Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BERITA

Teguh Menilai Peran Museum Dapat Menjadi Ruang Awal Bagi Anak Muda Untuk Mengenal Seni Meskipun Tidak Semua Harus Menjadi Seniman

Avatar photo
35
×

Teguh Menilai Peran Museum Dapat Menjadi Ruang Awal Bagi Anak Muda Untuk Mengenal Seni Meskipun Tidak Semua Harus Menjadi Seniman

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

 

 

Example 300x600

Jakarta, 19 Mei 2026 – Perupa senior Teguh Ostenrik menjadi salah satu narasumber dalam diskusi publik bertajuk “Ekosistem Museum Seni Rupa di Indonesia: Terhubung atau Terfragmentasi?” yang digelar di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Selasa (19/05/26), dalam rangka memperingati Hari Museum Internasional.

Diskusi ini menyoroti tantangan koordinasi antar-institusi museum serta mengevaluasi apakah museum seni rupa di Indonesia telah berfungsi sebagai jejaring nasional yang saling terhubung atau justru masih berjalan sendiri-sendiri.

Dalam paparannya, Teguh Ostenrik membagikan pandangannya berdasarkan pengalaman panjangnya berkarya selama hampir lima dekade dan perjalanan ke berbagai daerah di Indonesia.

“Saya sering bepergian ke pelosok Indonesia. Ketika melihat tempat-tempat indah dengan potensi besar, saya justru berpikir bahwa kita sebenarnya belum sepenuhnya merdeka dalam membangun ekosistem budaya,” ujar Teguh.

Menurutnya, membangun museum tidak cukup hanya dengan menghadirkan gedung atau fasilitas fisik, tetapi juga membutuhkan sistem yang sehat, kebijakan yang mendukung, serta keberanian untuk membangun infrastruktur seni secara mandiri.

Teguh menilai persoalan mendasar dunia seni di Indonesia masih berkaitan erat dengan birokrasi dan sistem administrasi yang belum sepenuhnya memahami nilai gagasan dalam karya seni.

“Dalam proyek pemerintah, yang dihitung sering kali hanya material—berapa kilo besi, berapa lembar pelat, berapa jam kerja. Padahal gagasan itu justru inti dari karya seni, dan sering kali tidak punya ruang dalam sistem anggaran,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut membuat seniman di Indonesia harus memiliki daya tahan dan kemandirian lebih tinggi.

“Kalau ingin hidup tenang dan bahagia sebagai seniman di Indonesia, kadang kita harus membangun infrastruktur sendiri, karena infrastrukturnya belum sepenuhnya tersedia,” katanya.

Teguh juga menyoroti rendahnya minat masyarakat terhadap museum dan seni rupa. Namun, ia menegaskan bahwa ketertarikan pada seni tidak dapat dipaksakan.

“Minat pada seni itu proses. Tidak bisa dipaksa. Bisa saja seseorang baru tersentuh seni di usia tertentu karena pengalaman tertentu,” jelasnya.

Ia mencontohkan pengalaman pribadinya saat tinggal di Berlin, Jerman. Awalnya ia tidak menyukai musik klasik, hingga suatu hari bekerja di gedung konser Philharmonic dan mulai menikmati pertunjukan musik secara langsung.

“Dari pengalaman itu saya belajar, apresiasi seni muncul dari pengalaman personal, bukan paksaan,” ujarnya.

Terkait generasi muda, Teguh menilai peran museum dapat menjadi ruang awal bagi anak muda untuk mengenal seni, meskipun tidak semua harus menjadi seniman.

“Museum bisa menjadi tempat awal. Mungkin dari seribu orang yang datang dan berfoto, ada satu orang yang benar-benar tertarik pada seni. Itu sudah berarti,” katanya.

Diskusi publik ini menjadi ruang refleksi penting bagi para pelaku seni, pengelola museum, akademisi, hingga pemerintah untuk menata ulang arah pengembangan museum seni rupa di Indonesia agar lebih inklusif, terhubung, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Melalui momentum Hari Museum Internasional, diharapkan museum seni rupa di Indonesia tidak hanya menjadi ruang penyimpanan karya, tetapi juga pusat pertukaran gagasan, pendidikan budaya, dan penguatan ekosistem seni nasional.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *