Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BEA CUKAI

Sri Kusumawati “Berbagai Tantangan Besar Yang Dihadapi Pengelolaan Museum, Khususnya Di Museum Seni Rupa Dan Keramik Yang Saat Ini Mengelola Lebih Dari 19.000 Koleksi”

Avatar photo
38
×

Sri Kusumawati “Berbagai Tantangan Besar Yang Dihadapi Pengelolaan Museum, Khususnya Di Museum Seni Rupa Dan Keramik Yang Saat Ini Mengelola Lebih Dari 19.000 Koleksi”

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

 

Jakarta, 19 Mei 2026 – Kepala Unit Pengelola Museum Seni Provinsi DKI Jakarta, Sri Kusumawati, menjadi narasumber dalam diskusi publik bertajuk “Ekosistem Museum Seni Rupa di Indonesia: Terhubung atau Terfragmentasi?” yang digelar di Galeri Nasional Indonesia, Selasa (19/05/26), dalam rangka memperingati Hari Museum Internasional.

Example 300x600

Diskusi ini menyoroti tantangan koordinasi antar-institusi museum seni rupa di Indonesia, sekaligus mengevaluasi apakah museum-museum di Indonesia telah berfungsi sebagai jejaring nasional yang saling terhubung atau justru masih berjalan sendiri-sendiri.

Dalam paparannya, Sri Kusumawati mengungkapkan berbagai tantangan besar yang dihadapi pengelolaan museum, khususnya di Museum Seni Rupa dan Keramik yang saat ini mengelola lebih dari 19.000 koleksi, terdiri dari lebih dari 400 lukisan, sekitar 11.000 koleksi keramik, serta berbagai koleksi seni lainnya.

Menurut Sri, tantangan utama terletak pada perawatan koleksi di tengah keterbatasan infrastruktur dan sumber daya manusia.

“Perawatan koleksi menjadi tantangan yang sangat besar, apalagi kita berada di negara tropis dengan tingkat kelembapan tinggi. Ini sangat berpengaruh pada kondisi koleksi, khususnya lukisan dan benda-benda berbahan sensitif,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Museum Seni Rupa dan Keramik menempati bangunan cagar budaya yang dibangun pada tahun 1866 sebagai gedung Dewan Pengadilan atau Raad van Justitie. Bangunan tersebut awalnya tidak dirancang sebagai museum, sehingga banyak ruang harus diadaptasi menjadi area pamer dan penyimpanan koleksi.

“Kita berada di bangunan cagar budaya kelas dua yang tidak bisa diubah secara bebas. Akibatnya, ruang pamer tidak semuanya memenuhi standar ideal museum, baik dari sisi jarak pandang pengunjung maupun keamanan koleksi,” jelas Sri.

Kondisi ini juga berdampak pada risiko kerusakan koleksi akibat interaksi pengunjung, serta keterbatasan ruang penyimpanan atau storage museum.

Sri menambahkan bahwa hingga saat ini Museum Seni Rupa dan Keramik belum memiliki fasilitas storage yang ideal. Padahal, storage merupakan komponen vital dalam pengelolaan museum.

“Kalau ruang pamer adalah wajah museum, maka storage adalah jantungnya museum,” katanya.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, lanjut Sri, telah merancang pembangunan storage terpadu untuk menyimpan koleksi dari sejumlah museum seperti Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Wayang, serta Museum Tekstil. Lokasinya direncanakan berada di kawasan Museum Tekstil.

Namun pembangunan fasilitas tersebut masih menunggu antrean realisasi karena membutuhkan standar teknis tinggi, mulai dari pengaturan suhu, pencahayaan, klasifikasi koleksi, hingga tenaga konservasi profesional.

Selain isu infrastruktur, Sri juga menyoroti pentingnya membangun jejaring antar-museum agar tercipta ekosistem museum seni rupa yang lebih sehat dan produktif.

“Harapan saya setelah Hari Museum Internasional ini, museum-museum seni rupa di Indonesia bisa menjalin kerja sama lebih intens. Kita perlu membangun ekosistem museum yang lebih terstruktur dan memiliki program bersama,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa museum tidak seharusnya saling bersaing, melainkan saling memperkuat melalui kolaborasi pameran, program residensi, diskusi seni, dan program publik lainnya.

“Kalau museum berjalan sendiri-sendiri, hasilnya tidak maksimal. Tapi kalau membangun jejaring, kita bisa mengolaborasikan potensi masing-masing sehingga program publik yang dihasilkan jauh lebih berkualitas,” tambahnya.

Saat ini, di Jakarta sendiri terdapat lebih dari 90 museum, sementara secara nasional jumlahnya mencapai ratusan museum.

Untuk menarik minat generasi muda, pengelola museum juga terus melakukan berbagai inovasi, seperti revitalisasi ruang pamer, penambahan teknologi informasi, ruang imersif, hingga penyelenggaraan workshop edukatif dan interaktif.

“Kami ingin museum tidak hanya menjadi tempat melihat benda, tetapi juga ruang belajar, bereksplorasi, dan berinteraksi. Pengunjung bisa mendapatkan pengalaman langsung lalu membagikannya melalui media sosial,” tutup Sri.

Peringatan Hari Museum Internasional tahun ini diharapkan menjadi momentum penting bagi museum-museum Indonesia untuk memperkuat kolaborasi, meningkatkan kualitas layanan, serta membangun relevansi museum bagi masyarakat modern, khususnya generasi muda.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *