Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BERITA

PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) Menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) & Public Expose Tahunan Di Emporium Pluit Jakarta,

Avatar photo
35
×

PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) Menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) & Public Expose Tahunan Di Emporium Pluit Jakarta,

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Jakarta, PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), serta Public Expose Tahunan di Emporium Pluit, Jakarta, Rabu (20/05/2026).

PT Cisadane Sawit Raya Tbk merupakan perusahaan publik yang bergerak di sektor agribisnis dan perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Berdiri sejak 1983, perusahaan berfokus pada budidaya kelapa sawit dan pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) menjadi Crude Palm Oil (CPO). Hingga kini, CSRA memiliki sejumlah kebun di Sumatera Utara dan Sumatera Selatan dengan total luas mencapai sekitar 29.000 hektare.

Example 300x600

Dalam paparannya, Direktur PT Cisadane Sawit Raya Tbk, Seman Sendjaja, mengungkapkan bahwa kekuatan utama perusahaan hingga mampu bertahan selama lebih dari empat dekade terletak pada strategi pertumbuhan organik (organic growth) dan ekspansi yang dilakukan secara konservatif.

“Kami berkembang secara organic growth. Selama ini kami tidak pernah mengakuisisi perusahaan perkebunan yang sudah jadi. Mayoritas yang kami ambil adalah greenfield project, sehingga kami membangun dari awal secara bertahap sesuai kemampuan modal perusahaan,” ujar Seman.

Menurutnya, ekspansi besar-besaran perusahaan baru dimulai sejak 2007. Dengan pendekatan konservatif tersebut, CSRA dinilai mampu menjaga keberlanjutan bisnis di tengah dinamika industri sawit nasional maupun global.

Seman juga menilai industri sawit masih memiliki prospek yang sangat baik. Menurutnya, sejak pandemi Covid-19 hingga konflik geopolitik global saat ini, harga CPO justru cenderung meningkat dan memberikan dampak positif terhadap kinerja industri sawit nasional.

“Selama harga CPO tetap baik, maka itu akan langsung berpengaruh terhadap keuntungan perusahaan. Kami tetap optimistis walaupun kondisi geopolitik global masih dinamis,” katanya.

Dalam Public Expose tersebut, manajemen memproyeksikan penjualan perusahaan pada 2026 dapat menembus Rp2 triliun. Jika target tersebut tercapai, laba bersih perusahaan juga diperkirakan mampu melampaui Rp300 miliar.

Meski demikian, perusahaan tetap berhati-hati terhadap kenaikan biaya operasional, terutama harga pupuk dan solar industri yang meningkat signifikan akibat situasi global.

“Tahun ini kami memilih tidak menambah dividen karena ingin menjaga cashflow perusahaan. Namun tidak menutup kemungkinan akan ada dividen interim pada semester kedua 2026, tergantung kondisi keuangan perusahaan,” jelas Seman.

CSRA juga terus melakukan ekspansi dan pengembangan lahan. Tahun ini perusahaan menganggarkan pembukaan lahan baru sekitar 100 hektare yang berada di wilayah Sumatera Utara dan Sumatera Selatan.

Sementara itu, Direktur Vivery Jerry Denny Walukow menyampaikan bahwa perusahaan menargetkan peningkatan produksi TBS sekitar 10 persen pada 2026. Selain itu, kapasitas pengolahan pabrik juga ditingkatkan hingga mencapai sekitar 700 ribu ton per tahun.

“Kami optimistis produksi semester kedua akan lebih baik karena memasuki puncak produksi tanaman sawit. Dengan pemeliharaan yang lebih intensif, kami berharap realisasi produksi bisa mencapai 95 hingga 100 persen dari target,” ujarnya.

Dalam upaya efisiensi dan mendukung energi terbarukan, CSRA juga mulai memanfaatkan kendaraan operasional berbasis listrik untuk aktivitas perkebunan. Langkah tersebut dilakukan sebagai antisipasi melonjaknya harga solar industri yang kini mencapai sekitar Rp30 ribu per liter.

“Kami sudah mulai mencoba wheel loader listrik sejak tahun lalu. Selain lebih efisien, ini juga menjadi bagian dari upaya pengurangan emisi karbon,” kata Seman.

Selain itu, perusahaan juga memperoleh tambahan pendapatan dari penjualan cangkang sawit. Dengan penggunaan boiler generasi baru yang lebih efisien, kebutuhan bahan bakar pabrik menurun sehingga menghasilkan surplus cangkang yang dapat dijual.

“Dulu cangkang dianggap limbah, sekarang justru menjadi sumber pendapatan tambahan hingga belasan miliar rupiah per tahun,” tambahnya.

Manajemen menegaskan bahwa industri sawit masih menjadi sektor yang menjanjikan karena seluruh bagian produksinya memiliki nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan secara maksimal, tutupnya.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *