Jakarta, 18 April 2026 – Semangat kebangkitan Paskah menjadi momen bersejarah bagi masyarakat Kristiani asal Sumatera Utara dengan resmi diteguhkannya Persaudaraan Warga Gereja Sumatera Utara (PWGSU) dalam rangkaian Perayaan Paskah Bersama PWGSU 2026 di Auditorium Manggala Wanabakti, Kementerian Lingkungan Hidup, Jakarta, Sabtu (18/4).
Acara yang berlangsung khidmat dan penuh sukacita ini menjadi tonggak penting lahirnya wadah persaudaraan lintas gereja bagi warga Sumatera Utara di perantauan, khususnya wilayah Jabodetabek. Kehadiran PWGSU diharapkan menjadi ruang pemersatu umat sekaligus motor penggerak kontribusi sosial, kebangsaan, dan pembangunan karakter generasi muda.
Perayaan ibadah Paskah dipimpin oleh Pdt. Krismas Imanta Barus, Ketua Moderamen GBKP, sementara prosesi deklarasi PWGSU dipimpin Pdt. Viktor Tinambunan, Ephorus HKBP. Kehadiran para pemimpin gereja dari berbagai denominasi menunjukkan kuatnya semangat persatuan dan kebersamaan umat Kristiani Sumatera Utara.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan seminar kebangsaan yang menghadirkan pembicara utama Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Lingkungan Hidup. Turut hadir pula sejumlah tokoh nasional seperti Prof. Yasonna Laoly, Dr. Edimon Ginting, Dr. Raden Pardede, serta Pdt. Prof. Binsar J. Pakpahan.
AI Jadi Tantangan Terbesar Umat Manusia, Hasyim Djojohadikusumo Soroti Urgensi Kesiapan Global
Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini menjadi perhatian serius berbagai kalangan.
Dalam sambutannya, Hasyim Djojohadikusumo menegaskan bahwa AI merupakan salah satu tantangan paling besar dan krusial yang akan dihadapi umat manusia di masa depan.
Ia menyampaikan bahwa tantangan ini tidak hanya berlaku bagi Indonesia, melainkan seluruh dunia. Menurutnya, laju perkembangan AI yang sangat cepat dan masif menjadikannya fenomena yang sulit dipahami, apalagi dikendalikan.
“Menanggulangi AI atau kecerdasan buatan adalah salah satu tantangan paling berat dan paling penting yang akan dihadapi oleh umat manusia, bukan hanya Indonesia, tetapi seluruh dunia,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa perkembangan teknologi ini bergerak jauh lebih cepat dibanding kesiapan manusia dalam memahami maupun mengantisipasi dampaknya. Hal ini menimbulkan berbagai pertanyaan besar, mulai dari aspek etika, ekonomi, hingga masa depan tenaga kerja.
“AI berkembang dengan sangat pesat, besar, dan cepat. Ini menjadi sesuatu yang sulit dipahami, sulit dijawab, dan tentu saja tidak mudah untuk dihadapi,” tambahnya.
Dalam konteks tersebut, ia mengajak seluruh pihak, baik pemerintah, akademisi, maupun masyarakat luas untuk mulai mempersiapkan diri secara serius. Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci dalam menghadapi era transformasi digital yang semakin kompleks.
Pernyataan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi harus diiringi dengan kesiapan sumber daya manusia, regulasi yang adaptif, serta kesadaran kolektif agar perkembangan AI dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa menimbulkan dampak negatif yang luas.


















