfaatan excess energy (kelebihan kapasitas) pembangkit panas bumi.
”Kami menginisiasi studi bersama Pertamina Geothermal Energy untuk memanfaatkan excess energy yang belum terpakai—serupa dengan prinsip pengolahan flare di sektor migas. Daripada terbuang tanpa dimonetisasi, kelebihan kapasitas sebesar 5 Megawatt (MW) tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengoperasikan data center di lokasi sekitar seperti Jawa Barat, Lampung, dan Sulawesi Utara,” jelasnya.
Selain geothermal, IDPRO mendorong pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di wilayah berlahan luas.
Salah satu proyek yang berjalan adalah pengembangan kawasan di Pulau Bintan bersama DCI dan Salim Group, di mana sepertiga pulau dirancang sebagai pusat PLTS. Sektor data center diproyeksikan mampu menyumbang 3 hingga 6 Gigawatt (GW) dalam 1–2 tahun untuk menopang target 100 GW PLTS nasional.
Pemerataan Infrastruktur Digital hingga Indonesia Timur
Dalam penyusunan Roadmap
Digital Infrastructure RPJMN bersama Bappenas, IDPRO mendorong ekspansi data center keluar Pulau Jawa.
Selain pengembangan di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, serta kawasan Batam, Bintan, Karimun (BBK) dan Bangka, arah investasi juga ditujukan ke Nusa Tenggara hingga Rote Ndao.
”Rote Ndao berjarak sekitar 300 kilometer dari pantai barat Australia.
Jarak yang sangat dekat ini memungkinkan penarikan kabel laut (subsea cable) maupun kabel listrik secara jauh lebih murah dan efisien dibandingkan jalur utara. Opsi ini sangat potensial ditawarkan dalam kerja sama bilateral RI-Australia sekaligus memajukan ekonomi digital di Indonesia Timur yang sudah terhubung jaringan Palapa Ring,” kata Michael.
Arsitektur Distributed AI dan 5 Pilar Standardisasi
Merespons perkembangan AI, IDPRO merekomendasikan penerapan arsitektur distributed (terdistribusi) hingga ke kota Tier 2, Tier 3, maupun tingkat kabupaten. Pendekatan ini dinilai penting untuk merespons keberagaman kearifan lokal dan bahasa daerah (local wisdom).
Penyebaran edge data center dalam skala kecil di daerah dipercaya mampu mendorong digitalisasi UMKM, transaksi QRIS, dan e-commerce secara merata, sekaligus mengefisiensikan eksekusi program pemerintah.
Sebagai penutup, Michael mengungkapkan bahwa IDPRO sedang menyiapkan instrumen pengukuran standar nasional bagi industri data center.
”Kami sedang menyiapkan lima pilar yang akan diluncurkan sebagai indeks menuju Sustainable Data Center Standard Indonesia. Selain aspek keberlanjutan, pengembangan talenta digital juga menjadi fokus utama kami agar SDM nasional siap mengelola infrastruktur komputasi masa depan ini,” pungkas Michael Abimanyu.


















