Sino Nusantara Institute Menggelar Seminar Nasional & Peluncuran Indonesia Friends of Silk Road Club dengan tema “Memahami Global Civilization Initiative (GCI) dari Perspektif Hubungan Indonesia–Tiongkok”
Jakarta, – Upaya memperkuat hubungan masyarakat Indonesia dan Tiongkok kembali mendapat ruang strategis melalui Seminar Nasional sekaligus Peluncuran Indonesia Friends of Silk Road Club dengan tema “Memahami Global Civilization Initiative (GCI) dari Perspektif Hubungan Indonesia–Tiongkok”.
Kegiatan tersebut digelar pada Selasa (15/9/2026) di Hotel Borobudur, Jakarta, dengan menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, mulai dari media, diplomasi, akademisi hingga lembaga kajian.
Hadir sebagai narasumber M. Irfan Ilme, Kepala LKBN ANTARA Biro Beijing; Duta Besar DR. (H.C.) Al Busyra Basnur, Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia–Tiongkok; Ahmad Syahfudin Zuhri, Direktur Sino Nusantara Institute; serta Dr. K.H. Imron Rosyadi Hamit, Rektor Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang, Jawa Timur.
Seminar ini menjadi momentum untuk membahas lebih jauh gagasan Global Civilization Initiative (GCI) serta peluang memperkuat hubungan Indonesia–Tiongkok tidak hanya pada tingkat pemerintah, tetapi juga melalui keterlibatan masyarakat, akademisi, pemuda, dunia usaha, media, dan berbagai elemen masyarakat sipil.
Direktur Sino Nusantara Institute, Ahmad Syahfudin Zuhri, mengatakan peluncuran Indonesia Friends of Silk Road Club diharapkan dapat menjadi salah satu platform yang memperkuat hubungan antarmasyarakat kedua negara.
Menurutnya, hubungan Indonesia dan Tiongkok tidak cukup hanya dibangun melalui kerja sama antarpemerintah. Diperlukan pula jembatan yang memungkinkan masyarakat kedua negara saling bertukar gagasan, pengalaman dan pengetahuan.
“Ini sebagai salah satu platform terkait dengan hubungan dan inisiatif kuat di level antarmasyarakat dengan negara. Platform ini bisa menjadi salah satu jembatan untuk program-program ke depan,” ujar Ahmad dalam wawancara dengan awak media.
Ia menjelaskan, ruang kerja sama yang dapat dikembangkan cukup luas, mulai dari pertukaran pemuda, pertukaran budaya, akademik, bisnis hingga berbagai bentuk kolaborasi lainnya.
Ahmad menilai penguatan hubungan antarmasyarakat menjadi bagian penting untuk melengkapi berbagai kebijakan diplomasi yang telah dibangun oleh pemerintah Indonesia.
“Terutama dari sisi Indonesianya, penguatan informasi dan kebijakan pemerintah sudah keluar. Tetapi kebijakan dan praktiknya masih banyak tantangan. Kami sebagai masyarakat sipil mencoba mendukung di level tersebut,” jelasnya.
Dorong Roadmap Kerja Sama yang Lebih Jelas
Lebih lanjut, Ahmad menyoroti pentingnya tindak lanjut konkret dari berbagai kebijakan hubungan Indonesia–Tiongkok. Menurutnya, kebijakan yang telah dirumuskan pemerintah membutuhkan peta jalan atau roadmap yang lebih jelas agar dapat diterjemahkan menjadi program nyata di lapangan.
Ia menegaskan, masyarakat sipil dapat mengambil peran untuk mengawal proses tersebut sekaligus memberikan gagasan yang konstruktif kepada pemerintah.
“Kebijakan diplomasi pemerintah Indonesia sudah keluar, tetapi roadmap-nya belum ada. Baru kerangkanya saja. Itu yang harus kita kawal,” katanya.
Dalam konteks tersebut, Indonesia Friends of Silk Road Club diharapkan tidak sekadar menjadi forum diskusi, tetapi berkembang menjadi ruang bertemunya berbagai pemikiran dan gagasan mengenai masa depan hubungan Indonesia–Tiongkok.
Ahmad juga mengungkapkan rencana pihaknya untuk menggelar agenda lanjutan pada akhir tahun ini. Salah satu gagasan yang tengah dipersiapkan adalah kegiatan yang membahas satu tahun investasi Tiongkok di dunia, yang rencananya akan digelar di Jawa Tengah.
Namun, agenda tersebut masih dalam tahap pematangan dan pembahasan bersama berbagai pihak.
“Kami masih proses karena membutuhkan pematangan bersama. Rencananya ada di Jawa Tengah,” ungkapnya.
Gagasan Masyarakat Sipil untuk Pemerintah
Menurut Ahmad, ruang media juga memiliki peran penting dalam memperluas pertukaran gagasan mengenai hubungan Indonesia–Tiongkok. Dengan adanya ruang diskusi dan publikasi yang terbuka, ide-ide dari masyarakat, akademisi maupun pelaku bisnis dapat diketahui lebih luas, termasuk oleh pemerintah.
“Di ruang media itulah gagasan dan pertukaran ide bisa dibaca banyak orang, tidak hanya masyarakat, tetapi bagaimana pemerintah bisa melihat gagasan dan ide bisnis kepada pemerintah,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah juga terus memperkuat kapasitas masyarakat Indonesia agar mampu mengambil manfaat yang lebih besar dari hubungan dan kerja sama dengan Tiongkok.
Dalam pandangannya, hubungan bilateral yang kuat idealnya tidak hanya menghasilkan kerja sama pada level kelembagaan, tetapi juga menciptakan konektivitas yang semakin erat di tingkat masyarakat.
Menjadi Lembaga Independen yang Berkontribusi
Ahmad menegaskan bahwa Sino Nusantara Institute bersama Indonesia Friends of Silk Road Club ingin mengambil posisi sebagai bagian dari masyarakat sipil yang ikut berkontribusi dalam memperkuat kerja sama Indonesia–Tiongkok.
“Kami berharap sebagai lembaga independen, kami menjadi salah satu lembaga yang berkontribusi terkait kerja sama Indonesia–Tiongkok di luar lembaga kampus dan lembaga pemerintah,” tegasnya.
Peluncuran Indonesia Friends of Silk Road Club pun diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun jejaring yang lebih luas. Dengan mempertemukan berbagai kalangan, forum ini dapat menjadi wadah pertukaran pengetahuan, budaya, gagasan ekonomi, pendidikan serta peluang kerja sama yang saling menguntungkan.
Seminar nasional tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa hubungan Indonesia–Tiongkok memiliki ruang pengembangan yang semakin luas, bukan hanya melalui diplomasi formal, tetapi juga melalui people-to-people connectivity yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Melalui semangat Global Civilization Initiative, penguatan hubungan kedua negara diharapkan dapat berkembang menjadi kerja sama yang lebih inklusif, saling memahami, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia dan Tiongkok.


















