Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BERITA

Marlowe Bandem ; “SAKA Museum Hadir Sebagai Museum Swasta Yang Berupaya Menghadirkan Pengalaman Budaya Bali Dan Nusantara Secara Lebih Kontekstual Maupun Modern

Avatar photo
47
×

Marlowe Bandem ; “SAKA Museum Hadir Sebagai Museum Swasta Yang Berupaya Menghadirkan Pengalaman Budaya Bali Dan Nusantara Secara Lebih Kontekstual Maupun Modern

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

 

 

Example 300x600

 

Jakarta, 19 Mei 2026 – Penasihat SAKA Museum, Marlowe Bandem, menjadi narasumber dalam diskusi publik bertajuk “Ekosistem Museum Seni Rupa di Indonesia: Terhubung atau Terfragmentasi?” yang digelar di Galeri Nasional Indonesia, Selasa (19/05/26), dalam rangka memperingati Hari Museum Internasional.

Diskusi ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas tantangan koordinasi antar-institusi museum seni rupa di Indonesia, sekaligus mengevaluasi apakah museum-museum di Tanah Air telah membentuk jejaring nasional yang kuat atau masih berjalan secara terpisah.

Dalam paparannya, Marlowe Bandem menekankan bahwa museum masa kini tidak lagi cukup hanya menjadi ruang penyimpanan artefak dan karya seni, melainkan harus hadir sebagai pusat pengetahuan, pengalaman budaya, sekaligus ruang dialog publik yang relevan dengan perkembangan zaman.

“Kalau berbicara mengenai ekosistem museum, yang paling penting bukan hanya soal koleksi, tetapi bagaimana museum membangun konektivitas, kolaborasi, dan pengalaman otentik bagi masyarakat,” ujar Marlowe.

Ia menjelaskan, SAKA Museum hadir sebagai museum swasta yang berupaya menghadirkan pengalaman budaya Bali dan Nusantara secara lebih kontekstual dan modern. Berlokasi di kawasan resort di Bali, museum ini dirancang untuk menjawab kebutuhan wisatawan yang ingin memahami budaya lokal tanpa harus meninggalkan area resort.

Menurut Marlowe, sebelum membangun SAKA Museum, timnya terlebih dahulu melakukan studi ke sejumlah museum pemerintah di Bali, seperti Museum Bali, untuk memahami tata kelola, standar kuratorial, hingga tantangan birokrasi dalam pengelolaan museum.

“Kami belajar dari museum pemerintah, kemudian melihat bagaimana museum swasta bisa lebih fleksibel untuk bereksperimen, namun tetap mengikuti standar dan regulasi yang berlaku,” katanya.

Lebih lanjut, Marlowe menyoroti kekayaan ekosistem museum di Bali yang dinilai cukup lengkap, mulai dari museum seni rupa, etnografi, ritual budaya, hingga museum kontemporer. Saat ini, Bali memiliki lebih dari 50 museum yang terdiri dari museum pemerintah, swasta, hingga museum komunitas.

“Bali kaya sekali dalam konteks kultural. Tradisinya masih hidup dan terus berevolusi, sehingga seni di Bali tidak statis. Ini menjadi kekuatan besar yang perlu dihubungkan dengan museum-museum lain di Indonesia,” jelasnya.

Ia menegaskan perlunya sinergi antara museum, galeri, perpustakaan, arsip, dan komunitas budaya agar museum dapat menjadi sarana pembelajaran peradaban Nusantara bagi generasi muda.

“Kita berharap museum di masa depan menjadi ruang bagi generasi muda untuk memahami jati dirinya, mengenal peradaban Nusantara, dan memperkuat identitas bangsa Indonesia yang multikultural,” ungkap Marlowe.

Sebagai penutup, Marlowe mengajak masyarakat untuk lebih aktif mengunjungi museum dan memanfaatkan berbagai program edukasi yang telah disediakan.

“Museum memiliki posisi penting sebagai pusat pengetahuan. Kami berharap masyarakat semakin meluangkan waktu untuk datang ke museum, karena museum bukan hanya tempat melihat benda, tetapi ruang belajar, refleksi, dan memahami peradaban,” pungkasnya.

Diskusi publik ini menjadi momentum reflektif dalam memperingati Hari Museum Internasional, sekaligus memperkuat komitmen berbagai pihak untuk membangun ekosistem museum Indonesia yang lebih terhubung, inklusif, dan berkelanjutan.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *