Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BERITA

Tulus Menyoroti Perubahan Tren Pasar Dimana Permintaan Ekspor Batubara Mulai Menurun, Sementara Kebutuhan Domestik Justru Meningkat

Avatar photo
29
×

Tulus Menyoroti Perubahan Tren Pasar Dimana Permintaan Ekspor Batubara Mulai Menurun, Sementara Kebutuhan Domestik Justru Meningkat

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

 

 

Example 300x600

 

Jakarta, 21 April 2026 — Ketua Komite Kepelabuhan dan Pengapalan Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Tulus Sebastian Situmeang, menegaskan pentingnya transformasi sektor kepelabuhanan dalam mendukung efisiensi distribusi batubara nasional. Hal ini disampaikannya dalam Seminar Nasional Kepelabuhan bertajuk “Memperkuat Sinergi, Mendorong Transformasi Pelabuhan Nasional” yang diselenggarakan oleh Asosiasi Badan Usaha Pelabuhan Indonesia (ABUPI) di Hotel Aryaduta Jakarta, Selasa (21/04/26).

Dalam paparannya, Tulus menjelaskan bahwa industri batubara memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional, dengan kontribusi produksi yang sangat signifikan. Ia menyebut, pada tahun 2026, kontribusi anggota asosiasi terhadap produksi batubara nasional mencapai sekitar 93 persen, menunjukkan posisi vital sektor ini dalam mendukung kebutuhan energi domestik.

Namun demikian, Tulus menyoroti bahwa tantangan utama industri tidak hanya terletak pada proses penambangan, melainkan pada aspek logistik. “Komponen biaya logistik mencapai sekitar 20–25 persen dari total biaya produksi. Ini mencakup transportasi, pengolahan, hingga pengiriman ke konsumen,” ungkapnya.

Ia juga menggarisbawahi bahwa sistem distribusi batubara di Indonesia masih sangat bergantung pada jalur logistik berbasis tongkang, terutama untuk pasar domestik yang mencapai lebih dari 80 persen. Ketergantungan ini menimbulkan tantangan tersendiri, terutama terkait efisiensi waktu dan biaya.

Lebih lanjut, Tulus memaparkan berbagai kendala di lapangan, seperti keterbatasan infrastruktur pelabuhan, pendangkalan alur pelayaran, kemacetan jalur angkut, hingga pembatasan operasional di sejumlah wilayah seperti Sumatera dan Kalimantan. Kondisi tersebut dinilai berdampak langsung terhadap kelancaran rantai pasok serta meningkatkan biaya logistik secara signifikan.

“Di beberapa wilayah, kendala seperti pendangkalan pelabuhan dapat meningkatkan biaya logistik hingga tiga kali lipat. Ini tentu menjadi perhatian serius bagi industri,” jelasnya.

Tulus juga menyoroti perubahan tren pasar, di mana permintaan ekspor batubara mulai menurun, sementara kebutuhan domestik justru meningkat. Hal ini menunjukkan pentingnya penguatan jalur distribusi dalam negeri serta optimalisasi peran pelabuhan sebagai simpul utama rantai pasok energi.

Sebagai solusi, ia mendorong adanya fleksibilitas dalam penggunaan fasilitas pelabuhan, peningkatan dukungan terhadap proses blending batubara, serta kepastian regulasi yang dapat memberikan efisiensi biaya dan waktu. Selain itu, integrasi antar pemangku kepentingan dinilai menjadi kunci dalam menciptakan sistem logistik yang lebih kompetitif.

“Harapan kami, biaya logistik dapat dikelola secara lebih efektif dan kompetitif, sehingga industri batubara Indonesia mampu bersaing di pasar global,” ujarnya.

Sementara itu, ABUPI sebagai penyelenggara terus berkomitmen mendorong kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha guna meningkatkan efisiensi sektor kepelabuhanan. Organisasi ini juga aktif mengawal isu strategis, termasuk penyederhanaan perizinan dan peningkatan daya saing pelabuhan nasional.

Seminar ini menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antar pemangku kepentingan, sekaligus mendorong transformasi pelabuhan sebagai tulang punggung logistik nasional dan penggerak ekonomi maritim Indonesia.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *